After Death

After Death
Bab 145: Sebuah Hantaran



Pram telah menutup rapat matanya. Bulan yang bersinar terang nganggur saja tidak dipandang. Gadis itu mungkin sudah lelah duduk dengan posisi yang sama dari pagi sampai petang. Maka saat malam telah larut dan sang raja telah pulang kembali ke tempat tinggalnya, Pram melampiaskan kelelahannya dengan membanting tubuhnya di atas ranjang dan sekejap saja telah terkapar, tanpa sempat berpamitan atau mengucapkan selamat malam pada Kharon.


Sementara itu, Kharon masih terjaga. Tidak seperti Pram, kedua matanya sangat sulit untuk terpejam. Entah bagaimana Kharon merasa seperti ada batu besar di antara kelopak matanya hingga sangat mustahil baginya untuk bisa tidur.


Kharon membuka daun jendela. Itu biasanya hal yang selalu dilakukan Pram, yang biasanya dilanjutkan dengan duduk memandang bulan dan berbual soal apapun. Kharon melakukan hal yang sama. Ia duduk dan kepalanya mendongak menghadap langit. Bedanya ia tidak melihat bulan, tapi lebih memilih untuk memandang bintang. Sesekali ia menoleh ke arah tempat tidur Pram dan memandangi gadis yang tertidur pulas itu lekat lekat.


Terkadang Kharon merasa kesal dengan dirinya sendiri sebab terlalu khawatir pada keselamatan Pram. Sedangkan gadis yang ia khawatirkan itu, terkadang atau lebih tepatnya seringkali melakukan hal hal yang mengabaikan keselamatannya, seperti tak pernah berpikir bahwa dirinya bisa saja celaka.


Kharon merenung dan mengingat semua masa sulit yang telah ia lalui bersama Pram. Memang, dari semua masa sulit itu, mereka kerap dapat melaluinya sebab keoptimisan Pram dan semua pikiran positifnya. Kharon pun tersenyum, menyadari bahwa dirinya dan Pram itu memiliki cukup banyak perbedaan. Tapi entah bagaimana, justru perbedaan itulah yang membuat mereka bisa bertahan hingga sekarang.


Jam telah menunjuk pukul 03.00, dini hari. Kharon masih belum juga bisa tidur. Ia telah mencoba tapi tetap tidak bisa. Ia bahkan telah berpindah-pindah tempat. Kadang ia berbaring di sofa, kadang di tempat tidurnya sendiri, lalu pindah lagi ke atas tikar yang tergelar di lantai, juga mencoba untuk duduk di antara rangka jendela yang terbuat dari kayu, yang menjadikan dinding seolah sengaja dilubangi kotak. Tapi ia sama sekali tak bisa terlelap.


Kharon pun duduk di atas kursi yang telah ia dekatkan ke samping kiri tempat tidur Pram. Lantas ia mengambil tangan kiri Pram untuk di dekap. Lelaki itu menumpangkan kepalanya di ranjang Pram. Membuat Pram terbangun.


"Apa kau tak bisa tidur, Ron?" tanya Pram sambil mengelus kepala Kharon dengan tangannya yang nganggur.


"Tidurlah lagi, aku pun sedang berusaha untuk bisa tidur. Jangan banyak bicara atau berusaha mengajakku untuk bangun saja. Aku sangay lelah dan ngantuk, tapi mataku seperti terganjal tak mau ditutup." jawab Kharon tanpa jeda juga tanpa mengangkat kepalanya.


"Sekarang sudah pukul tiga lebih dan kau masih tak bisa tidur?" kata Pram terkejut setelah melihat jam yang menempel di dinding. Tapi Kharon tetap membiarkan kepalanya tersender di atas ranjang.


"Ya, sudahlah jangan berisik! Aku sedang berjuang untuk tidur." jawab Kharon sambil mendekap erat tangan Pram.


Pram tak berkata apapun, tapi ia masih memandangi kepala Kharon. Ia tak habis pikir dengan lelaki di hadapannya itu. Jika yang lain berjuang untuk bangun, Kharon justru berjuang untuk tidur. Pram juga selalu heran, dalam keadaan mengantuk, Kharon bahkan bisa melontarkan kata kata sebegitu banyaknya. Ia sama sekali tak kehilangan semangatnya untuk mengomeliku, kata Pram dalam batin.


