After Death

After Death
Bab 15 : Jimat Pemberian Gelandangan



 Prameswari bergegas menuju taman dan


ingin segera bertemu Dante. Ia takut diterkam makhluk halus lain. Ia takut


kakinya mendadak diseret setan yang merangkak di tanah. Ia takut dirinya dibawa


terbang oleh setan yang bisa terbang. Ia berlari dengan dipenuhi rasa takut.


            “Hai, Pram, mengapa Kau terengah-engah?”


            “Aku melihat hantu.”


            “Haha… Itu merupakan bagian dari wujud kesialanmu Kau tahu. Lain kali, berusahalah untuk tidak takut pada mereka.


Mereka itu hanya halusinasi yang diciptakan untuk memunculkan rasa takut dan trauma bagi manusia yang penuh kesialan sepertimu.”


            “Tidak, Dante. Itu bukan halusinasi. Itu nyata dan dia ingin menculikku.”


            “Ya… Ya… Anggap saja itu nyata. Tapi besok-besok usahakan tak setegang hari ini ya jika kau bertemu mereka lagi. Lagi pula Setan tak bisa masuk ke negeri ini, tenanglah…”


            Pram diam mematung, menggerayangi saku celananya yang berisi jimat pemberian gelandangan tadi. Jimat itu masih ada, bahkan di badan Pram masih menempel beberapa helai bulu Genderuwo. Ia bergidik dan lekas membersihkan tubuhnya dari bulu-bulu itu. Artinya, ia tak sedang berhalusinasi. Tapi Dante kukuh pada pendapatnya bahwa setan tidak bisa masuk ke negeri Cato.


            “Dante, apakah Kau tahu apa itu


Lucid Dream?”


            “Hem… Ya, aku pernah mendengarnya. Itu semacam kau merasa terjaga di alam mimpi. Atau sejenis, kau sadar saat kau sedang bermimpi, sadar bahwa itu hanya mimpi.”


            “Oh… Ya… Aku ingat sekarang. Aku sering mengalaminya waktu di Bumi. Kukira aku depresi karena selalu bermimpi


diburu oleh berbagai makhluk mengerikan, lalu, sebelum aku benar-benar diterkam


oleh makhluk-makhluk itu, ada suara yang meneriakiku, menyuruhku untuk mencubit


lengan, atau membenturkan kepalaku ke mana saja, atau menggigit lidah, agar aku


bangun. Anehnya, suara itu adalah suaraku sendiri. Aku seperti ada dua.”


            “Ceritamu panjang sekali. Aku mengantuk mendengarnya.” Pram menguap sambil pandangannya lurus ke depan.


            “Dante, bolehkah Kau tidur di kamarku di Camp Pasca Kematian? Sepertinya aku merasa tak enak badan.”


            Dante nampak berpikir sejenak.


            “Well, sebenarnya boleh-boleh saja karena aku petugas. Tapi


sepertinya malam ini aku harus menyelesaikan banyak laporan. Ya, aku memang cuti lumayan lama, tapi ternyata aku dibebani dengan laporan yang menggunung. Aneh memang, awalnya aku menerima banyak data manusia-manusia yang akan segera mati, tapi belakangan data itu berubah.”


            Mendengar hal tersebut Prameswari merasa sedikit kecewa. Ia


takut membayangkan ada setan bersembunyi di kolong tempat tidurnya, ia takut akan dibekap genderuwo lagi. Ia takut ada kuntilanak mengintainya dari sudut


ruangan. Ia juga takut ada pocong yang dengan tiba-tiba rebahan di sampingnya


saat ia tidur.


            “Kalau begitu, apakah aku boleh menginap semalam saja di tempatmu?” Prameswari memohon setengah merengek. Dia terbiasa menjadi gadis


yang tegas dan tegar, tapi malam ini ia benar-benar masih trauma dengan


penangkapannya oleh Genderuwo yang tangannya bisa lentur memanjang dan


berbulu-bulu itu.


            “Maaf, Pram, tapi sepertinya aku akan sangat sibuk. Aku takut mengganggu istirahatmu. Ayolah, Kau tak biasanya manja begini. Kenapa? Takut ada setan lagi? Sudah kubilang tak ada setan di sini, tenanglah.”


            Beraneka rengekan Prameswari tak mempan untuk membuat Dante menemaninya. Prameswari pun pulang ke Camp Pasca Kematian dengan hati


berdebar-debar.