
Siang ini di Pulau Amsleng Sufir Matdrakab, Pram, Kharon, Philemon, dan Raja Ramadhana makan siang bersama di bawah pohon besar yang bentuknya mirip pohon beringin, namun dengan warna biru berkilauan. Pohon ajaib yang terlampau indah sampai tidak ada kata-kata yang mewakilinya itu berada tepat di tengah-tengah pulau.
Ada banyak burung merpati yang turut dalam makan siang itu karena Raja Ramadhana membagikan sekantung besar biji jagung. Kepakan sayap burung-burung itu membuat Pram tidak berhenti tersenyum. Bahkan Pram merasa perlu untuk turut terbang, berlagak sebagai seorang burung.
Kharon memandangi gadis kesayangannya itu tanpa berkedip. Ia tersenyum melihat tingkah Pram yang sangat natural itu. Tapi bukan ia satu-satunya lelaki yang sedang mengagumi perempuan itu. Tepat di hadapannya, Philemon juga tengah tersenyum-senyum melihat tingkah polah Pram. Kharon melihat dengan jelas apa yang ada dalam pikiran Philemon.
Ia sungguh tidak senang melihat lelaki itu mengagumi Pram. Tapi lagi-lagi kebaikan Philemonlah yang membuatnya tidak pernah tega untuk berterus terang soal hubungannya dengan Pram. Dan sialnya, ia tidak pernah punya kesempatan untuk menceritakan itu karena Philemon tak pernah bertanya. Padahal ia sungguh berharap Philemon menanyakan soal perasaan khodam itu pada Pram. Dengan begitu pasti ia akan menjawab dengan jujur dan tentu akan menyinggung soal hubungan mereka. Sejauh ini Kharon menilai cara yang demikian lebih berperasaan daripada secara tiba-tiba ia bercerita pada Philemon bahwa Pram adalah kekasihnya.
Sedangkan Pram, gadis itu mengira bahwa sang raja dan Philemon telah tahu semuanya. Itu sebabnya ia tidak pernah canggung untuk menunjukkan kemesraan di depan keduanya. Tapi sungguh sayang karena Pram tidak pernah berkata langsung soal hubungan keduanya.
“Ron, aku punya hadiah untukmu. Cobalah.” kata Raja Ramadhana menyodorkan sekaleng sarden tuna kepada Kharon, membuat lamunan siluman harimau putih itu buyar.
“Bagaimana? Ini adalah tuna terbaik. Ada beberapa kaleng yang masih tersimpan di lemari es. Ini adalah buatan Tri Laksmini. Dan sampai kapanpun tidak akan pernah basi. Terjaga rasanya karena dibuat dengan penuh cinta kasih.” kata sang raja sambil memandangi kaleng berbentuk tabung yang ada di tangan kanannya.
“Sedap, paduka. Ini adalah olahan ikan paling enak yang pernah saya makan.” puji Kharon membuat sang raja tersenyum lebar.
“Heeem, aku selalu heran, bagaimana mungkin seorang monster bisa lahir dari rahim perempuan sebaik dan sesempurna Tri Laksmini.” pandangan Raja Ramadhana tampak kosong, memandang entah.
“Ayah.” kata Philemon mencoba menghentikan bayangan ayahnya menyoal kakaknya, Bemius.
“Oh, maaf, maaf. Tidak seharusnya aku merusak suasana dengan mengingat Bemius.” sang raja tersenyum dan menutup kaleng sarden di tangannya. Kharon bisa melihat kaca di mata sang raja, meski telah disembunyikan.
“Tidak apa paduka. Walau bagaimanapun, seorang ayah tidak akan pernah bisa lupa pada anaknya. Mau seperti apapun sang anak.” Kharon mencoba membuat sang raja tidak sungkan.
“Lihatlah, gadis itu memang tidak punya malu.” Raja Ramadhana mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Hahahaha, dia memang konyol, ayah. Juga manis.” kata Philemon memuji Pram. Lelaki itu memang sedang benar-benar kasmaran. Apalagi Pram adalah cinta pertama Philemon.
Ya, Philemon memang belum pernah jatuh cinta. Hal itu karena semasa kecil hingga remaja, ia hanya berinteraksi dengan ibu dan para dayang, tidak ada perempuan selain itu. Lantas, setelahnya ia telah dibuat repot oleh Bemius. Tidak sempat untuk jatuh cinta, sebab selalu memikirkan nyawanya yang berulangkali hampir melayang.
Kini, bagi Philemon, Pram adalah segalanya. Gadis itu menjadi sumber kebahagiaan terbesar untuknya dan juga sang ayah. Melihat Pram merupakan hal terindah baginya. Dan tentu menjadi pasangan hidup Pram adalah keinginan dan harapan terbesarnya.
Sialnya, Kharon bisa membaca itu semua. Dan khodam Prameswari itu tidak bisa begitu saja mengabaikannya, atau bertindak seenaknya tanpa memedulikan perasaan Philemon. Ia sungguh kesal pada dirinya sendiri yang memberi kesempatan bagi lelaki lain untuk mendekati kekasihnya. Tapi, entahlah. Kharon terkadang tidak memiliki kata-kata yang bisa mewakili perasaannya. Ia sungguh membenci situasi semacam itu.
Dan kini Kharon semakin kesal sebab Philemon membawa sekantung jagung untuk diberikan kepada burung-burung merpati, bersama-sama dengan Pram. Ya, lelaki yang sering membuat Kharon marah dan kesal itu turut terbang mengikuti Pram.
Sebagai seorang kekasih harusnya ia kini beranjak dan menempel pada Pram, tidak memberi kesempatan pada Philemon untuk dekat-dekat dengan kekasihnya. Tapi Kharon, yang ia lakukan justru lain. Dalam batin, sebetulnya ia ingin mengajak Pram pergi saja dari situ dan bergurau berdua di tempat lain. Namun, yang dilakukan Kharon kini adalah duduk tertunduk menyimpan dongkol.
