After Death

After Death
Bagian 21 : Thalassa Dewi Lembah Namea



Thalassa merupakan seorang Dewi, bukan


manusia, bukan Jin, bukan Siluman, bukan juga Malaikat. Dewi merupakan golongan


penghuni alam semesta yang sudah hampir punah. Mereka sebenarnya memiliki hidup


yang kekal namun sebuah perang saudara di negerinya membuat kekekalan para Dewa dan Dewi musnah. Dewa dan Dewi bisa mati jika yang membunuh mereka adalah dari golongan yang sama. Dewi Thalassa merupakan Dewi yang melakukan perjalanan panjang dalam pelarian akibat perang saudara di negerinya yang tak kunjung berakhir.


Pelariannya berakhir saat ia menemukan Lembah Namea, di mana sudah turun temurun lembah itu tak berpenghuni, sebenarnya, ia sendiri juga yang menyebarluaskan mitos di negeri Cato tentang kesuraman Lembah Namea. Dia membisiki telinga-telinga manusia untuk takut dan segan kepada daerah yang bernama Lembah Namea. Padahal,


sebetulnya dia hanya ingin keberadaannya tak diketahui oleh bangsanya, agar ia


bisa tetap hidup dalam keabadian.


            Thalassa mencium aroma darah segar dari kedalaman Lembah Namea, ia pun terbang mencari sumber aroma darah


tersebut. Dilihatnya ada seorang Pria yang tergeletak berlumuran darah di tepi


danau Orakel. Thalassa mencium aroma lain dari Dante, dia bukan manusia yang


sedang menjalani pembalasan. Dia datang merelakan daging tubuhnya untuk dipersembahkan kepada Ikan di Danau Orakel. Thalassa pun tertarik untuk mendekati Dante.


            “Hai Pemuda, apa yang membawamu ke sini?” Thalassa menghampiri Dante yang hampir sekarat. Ia menyentuh tangan Dante yang tinggal tulang belulang. Thalassa merasa iba pada Dante, dan penasaran apa sebenarnya yang membawanya ke sana. Thalassa pun menyentuh ubun-ubun Dante sambil memejamkan mata. Dia memiliki keahlian untuk melihat riwayat kehidupan seseorang. Jika sedang beruntung, dia juga bisa melihat masa depan orang yang disentuhnya. Keahliannya tersebutlah yang membuatnya diburu banyak pihak di negerinya. Masing-masing pihak ingin memiliki peramal andal guna keperluan


peperangan. Setelah Thalassa memilih untuk kabur dan berjanji tidak akan


membela pihak mana pun, ia ditetapkan sebagai buronan.


            “Tolong beri tahu aku soal kalung


ini. Soal mengapa Pram tak bisa dibangunkan. Soal mengapa aku tak bisa menjadi pria dewasa.”


            Thalassa berhenti sejenak dari


sama sekali tak singkron dengan pemikirannya yang lugu. Bahkan di saat


menjelang sekarat pun dia masih menanyakan beberapa hal yang tak begitu


penting.


            “Begini. Kau tak butuh jawaban apa pun hari ini. Yang kau butuhkan adalah segera mengobati luka-lukamu itu. Turuti


perintahku, putar jarum penunjuk di kalung itu ke arah utara, dan setelah itu


segera tutup medallion tersebut dan bayangkan tentang seseorang.”


            “Tapi aku sudah berjuang keras untuk sampai di sini. Setidaknya aku harus mendapat jawaban.”


            “Tidak. Tidak perlu. Percayalah padaku. Turuti kata-kataku, dan pertanyaanmu akan segera terjawab.”


            Dante menurut. Ia memutar jarum


penunjuk dan menutup medallion tersebut sembari membayangkan Prameswari.


***


            Prameswari sedang menikmati Hujan Hutan Krisan sebelum akhirnya kalung medallion yang ada di sakunya menyeruak keluar. Kalung itu terbuka dan membuat sebuah pusaran angin. Pram terjebak dalam pusaran angin tersebut dan lenyap seketika, sebelum pusaran angina itu menghilang, Kharon pun dengan sigap langsung masuk ke dalam pusaran angin


tersebut agar ia tak terpisah dari Prameswari. Pram kembali teringat tentang


bagaimana pertama kali ia memasuki Dunia Cato. Kata Kharon, waktu kematian


Pram, sebenarnya sudah ada beberapa anak buah Bemius yang bersiap untuk menangkap ruh Prameswari begitu ruh itu terpisah dari jasanya. Sayang sekali, ada sebuah pusaran angin yang dengan segera menyedot tubuh Prameswari dan membuat Jin Hitam anak buah Bemius gagal menjaring ruh Prameswari.