After Death

After Death
Bab 89: Mempelajari Buku Anak Purnama Ketujuh



Semakin lama keadaan Kharon semakin baik. Ia sudah mampu berjalan tanpa merasakan sakit. Perkataannya pun mulai kembali banyak, kasar, dan apa adanya. Pram tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Ia bersyukur karena Kharon masih bersamanya dan telah mampu melewati maut.


Selama Kharon fokus pada pemulihannya, Pram lebih banyak menenggelamkan diri pada buku Anak Purnama Ketujuh. Ia membaca dengan antusias lembar demi lembar daun lontar. Ya, buku itu memang ditulis di atas daun lontar. Oleh sebab itu, Pram selalu berhati-hati dalam membalik buku. Terkadang ia merasa gemas saat hendak terburu-buru melihat kembali halaman sebelumnya yang telah jauh ia tinggalkan guna mengingat sesuatu yang masih berkaitan dengan halaman yang baru ia baca.


Dan akhirnya buku itu ia tuntaskan selama dua hari dua malam. Selama Pram membaca buku itu, Kharon seringkali harus menahan lapar. Ia juga merasa tuan puterinya sedikit kurusan.


"Pram, bisakah aku mendapatkan sarapanku? Sekarang sudah siang dan belum ada apapun yang masuk mulutku." Kharon sengaja memelaskan nada bicaranya.


"Kau kan sudah bisa jalan. Belilah sendiri."


"Tapi aku belum pulih 100%, aku belum bisa berlari kalau  seandainya anak buah Bemius mengejarku. Jurus-jurusku juga belum bisa aku gunakan karena energiku yang masih terlalu lemah. Siapa yang akan susah kalau aku kembali babak belur, kau juga kan. Jadi, kau belilah makanan untukku."


"Aku pasti akan membelikanmu, tapi tunggulah sebentar lagi. Aku sudah sampai di akhir buku ini."


"Kau sudah mengatakan itu sejak tadi pagi."


"O, iya. Baiklah aku akan beli, tapi sebentar ya. Sebentar lagi. Nanggung ini."


Kurang lebih begitulah perdebatan yang selalu terjadi saat jam makan. Dan selalu berakhir dengan Kharon yang tergeletak lemas di atas lantai. Sedangkan Pram, ia sangat bernafsu untuk menuntaskan buku dengan segera.


"Sudah selesai."


Pram menutup buku itu dan melemparkan dirinya sendiri di sebelah Kharon.


"Haaaaaaah, membaca buku itu benar-benar membuatku lelah dan ngantuk sekarang. Nyaman sekali rasanya meletakkan punggung panas di lantai seperti ini." Pram meregangkan tubuhnya.


"Apa kau akan membiarkan aku mati kelaparan?"


Pram tersenyum menang.


"Akhirnya, kata-kata indahmu itu keluar juga. Baiklah, aku putuskan untuk menunda jam tidurku. Aku akan kembali segera. Aku mohon jangan mati dulu.


Pram beranjak. Ia bergegas meninggalkan Gyan Bhandar untuk mencari makan. Sementara Kharon telah berguling-guling memegangi perutnya.


Semenjak peristiwa penyerangan yang dilakukan mata-mata Bemius, Pram dan Kharon kerap menggunakan kata 'mati, maut, dan sejenisnya' sebagai lelucon.


"Buku si*lan! Keberadaanmu telah menjajah kebebasan perutku dari lapar." Kharon menggerutu sambil menatap buku di hadapannya.


"Aku kembali."


Pram kembali membawa tikka masala plus sebungkus nasi putih hangat, beberapa potong ayam tandoori, gulab jamun, pakora dan samosa. Sementara untuk minum, ia membeli nimbu pani, jal jeera, dan es krim khas India, yaitu kulfi.


Pram memborong semua makanan itu karena semenjak sakit porsi makan Kharon sangat meningkat. Ia bahkan seringkali harus rela membagi makanannya karena sang khodam merasa masih lapar.


Usai makan, Kharon terlihat lebih segar dan bersemangat. Dan Pram masih belum juga menghabiskan makanannya. Sepanjang makan, Pram merenungkan isi buku Anak Purnama Ketujuh. Terkadang satu hal saja tidak ia pahami, bisa membuatnya tak bisa tidur.


"Jadi Pram, setelah kau baca semuanya, apa simpulan yang kau dapatkan."


"Saat membaca buku ini aku juga membayangkan setiap instruksi yang tertera, itu sebabnya aku harus fokus dan sering mengabaikanmu. Karena saat aku mengurangi sedikit saja konsentrasiku, aku akan kesulitan untuk memulai kembali. Pada dasarnya semua instruksi mudah dipahami. Tapi memang ada beberapa hal yang membuatku sedikit bingung. Tak apa, besok kalau aku sudah mulai untuk mempraktikkannya, kau boleh membantuku.


Ada dua bahasan pokok dalam buku ini. Yakni soal ilmu pertahanan dan ilmu menyerang. Keduanya terdiri atas banyak jurus yang semakin lama semakin tinggi kekuatannya. Seperti level pada permainan di ponsel. Dan aku harus melampaui satu jurus untuk bisa menguasai jurus berikutnya. Jika aku mandek di satu jurus, aku tidak akan up ke jurus berikutnya."


"Aku pastikan kau akan menguasai semua jurus itu dengan mudah. Agar kau bisa membalaskan luka di tubuhku ini."


Pram terbahak mendengar Kharon menirukan ucapannya tempo hari.


"Pram, katakan padaku siapa lelaki misterius yang memberikan buku ini padamu?"


"Dia tak banyak bicara. Tapi dia mengenalkan namanya, siapa ya, sebentar aku sedikit lupa. Phi...Phi...Phi...mon. Philemon. Ya namanya Philemon."


"Philemon? Putra kedua Raja Ramadhana? Kakak kandung Bemius?"


"Sudah kubilang dia tak banyak bicara. Dia hanya mengenalkan namanya, bukan nama orang tuanya, atau kakaknya. Dia bahkan tak jelas datang dan pergi dari mana. Yang jelas dia sangat kharismatik dan sakti. Tapi Ron, aku ingat suatu hal."


"Ingat apa?"


"Dia tahu namaku, padahal aku belum memperkenalkan diri."


"Benarkah?"


"Iya, aku sampai melongo mendengar dia menyebut namaku. Apakah aku memang sepopuler itu di kalangan penduduk Shaman? Aku benar-benar tak menyangka akan begitu terkenal."


Kharon merebahkan kembali tubuhnya karena jengah mendengar ocehan Pram yang menyombongkan diri, padahal ia benar-benar sedang menyimak dengan serius. Sementara Pram terkekeh-kekeh karena telah berhasil membuat khodamnya kesal untuk yang kesekian kali.