“Ron, apa menurutmu Pram akan senang jika aku memberinya hadiah?” kata sang raja membuat Kharon dengan sangat berat mengangkat kepala.
“Tentu paduka. Gadis itu sangat suka diberi hadiah oleh siapapun.” Kharon tak menyadari nada suaranya yang terdengar ketus.
“Apa kau sedang sakit, Ron?” tanya sang raja keheranan, sebab selama ini Kharon tidak pernah bersikap demikian padanya.
“Oh, tidak paduka. Maafkan hamba jika berkata kurang sopan.” kata Kharon lirih sambil menundukkan kepala. Ia sungguh tidak enak hati atas ucapannya yang kurang sopan itu.
“Tidak, tidak masalah. Kau selalu sopan. Hanya saja sepertinya kau tidak terlihat seperti biasanya. Kau terlihat sedikit murung. Apa ada sesuatu yang mengganggumu.”
Kharon tersenyum saja.
“Jika kau ingin menceritakan sesuatu, aku akan sangat senang mendengarnya.” Raja Ramadhana mencoba memancing Kharon untuk bercerita.
“Oh, jadi kau cemas memikirkan Pram. Haaah, gadis itu, ia selalu saja tampak bahagia. Membuat orang yang melihatnya turut bahagia. Aku mungkin telah terlalu banyak berharap Ron, tapi aku akan sangat bahagia jika tuan puterimu itu menjadi istri Philemon.” sang raja tersenyum dengan tatapan penuh harap.
Kharon terbatuk-batuk. Omongan Raja Ramadhana seperti duri ikan yang tertelan di tenggorokan, membuat tenggorokan itu sakit sampai terbatuk.
“Apa kau baik-baik saja?” Raja Ramadhana terlihat cemas.
“Mungkin hamba membutuhkan waktu untuk istirahat sejenak, paduka. Semalam hamba terus terjaga sampai pagi.” suara Kharon sangat lirih dan tak bersemangat. Mendengar perkataan Raja Ramadhana membuatnya tak bisa melanjutkan cerita.
“Oh, cepatlah beristirahat kalau begitu. Apa aku perlu mengantarmu?” sang raja turut berdiri mengikuti Kharon yang berdiri sambil memegangi kepala.
“Tidak raja, tidak perlu. Hamba masih kuat berjalan sendiri.” Kharon berlalu, berjalan menuju tempat tinggalnya.
***
Saat Pram menunduk dan menyadari bahwa Kharon tak ada bersama Raja Ramadhana, ia langsung mendarat dengan cepat, diikuti Philemon yang terihat kebingungan.
“Paman, Kharon dimana?” Pram sedikit celingukan mencari Kharon.
“Oh, dia pergi untuk beristirahat.”
“Istirahat?” Pram mengerutkan dahi, membuat kedua alis tipisnya menyatu.
“Ya, sepertinya dia sedang tidak sehat. Dia bilang dia tak tidur semalaman. Apa itu benar?”
“Dia bicara begitu?” Pram terkejut. Ia tak habis pikir, Kharon menceritakan perihal dirinya yang tak tidur semalaman. Itu sama artinya dengan memancing diri untuk bercerita soal ciuman dan obrolan pribadi.
“Ya. Memangnya mengapa Kharon tidak tidur semalam? Apa dia sedang ada masalah, Pram?”
“Dia memang terkadang seperti orang sinting, paman. Aku akan melihatnya dulu. Paman dan Phil lanjutkan saja makan siangnya.” Pram bersyukur Kharon pergi meninggalkan mereka dan memilih untuk beristirahat di rumah. Kalau tidak, tentu Pram akan sangat malu sebab Kharon pasti akan menceritakan semua yang terjadi tadi malam, jika sang raja menanyakannya.
Pram kemudian berlalu, meninggalkan sang raja dan putranya. Pram berjalan dengan sangat terburu-buru. Hatinya sangat panas dipenuhi hasrat untuk mengomeli Kharon. Juga sangat cemas memikirkan apa yang terjadi pada khodamnya. Kharon tidak mungkin berbohong soal kesehatannya, benak Pram.
“Apa yang terjadi ayah?” Philemon datang dengan wajah cemas pula.
“Entahlah. Mungkin Kharon sedikit kelelahan.” jelas Raja Ramadhana singkat.
“Ya, dia menjaga Pram dengan sangat baik. Siang dan malam. Pram sering bercerita soal Kharon yang sering kesulitan untuk tidur hanya gara-gara memikirkan keselamatan Pram. Sepertinya, kakak telah benar-benar menyusahkan mereka selama ini.”
“Heeeem, dia memang lelaki yang mulia hatinya. Phil, aku berencana memberikan hadiah untuk Pram. Bagaimana menurutmu?” Raja Ramadhana sengaja mengalihkan pembicaraan sebab terlalu sakit rasanya tadi ketika mengingat putra pertamanya, Bemius.
“Hadiah, hadiah apa ayah?” tanya Philemon dengan senyum sumringah seolah seperti ia yang akan menerima hadiah itu.
“Sebuah pusaka. Dia sudah berlatih sangat keras. Ayah harap, pusaka itu bisa mematik semangatnya untuk semakin semangat dalam berlatih.”
“Pusaka?”
“Ya, itu sebuah pusaka yang istimewa. Pemberian ayah untuk ibumu. Tapi dia tidak pernah menggunakannya karena memang belum diperlukan. Aku tidak memberikan pusaka itu padamu sebab pusaka tersebut dibuat untuk perempuan. Bila digunakan oleh lelaki, maka kesaktiannya akan hilang."