Pram tak menanyakan apapun. Termasuk soal penyebab apa yang membuat Kharon tak kunjung tidur hingga hari telah pagi. Karena Pram sudah tahu, khodamnya itu pasti sedang memikirkan dirinya yang hendak mempelajari jurus yang kata Kharon bisa jadi bumerang bagi siapa saja yang mempelajarinya.


Pram memiringkan tubuhnya ke arah Kharon. Perempuan itu lantas mengelus-elus kepala Kharon berharap akan membuat Kharon lebih cepat terlelap dengan nyenyak.


***


Hari telah pagi dan Kharon segera beranjak dari tidurnya ketika ia mendengar suara kokok ayam.


"Pram!" teriak Kharon sambil memandangi sekitar. Ia tidak menjumpai Pram di atas tempat tidur. Biasanya perempuan itu selalu ada di ranjangnya ketika Kharon bangun dari tidur.


Kharon semakin cemas sebab Pram tak ia temukan di teras, di setiap sudut ruangan, di kamar mandi, atau pun di belakang rumah. Ia curiga Pram telah keluar rumah untuk mempelajari jurus pemanggil roh dewi itu.


"Dasar bod*h!" Kharon memukul kepalanya sendiri sebab telah ceroboh sampai tak tahu kalau Pram telah meninggalkannya terlelap sendirian.


"Apa kau mencariku?" suara Pram mengagetkan Kharon yang berdiri membelakangi pintu.


"Pram, dari mana saja kau? Apa kau baik-baik saja? Aku hampir mati karena was was mencarimu." Kharon membalikkan badan dan langsung memeluk Pram.


"Apa kau menjadi tak waras karena semalaman tak tidur?" Pram balik mengajukan pertanyaan yang membuat Kharon melepaskan pelukannya.


"Maksudmu?" Kharon mengernyitkan dahi.


"Aku hanya keluar sebentar untuk memetik buah buah ini. Dan kau sudah bertanya seolah aku baru saja menghadapi maut." Pram berjalan meletakkan keranjang berisi berbagai macam buah di atas meja makan.


"Emm... Aku kira kau keluar untuk berlatih jurus pemanggil roh itu." kata Kharon lirih menahan malu.


"Apa kau kira aku akan pergi tanpa mengajakmu? Apa kau kira aku akan membiarkanmu tertidur pulas sementara aku berlatih dengan perut kosong? Ayolah, Ron. Aku bisa mati karena menahan lapar." Pram duduk di kursi makan dan meneguk air putih.


"Baiklah, aku akan memasak nasi goreng untukmu. Tunggu sebentar ya." Kharon berlalu ke dapur dengan senyum lega. Ia sungguh bahagia mendapati Pram kembali tanpa ada luka di tubuhnya.


Sementara Pram, ia sebenarnya sedang pening memikirkan rencananya untuk menjenguk Philemon. Itu sebabnya gaya bicaranya menjadi tak karuan. Ia bingung harus bagaimana mengatakan niatnya itu kepada Kharon. Sedangkan ia sangat khawatir kalau kalau Kharon akan keliru mengartikan niatnya itu. Ia tidak ingin Kharon salah paham dan mengira bahwa ia perhatian kepada Philemon.


Pram juga bingung saat sudah bertemu Philemon nanti harus bersikap bagaimana. Diam dan seperti tidak peduli atau kembali menjadi Pram yang apa adanya. Semua kebingungan itu kini membuat Pram memegangi kepalanya.


"Ini nasi gorengnya sudah siap tuan puteri yang manis." kata Kharon penuh semangat, membuyarkan lamunan Pram.


Kharon telah kembali membawa dua piring nasi goreng yang di atasnya terdapat sebuah telur mata sapi setengah matang. Nasi goreng itu juga dilengkapi  dengan acar mentimun dan taburan udang kering.


 


"Tanya saja." jawab Kharon sambil mengunyah nasi goreng buatannya sendiri.


"Kemarin paman Ramadhana mengatakan padaku kalau Philemon sedang sakit dan paman memintaku untuk datang ke rumah kalau ada waktu. Dan aku menjawab kalau aku akan mengajakmu menjenguk Philemon." Pram menghentikan ucapannya tanpa mengajukan pertanyaan.


"Lalu? Mana pertanyaan yang ingin kau tanyakan?" jawab Kharon masih sambil makan.


