After Death

After Death
Bagian 42: Pesan Dewi Thalassa



Setelah melewatkan pagi hingga sore dengan terduduk saja, membuat Pram kelaparan. Meski masih terkejut dengan pengakuan Kharon yang melihatnya di Gerbang Impian, Pram memutuskan untuk berburu dengan tetap membiarkan Dante tertidur.


"Aku akan membangunkanmu saat sudah ada daging yang bisa kau makan." ucap Pram lirih lantas pergi bersama Kharon.


Beberapa saat kemudian mereka telah kembali dengan membawa dua ekor rusa merah. Pram sengaja memanah dua ekor rusa karena telah melewatkan makan siangnya. Lagipula sepulang dari perjalanan alam bawah sadarnya, ia merasa sangat lapar sampai-sampai tak bisa bersuara lantang.


"Bangunlah Dante. Ayo kita makan. Kau pasti sangat lapar." Pram menepuk pelan pipi Dante.


Karena Dante tak kunjung membuka mata, Kharon membangunkannya dengan menggunakan ilmu ilusi. Ia yakin, skenario mempertemukan Dante dengan genderuwo akan lekas membuatnya bangun.


Benar saja. Dante langsung terduduk setelah sebelumnya menjerit keras.


Melihat Kharon menahan tawa, Pram langsung curiga. Pasti Kharon yang membuat Dante terperajat, benaknya.


Setelah bangun dan sadar, Dante memakan rusa merah yang diberikan Pram.


"Bagaimana mungkin kau menemukan pizza di hutan belantara seperti ini, Pram." Dante berkata sambil mengunyah dengan lahap daging bakar pemberian Pram.


Pram dan Kharon saling menoleh dan tersenyum.


"Bagus, Pram." puji Kharon dalam batin semakin membuat senyum Pram melebar.


"Makanlah hingga kau kenyang. Setelah itu, aku mau menunjukkan padamu ilmu ilusi yang telah aku kuasai."


Dante mengangguk dan melanjutkan makan siangnya yang teramat molor.


Setelah makan, Dante kembali merebahkan tubuhnya, membuat Kharon sedikit geram.


"Bisakah aku tetap berbaring selama kau mencoba menerapkan ilmumu padaku? Entahlah, aku merasa tidak sehat. Badanku terasa lemas sejak tadi siang. Aku kira karena lapar. Tapi setelah kenyang menghabiskan banyak pizza pun aku merasa sangat lemas." kata Dante lirih.


Pram mengangguk. Ia lantas bersiap untuk membuat Dante berhalusinasi.


"O iya, katakan padaku kau ingin berhalusinasi tentang apa, Dante?"


"Buatlah aku merasakan seperti apa rasanya menjadi pria dewasa yang sedang jatuh cinta." jawab Dante tanpa membuka matanya. Rasa lemas yang ia alami bahkan membuat matanya ingin tertutup terus.


Pram tersenyum lantas membuat skenario yang indah untuk petugas kematian dari Anastasia Cato itu.


Sepanjang berhalusinasi, wajah Dante tampak sangat bahagia. Bahkan sesekali ia tebahak dalam lamunannya.


Kharon tersenyum lega mendapati murid barunya telah mampu menguasai ilmu ilusi dengan sangat baik di hari pertamanya belajar. Itu membuatnya optimis bahwa Pram tidak akan mengalami kesulitan berarti selama proses pembelajaran.


 ***


Menjelang tengah malam, saat Dante dan Pram sedang tertidur nyenyak, Kharon menerima pesan dari Eliztanu melalui sebuah akar pohon hornbeam raksasa yang akar-akarnya hampir menjalar keseluruh hutan. Akar-akar tersebut memang kerap digunakan para peri yang berjauhan karena wilayah kerja yang berbeda untuk berinteraksi, semacam jaringan internet.


Eliztanu meminta Kharon untuk menemuinya di bawah pohon tersebut. Kharon pun bergegas. Namun setelah beberapa langkah, ia kembali. Kharon merasa perlu untuk mengajak Pram. Meski Pram tak bisa melihat peri, ia ingin Pram merasakan kehadiran sahabatnya itu.


"Bangunlah Pram. Eliztanu sedang menunggu kita." ucap Kharon sambil menggoyangkan lengan Pram.


Mendengar nama Eliztanu, Pram langsung terjaga. Ia mengekor pada Kharon sambil mengusap-usap matanya agar lebih terang.


"Apa Dante akan baik-baik saja jika kita meninggalkannya sendirian?" tanya Pram yang sebetulnya tak tega membiarkan Dante yang sedang sakit seorang diri.


"Sebelum membangunkanmu, aku telah membuat garis pelindung untuk Dante. Walau bagaimanapun, ada banyak binatang buas di sini yang mungkin saja menyerangnya."


"Bagaimana jika Dante terbangun dan mencariku, lalu keluar dari garis itu?"


"Dante tidak akan ke mana-mana dan tak akan pernah bisa ke mana-mana melewati garis itu." Kharon agak kesal karena Pram tampak terlalu mengkhawatirkan Dante.


Kharon berhenti di sebuah pohon raksasa. Pram duduk di sebalah Kharon yang kini bersila dan tersenyum. Ia merasakan ada kekuatan besar di hadapannya. Merasakan keberadaan entah apa.


"Apa kau tak keberatan jika aku mengajak anak ini?"


Pram tidak melihat apapun. Kodamnya itu berbicara sendiri seperti orang tak waras. Tapi ia cemberut mendengar Kharon mengatakan 'anak ini' sebagai pengganti dirinya.


"Astaga, baginya aku hanya seorang anak-anak?" kata Pram dalam hati.


"Terima kasih. Lalu bagaimana tanggapan Thalassa?"


Pram masih ingat bahwa itu adalah nama dewi penunggu Lembah Namea di Cato.


Belum sempat Eliztanu menyampaikan pesan balasan dari Thalassa, hutan bergetar seperti sedang gempa.