
Wiiiish... ! ! !
Sebuah angin kecang berhembus menerpa para pasukan Bemius hingga mereka terseret cukup jauh dan terjatuh. Philemon sengaja melakukannya agar mereka tidak menganggu Pram, Kharon, dan ayahnya hingga kesadaran orang orang yang sangat oa sayangi itu telah kembali seutuhnya.
“Apakah aku benar benar hidup kembali?” tanya Pram yang sangat terkejut tak percaya. Ia masih mengamati jari jemarinya yang ia gerakkan secara perlahan.
Pram masih mengingat jelas bagaimana ia dan Kharon mati. Anak panah anak panah yang menghujani mereka sungguh menyakitkan. Tapi kini ia dan yang lainnya bahkan bangun kembali tanpa ada sedikit pun luka. Sebaliknya, Pram merasa seolah kekuatannya menjadi berlipat lipat setelah mati.
“Benar, ini berkat obat hidup dari Dewi Thalassa yang sempat kita minum sebelum peperangan.” jawab Philemon masih sambil menghalau serangan lawan.
“Tunggu apa lagi. Cepatlah bangun dan bantu aku untuk menghabisi mereka!” ucap Philemon lagi membuat tiga orang yang baru bangkit dari kematian yang masih terduduk tak percaya itu berdiri seketika.
Mereka berempat saling memunggungi untuk memberikan penjagaan dari serangan musuh. Lantas mengeluarkan jurus masing masing untuk melumpuhkan lawan.
“Pram, Kharon, pergilah ke penjara goa dan selamatkan semua penduduk Shaman yang ada di sana.” perintah Raja Ramadhana sambil terus melawan pasukan Bemius.
“Tidakkah sebaiknya kita tetap bersama Paduka Raja?” tanya Kharon yang merasa akan lebih kuat bila bersama sama melawan jin dan siluman hitam, mengingat kejadian sebelumnya yang cukup mengerikan saat mereka terpecah menjadi dua tim.
“Seharusnya memang begitu. Tapi kita tidak bisa membiarkan para penduduk menunggu lebih lama. Kondisi mereka sungguh menyedihkan. Kalau pun aku dan Philemon harus mati selagi kalian mengungsikan para penduduk ke Pulau Amsleng, itu tak masalah. Setidaknya nyawa kami tidak lenyap begitu saja.
Jika terus bersama begini, aku tak yakin kita cukup kuat untuk mengalahkan semuanya lantas baru menyelamatkan rakyat Shaman. Kita bisa kehabisan nyawa tanpa berhasil menyelamatkan rakyat Shaman." kata Raja Ramadhana menjelaskan panjang lebar.
Para pahlawan Shaman ini tetap melakukan pertempuran sambil mengatur strategi untuk bisa menuntaskan misi penyelamatan dengan baik. Lalu Pram dan Kharon pun melaksanakan perintah Raja Ramadhanna untuk segera berlalu menuju penjara goa.
Sementara itu, dua orang pengawal istana terlihat sedang tergopoh gopoh menuju kamar Bemius, dan seorang lain menuju tempat panglima beristrahat. Benar, mereka memang akan memberitahukan serangan susulan yang sedang berlangsung.
“Apa katamu? Ayahku, gadis purnama ketujuh, dan siluman harimau putih itu hidup lagi dan menyerang kalian?” tanya Bemius yang sangat terkejut hingga langsung bangkit dari duduknya.
“Benar Paduka. Mereka bangun kembali setelah seorang laki laki yang menyamar sebagai seekor gagak datang.” ucap pengawal menjelaskan.
Bemius yang sudah tahu jika gagak jadi jadian yang dimaksud pengawal itu adalah adiknya, langsung bergerak cepat menuju depan istana.
Kekagetan yang sama juga dialami oleh panglima. Namun panglima langsung bergerak menuju penjara goa setelah pengawal yang melapor kepadanya memberitahu bahwa Pram dan Kharon terlihat bergerak menuju penjara itu.
Bemius yang telah sampai di depan istana, kini berdiri agak jauh mengamati ayah dan adiknya. Entah bagaimana muncul api amarah dalam batinnya melihat kekompakan Raja Ramadhana dengan Philemon.
