After Death

After Death
Bagian 22 : Kalung Teleportasi



 Baik Prameswari maupun Kharon


terpental ke sebuah rerumputan dingin berwarna hijau lumut gelap. Shaman masih


siang sementara Cato telah gelap. Pram menyadari bahwa ia tengah kembali ke


Cato karena melihat Dante tergeletak beberapa meter darinya berbaring. Begitu


juga dengan Kharon yang juga terpental beberapa meter darinya.


            Pram menjerit begitu melihat Dante bersimbah darah dengan tangan dan kaki yang tinggal belulang. Pram menangis meski paham betul jika Dante mati pun dia tetap bisa menemuinya besok. Tapi Pram menangisi semua rasa sakit yang mungkin sedang ditahan Dante.


            “Mengapa Kau harus melakukan semua ini? Kau bilang Kau tak mencintaiku. Mengapa Kau berkorban demi aku yang bahkan tak bisa membuat jantungmu berdetak kencang!” Pram menangis sambil memarahi Dante. Saat masuk ke dalam pusaran angin tadi, Pram mendengar Dante berteriak


memanggil namanya, dalam ruang tanpa dimensi tersebut, Pram mendapat


penglihatan tentang Dante yang menahan sakit dan menyayat lapis demi lapis


dagingnya untuk memberi makan ikan Orakel. Awalnya Pram yakin bahwa itu hanya halusinasi, tapi begitu melihat danau Orakel sama persis dengan penampakan


Danau yang ada di penglihatan Prameswari, iya yakin, pengliatan-penglihatan yang ia alami tadi juga merupakan kenyataan.


            “Pram… Maaf. Seharusnya aku


membolehkanmu menginap di tempatku.”


            “Apakah Kau melakukan semua ini hanya karena rasa bersalahmu itu? Dasar Bod*h! Kau tak harus melakukan hal


sejauh ini jika hanya karena merasa bersalah!”


            “Tidak. Bukan begitu. Aku memiliki


cita-cita, untuk bisa mencintaimu. Kurasa, aku akan sangat bahagia jika bisa


jatuh cinta padamu. Kurasa, aku perlu melakukan banyak hal agar aku bisa


mencintaimu.”


            “Dasar Bod*h, bukan Kau yang malah mencintaiku, tapi justru aku mungkin yang akan semakin mencintaimu jika kau


            “Mohon maaf aku menyela, jadi


bagaimana ini? Apakah kalian hanya akan saling menangisi begitu saja?”


            Prameswari menoleh kea rah Kharon, Kharon benar. Dante harus segera mendapat pertolongan di Rumah Sakit.


            “Tidak! Jangan bawa aku ke rumah sakit. Aku harus mati sepenuhnya di sini. Nanti, masukkan tubuhku ke danau


Orakel. Jika saat ikan Orakel itu telah memangsaku sampai habis, besok kau bisa


menemuiku kembali dalam wujud utuh. Jika kita ke rumah sakit dengan kondisiku


yang seperti ini, aku yakin akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk


memulihkannya.”


            Prameswari berpikir sejenak. Ada


benarnya juga apa yang dikatakan Dante. Tapi, bukankah itu menyakitkan sekali membiarkan tubuh kita dicabik-cabik begitu ganasnya oleh ikan kanibal di danau Orakel.


            “Sudah, pokoknya turuti apa kataku. Besok kita bertemu lagi dan akan kuceritakan apa saja yang kuketahui yang perlu kau tahu. Sekarang lakukan perintahku dan kau kembalilah ke rumah sakit menggunakan Kalung Medalion itu. Itu adalah alat teleportasi antar dimensi. Kata Dewi Thalassa hanya ada satu kalung saja di seluruh alam semesta. Tapi yang kau bawa itu adalah duplikat dari yang asli. Dia memiliki fungsi yang sama tapi ia dapat


memakan banyak chakra jika terus digunakan. Gunakan seperlumu saja. Sekarang, lempar aku ke sungai.”


            Antara iya dan tidak, Pram mencoba memberanikan diri menitih Dante yang semakin lemas. Membawanya ke bibir danau dan bertanya untuk yang terakhir kalinya.


            “Dante, apa Kau benar-benar yakin?”


            “Ya. Lakukanlah.”


            Pram melempar tubuh lemas Dante ke danau Orakel yang penuh dengan ikan kanibal. Sekilas ia melihat ikan-ikan itu dengan lahap mencabik-cabik daging Dante, lalu matanya buru-buru dibekap oleh Kharon. Kharon memeluk Prameswari yang tak tega membayangkan tubuh Dante digerogoti ikan dalam kondisi sadar.


            “Tenang… Tenang… Tenanglah…” Kharon mengeluarkan sebuah energy yang bertugas untuk menyerap aura dan perasaan negative


Prameswari. Kemudian ia mengalirkan sebuah energy positif yang terasa hangat di


dada Prameswari.