"Lalu bagaimana? Apa kita akan ke sana?" tanya Pram sambil memainkan nasi goreng dengan sendok dan garpu di tangannya, membuat nasi goreng di hadapannya acak-acakan.


 


"Tentu saja kita harus ke sana. Apa buah-buah ini kau pentik untuk tuan Philemon?" tanya Kharon kali ini sambil menatap wajah Pram dan mengambil sebuah apel merah dari keranjang. Membuat gadis itu semakin gugup.


"Iya, aku memetik buah buah ini sebagai hantaran. Apa kau tidak keberatan menjenguk Philemon?" Pram sungguh ragu mengajukan pertanyaan itu. Ia sampai mengeluarkan keringat dingin dan menelan ludah beberapa kali.


"Keberatan? Tentu saja tidak. Kita memang harus ke sana, memastikan tuan Philemon baik baik saja." Kharon mengembalikan apel merah ke keranjang lantas melanjutkan kembali sarapannya.


Pram tersenyum lega. Ia kemudian menyantap nasi goreng yang tadi ia mainkan. Pram sungguh senang karena Kharon tak marah. Wajah Kharon juga tidak tampak kesal.


"Em..., ini adalah nasi goreng ter, ter, terlezat." kata Pram lantang sambil mengangkat tinggi nasi goreng di sendoknya.


"Apa tidurmu berlebihan hingga kau jadi tak waras?" kata Kharon sambil menggelengkan kepala.


Pram tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lebar lantas menghampiri Kharon dan memeluknya. Membuat Kharon semakin khusyuk menggeleng-gelengkan kepala.


"Tapi tunggu." kata Kharon kemudian, membuat senyum di wajah Pram lenyap seketika.


"Duduklah dulu." lanjut Kharon yang seketika membuat Pram duduk di sampingnya.


"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu, Pram?" Kharon meletakkan sendok dan garpu di atas piring. Ia lantas meneguk teh serai.


Pram sangat cemas hingga membiarkan pertanyaan Kharon menguap tanpa jawaban. Ia hanya menunggu ucapan Kharon berikutnya. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.


Kharon memegang kedua tangan Pram dan menatap gadis itu lekat lekat. Membuat Pram semakin gelisah.


"Aku mohon, nanti saat bertemu tuan Philemon, jagalah sikapmu agar tidak kasar padanya. Dia terlalu baik untuk diperlakukan sekasar perlakuanmu dulu."


"Tapi...."


"Aku mohon, bersikaplah seperti biasanya. Jadilah Pram yang ramah dan penyayang, seperti biasanya. Aku tidak apa apa. Melihatmu menjadi kasar begitu untuk menjaga perasaanku justru membuatku merasa semakin bersalah. Maafkan aku Pram karena sudah bersikap seperti kanak kanak." Kharon berkata lirih sambil merapikan rambut Pram yang menyembul ke wajah. Ia berkata demikian sebab ia yakin Pram telah mengetahui apa yang selama ini ia pendam.


Pram tidak berkata apapun. Ia hanya memeluk erat Kharon sambil menangis. Pram sungguh terharu mendengar permintaan dari kekasihnya itu. Ia tak mengira bahwa hati Kharon ternyata jauh lebih lapang dari apa yang ia kira.


"Berhentilah menangis atau kau akan membuat tuan Philemon semakin sakit karena melihat wajahmu yang jelek." kata Kharon sambil mengelus kepala Pram yang masih belum melepaskan pelukannya.


"Kita akan membuat mereka mengerti pada hubungan kita dengan cara yang lebih baik." lanjut Kharon sambil memegang kedua pundak Pram, lantas membantu perempuan itu membersihkan mukanya dari air mata.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo readers... Numpang promosi ya... Saya lagi rilis novel baru, genre Adult Romance (hehe lagi nantang diri sendiri buat nulis di genre ini, setelah sebelumnya nantangin diri buat nulis di genre Kependekaran).


Judul novel baru saya: Menikah Karena Taruhan (dari judulnya saja sudah klise ya hehe)


Ini novel mau saya ikutkan ke lomba You are Writer 3 dari Noveltoon. Pengennya After Death yg maju tapi After Death sudah kontrak, Pendekar Pedang Naga juga sudah kontrak, jadi musti bikin novel baru buat ikut lomba.


Mohon kakak2 kalau ga keberatan bisa mampir ya, buat sekadar naruh like atau komen hehe... Makasih sebelumnya....