“Kau memang menyebalkan ayah. Mengapa selalu berada di samping Philemon, dan meninggalkanku begitu saja. Heh, kau begitu sayang padanya. Sedangkan padaku, kau sangat bernafsu untuk membunuhku. Jadi kalian berdua memang pantas mati. Aku yang akan memastikannya.” ucap Bemius dalam batinnya.
Bemius meluncur cepat seperti sebuah roket, mendekat dan menabrak Raja Ramadhana serta Philemon. Dan sang raja dengan Philemon yang semula berpunggungan kini jatuh tersungkur ke tanah.
Bemius tersenyum sinis. Ia kemudian menghantamkan pukulan keras ke perut Philemon yang baru saja bangkit dari jatuh. Merasa belum cukup dengan tindakannya, Bemius melayangkan tendangan kaki kanannya dengan sekuat tenaga menyasar kepala Philemon.
Bruuuk... ! ! !
Philemon kembali ambruk dengan pelipis yang mengeluarkan darah.
Melihat Philemon diperlakukan demikian kasar oleh kakaknya sendiri, Raja Ramadhana naik pitam. Ia menyerang Bemius dengan jurus Semburat Nyala Api.
Bemius menghindari semburan api yang dikeluarkan sang ayah. Ia kemudian membuka telapak tangan kanannya. Tak ada sesuatu apapun yang keluar dari tangan Bemius. Tapi Bemius terlihat meniup telapak tangannya. Lalu, air mencuat dari telapak tangan Bemius, layaknya semprotan air dari pipa besar. Memadamkan api yang keluar dari mulut Raja Ramadhana.
“Kau memang tak adil ayah. Katamu aku ini anakmu. Tapi mengapa kau melakukan hal sebaliknya padaku. Kau bahkan membantu anak purnama ketujuh itu untuk melenyapkanku.” kata Bemius panjang lebar menahan sesak dalam dadanya.
“Tua b*ngka! Aku pastikan kau akan mati di tanganku.” ucap Bemius semakin dikuasai kemarahan.
Ayah dan anak itu pun kembali bertarung. Sementara Philemon melawan para pasukan Anathemus.
Dalam pertarungannya melawan Bemius, Raja Ramadhana sadar bahwa kemampuan dan penguasaan ilmu Bemius memang berkembang sangat pesat. Ia sebenarnya kualahan untuk bisa mengimbangi kekuatan putra pertamanya itu. Namun, Raja Ramadhana tidak akan menyerah begitu saja hingga salah satu dari mereka mati.
Sementara itu Pram dan Kharon yang telah sampai sedari tadi di penjara goa, segera disusul dengan kehadiran panglima. Dan kini pertarungan tak kalah sengit terjadi di antara mereka.
Kharon mengubah dirinya menjadi seekor harimau putih. Dan Pram duduk di atas punggungnya. Pram meluncurkan panah naga. Tapi panglima yang tengah diincar oleh anak panah itu, mampu menangkisnya hingga anak panah itu terlempar jauh.
Lantas saat sang panglima melakukan serangan balasan, Kharon mampu bergerak lincah dan tangkas untuk menghidarinya. Siluman harimau putih itu pun kemudian melompat ke arah sang panglima. Ia berhasil mencengkeram panglima hingga lelaki itu sekarang tak mampu bergerak dalam penguasaannya.
Pram yang melihat sang panglima tak mampu melakukan serangan apapun, tidak mau menyiakan kesempatan. Pram mengambil kembali anak panah dari tempatnya dan tanpa basa basi langsung melesatkannya ke jantung sang panglima. Dan sang panglima pun ambruk tewas dengan mata melotot akibat anak panah yang menembus jantungnya hingga ujung anak panah itu mencuat dari dalam punggungnya, sangat dalam.
Kharon kembali ke wujud manusia dan memeluk Pram. Keduanya tersenyum karena mampu memenangkan pertempuran, diikuti sorak sorai para penghuni penjara goa yang masih hidup.
Pram lantas mengeluarkan anak panah lagi. Dan ketika panah itu dilepaskan dari busurnya, berubahlah menjadi seekor naga besar. Pram memerintahkan naga itu untuk melayang rendah saja di atas para tawanan agar para penduduk Shaman mampu meraih kaki naga untuk dijadikan tanjakan.
Dan satu per satu dengan perlahan namun pasti naga telah penuh dengan para penduduk. Pram kemudian melesatkan sebuah panah lagi sebab masih ada cukup banyak orang yang belum menaiki naga. Naga kedua melayang tepat di samping naga pertama.
