
Mata Pram yang tiba-tiba terbuka membuat mata Kharon hampir keluar. Perasaannya bercampur aduk. Ia baru ingat bahwa batinnya dan Pram saling terkait, dulu hanya dia yang bisa membaca pikiran Pram, tapi kini sensitivitas Pram meningkat. Dan jika sedang apes Kharon lupa menutup salah satu pintu ghaib dari tubuhnya, dengan leluasa pula Pram dapat menjelajahi pikiran Kharon.
"Mengapa kau membuatku kaget?" ucap Kharon agak ketus mencoba menutupi rasa malunya.
Tidak seperti biasanya, kali ini Pram hanya tersenyum tanpa menimpali atau menggoda khodamnya itu. Sebenarnya berulang kali Prameswari meminta Kharon untuk menjadi siluman bebas tanpa memiliki Tuan, tetapi Kharon selalu memaksa untuk menjadi Khodam dari Prameswari. Apa daya, Pram akhirnya menerima Kharon sebagai Khodamnya, tentu aneh rasanya memiliki khodam dalam wujud pria yang terlalu tampan untuk disebut sebagai, peliharaan. Oleh sebab itu, meski hubungan Kharon dengannya adalah hubungan antara Tuan dan Khodam, Pram tetap menganggap Kharon layaknya makhluk bebas, bahkan sesekali, Pram sempat memiliki pikiran ngawur tentang siluman tampan itu.
Melihat Pram yang tersenyum dalam diam, hal itu membuat Kharon semakin gugup. Beberapa kali ia berusaha menghindari tatapan Pram yang kini duduk di depannya.
"Pram, katakan sesuatu. Jangan membuatku gugup." Kharon ingin menutupi kegugupannya, justru mulutnya dengan jelas mengatakannya. Diadem Naga Perak itu kadang-kadang memang merepotkan.
"Duduklah Kharon." Pram menarik tangan Kharon yang masih berdiri kikuk.
Perlahan Kharon mulai duduk. Ia masih terus membuang mukanya untuk menghindari tatapan Pram.
"Berhentilah mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja selama kau ada di sampingku." kata Pram lirih memeluk Kharon membuat siluman harimau putih itu semakin kikuk namun senang. Energi yang dipancarkan Pram terasa sangat hangat dan membuatnya menjadi lebih tenang.
Sejujurnya Pram merasa tersentuh atas semua kecemasan Kharon. Ia dapat merasakan tubuh Kharon kerap bergetar karena terlalu cemas akan keselamatannya.
"Pram, aku tadi bertemu dengan Eliztanu, sahabat lamaku yang tinggal di hutan ini."
Pram memang tidak dapat melihat peri hutan, meski ia merasakan kekuatan magis yang sangat besar di hutan Bialoweiza. Itu karena Pram memiliki darah manusia. Manusia memang tak mampu melihat peri hutan agar keberadaan peri penjaga itu tetap aman. Bahkan seorang indigo berilmu tinggi pun hanya mampu merasakan keberadaan mereka tanpa mampu melihat sosoknya.
"Dia seorang peri yang menjaga hutan ini. Itu sebabnya kau mungkin merasa ada kekuatan magis yang melingkupi hutan ini."
"Berarti dia cantik. Kalau menurut dongeng di Bumi, seorang peri itu selalu cantik dan baik." Pram juga tidak mengerti mengapa ia mengulangi kebod*hannya melontarkan ucapan yang tak perlu itu.
"Peri tidak memiliki jenis kelamin seperti manusia, Pram. Wujud mereka pun sedikit berbeda. Kalau soal baik, dia adalah sahabat terbaik keduaku setelah tuanku terdahulu. Kami tidak sengaja bertemu saat tuanku dulu mengunjungi hutan ini."
Pram merasa sedikit lega mendengar perkataan Kharon.
"Dia menyuruhku untuk mengajarimu beberapa ilmu yang aku miliki untuk penjagaanmu."
Kini Pram mulai fokus dengan pembicaraan itu tanpa menghiraukan rasa aneh yang muncul sejak kemarin.
"Lalu?"
"Aku tidak keberatan, sama sekali tidak. Aku hanya tidak yakin bisa menjadi guru yang baik untukmu. Tuanku terdahulu mengajarkan banyak hal padaku dengan sangat baik. Tapi sebagai khodammu, aku takut sikapku yang arogan dan kasar akan melukaimu saat kita berproses nanti."
"Ayolah Kharon, toh kau kasar bukan untuk yang pertama kali. Kau bahkan tak mampu bernapas tanpa kekasaran." Pram terbahak atas gurauannya.
"Baiklah. Setelah sarapan nanti, aku akan mengajarimu ilmu ilusi."