
Setelah Danau Orakel dilewati Pram dan Kharon, tubuh mereka menyatu kembali. Namun, Pram meminta Kharon untuk berhenti sejenak di kursi putih panjang di taman kota yang biasa ia singgahi bersama Dante.
Waktu itu taman terlihat ramai. Ada banyak pengunjung yang menghabiskan waktu bersama dengan duduk-duduk di bawah pohon. Pram pun tampak duduk sendiri di kursi panjang itu.
"Kharon, aku belum tahu cara berteleportasi dari Anastasia ke Bumi. Bagaimana cara kita bisa pergi ke India?"
"Sebetulnya aku bisa melakukannya, Pram. Tapi kita tidak bisa langsung mendarat di tempat yang kita inginkan. Sama seperti makhluk lain dari Shaman yang masuk ke sini, mereka semua akan pergi ke gerbang masuk negeri Shaman terlebih dahulu sebelum akhirnya berteleportasi ke Anastasia. Jadi, masing-masing dimensi memiliki gerbang masuk sendiri-sendiri. Namun, karena Shaman dan Bumi berada pada letak yang sama, kami para penduduk Shaman dapat dengan leluasa masuk ke Bumi. Sedangkan penduduk Bumi, bisa ke Shaman karena memang mereka memiliki kemampuan atau bisa juga karena tak sengaja ataupun karena dibawa oleh penduduk Shaman."
"O, jadi begitu. Lalu nanti kita akan mendarat di Bumi atau di Shaman?"
"Gerbang masuk dan keluar dari Anastasia ke Bumi dan ke Shaman adalah sama."
"Ooo, kalau begitu di Bumi bagian mana kita akan mendarat nanti?"
"Ada dua gerbang. Kita bisa mendarat di Hutan Aokigahara di Jepang atau Makam Les Catacombes di Paris, Prancis."
"Kalau begitu kita ke Jepang saja. Lebih dekat."
"Baiklah. Ayo kita berangkat sekarang." Kharon hendak membuat tubuh Pram berdiri, tapi tak bisa karena Pram masih menahannya.
"Kharon duduklah sebentar lagi."
Kharon diam dan menuruti kata Pram. Ia melihat ada hal penting yang ingin disampaikan Pram.
"Apa yang membuatmu risau saat di kediaman Dewi Thalassa tadi? Bukankah harusnya kau senang dan lega sudah mengetahui letak buku "Anak Purnama Ketujuh"? Mengapa kau justru terlihat gelisah?"
Pram tak marah. Ia benar-benar percaya pada khodamnya itu.
"Ada lagi yang ingin kau katakan?"
"Kharon, bisakah kita melihat Dante sebelum pergi ke India."
Kharon terperanjat. Orang yang membuatnya selalu was-was dan tak nyaman disebut Pram.
"Dia sangat mengkhawatirkanku saat aku tak kunjung bangun. Dia bahkan memotong tubuhnya sendiri agar bisa menyeberangi Danau Orakel dan mengetahui cara untuk membuatku bangun. Sedangkan aku, sejak dia sakit, aku belum menemuinya."
Kharon mengerti perasaan Pram sebab yang tampak oleh tuan puterinya memang seperti itu. Kharon tak berani mengatakan apapun soal kemungkinan keterlibatan Dante dalam kelompok Bemius karena tak memiliki cukup bukti. Maka, Kharon pun menuruti keinginan Pram untuk menjenguk Dante.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo semua.... Tak terasa novel ini sudah menginjak bab 60-an saya berterima kasih sekali pada readers sekalian yang masih setia menanti update dari novel After Death ini.
Sampai saat ini, novel After Death ini termasuk novel yang kurang begitu dikenal oleh banyak pembaca di Noveltoon/Mangatoon. Hehe... Ya mungkin karena memang kualitas ceritanya yang belum se keren novel-novel Fantasy lain.
Karena ini author juga terpacu untuk meningkatkan performa dari novel ini. Nanti, kalau novel ini sudah mencapai 500K popularity-nya, author mau bikin give away berhadiah Kaos After Death 😊
The last, terima kasih atas dukungannya 😊😊😊
Â