Selagi menunggu para penduduk naik, Kharon menghitung jumlah mereka, juga memperhatikan tubuh mereka yang sangat kurus dan dipenuhi borok. Borok itu bermula dari rasa gatal yang dirasakan para penduduk sebab kondisi air yang merendam mereka selama di penjara kondisinya sangat kotor. Namun karena terus saja digaruk dengan kondisi kuku mereka yang sangat panjang sebab tidak pernah dipotong selama berbulan bulan mulai mereka dimasukkan ke dalam penjara, akhirnya menyebabkan luka yang semakin hari semakin parah.
Sesuai dengan pesan Raja Ramadhana, ketika para tawanan itu telah berada di atas naga seluruhnya, mereka pun bersiap untuk berteleportasi ke Pulau Amsleng Sufir Matdrakab. Terhitung ada sekitar 41 orang yang berhasil diselamatkan.
Dan ketika telah sampai di pulau tersebut, tampak kekaguman di wajah para penduduk. Namun Kharon tak membiarkan mereka berada di luar rumah teralu lama. Pram dan Kharon berbagi tugas. Pram memastikan semua orang mandi dengan bersih. Sementara Kharon menyiapkan rumah rawat untuk ditempati para penduduk itu. Rumah yang dijadikan lokasi perawatan para korban dari penjara goa berada di samping kanan rumah rawat penduduk dari penjara kotak.
Kharon meminta banyak tempat tidur pada pohon logistik. Kemudian mengangkat dan menatanya di dalam rumah rawat. Dibutuhkan dua rumah untuk menampung para penduduk dari penjara goa. Dan Kharon yang menyiapkan tempat tidur mereka sendiri saja. Bolak balik dari pohon logistik ke rumah rawat memikul tempat tidur. Selain tempat tidur, Kharon juga meminta sejumlah obat yang akan diperlukan selama masa pemulihan, baik obat dalam maupun obat luar agar para penduduk Shaman lekas sembuh.
Saat semua orang telah bersih dan tempat tidur telah siap, Pram membantu para penduduk untuk beristirahat, berbaring di atas tempat tidur. Selama ini mereka tidak pernah berbaring dan hanya berdiri, bahkan dalam kondisi tidur sekalipun.
Kharon tersenyum senang melihat para penduduk yang terlihat begitu bahagia bahkan tak sedikit di antara mereka yang menangis haru karena tak menyangka bisa terbebas dari penjara Bemius. Lantas Kharon kembali melanjutkan tugasnya, yakni menyiapkan makanan untuk mereka semua, termasuk untuk para penduduk yang berasal dari penjara kotak.
***
Raja Ramadhana dan Bemius beberapa kali terjatuh saat berbalas jurus. Namun, tetap saja usia tidak bisa berbohong. Walau sejauh ini Raja Ramadhana masih mampu meladeni serangan Bemius, ia sudah mulai kelelahan. Napasnya mulai berburu dan lehernya terasa kering karena haus.
Philemon yang melihat lelah di wajah sang ayah kemudian membantu menyerang Bemius. Maksud hatinya ingin berganti peran dengan Raja Ramadhana. Sang raja menghadapi para prajurit dan pengawal, sementara dirinya akan menghadapi sang kakak. Namun, Bemius terus saja mengincar Raja Ramadhana.
“Aku tidak akan membiarkanmu hidup ayah. Philemon, kau akan menjadi saksi kepergian ayah ke neraka!” teriak Bemius dengan napas tersengal. Namun bukan karena lelah, melainkan karena marah.
Bemius sebetulnya masih bertanya tanya bagaimana bisa sang ayah juga yang lainnya, yang sudah jelas jelas mati tak berdaya, bisa hidup kembali. Bemius masih tak tahu pasti apakah itu bagian dari jurus atau ada penyebab lainnya, semacam obat mungkin.
Tapi ia berjanji pada dirinya sendiri, jika sudah berhasil menakhlukan Raja Ramadhana, ia akan memaksa ayahnya itu untuk menceritakan semuanya. Sehingga ia bisa mengembangkan dan melakukan hal yang sama.
Jlep... ! ! !
Tombak sakti Philemon berhasil tertancap di perut Bemius.