
Prameswari memelototi Kharon yang
sudah berubah wujud kembali ke bentuk manusia. Kharon menjelaskan bahwa ada
sesuatu yang tak beres di tubuh Dante, jadi untuk berjaga-jaga, sebaiknya Dante
tidak dilibatkan dalam beberapa hal.
“Apakah kalian sedang membicarakanku?" Dante yang ditidurkan di akar pohon Hutan Białowieża tampak
tersungut-sungut bangun dan memandangi sekeliling.
“Hei, bagaimana bisa Kau bangun
secepat ini?” Kharon kaget karena manteranya seharusnya bertahan sampai satu hari kemudian.
“Aku bermimpi tentang banyak hal, dan mimpi terakhirku membangunkanku dengan segera. Aku bermimpi ada sesuatu yang tertancap di tengkukku. Rasanya tengkukku berat sekali?” Dante mengurut-urut tengkuknya dengan wajah memelas kepada Kharon. Kharon mengerti maksud Dante dan segera menerawang bagian tubuh Dante yang dikatakan tersa berat.
Benar saja, Kharon menemukan sebuah susuk tembaga tertancap di tengkuk Dante. Itu merupakan Susuk Pengasih di mana biasanya dipasangkan untuk menarik hati lawan jenis.
“Sekarang sepertinya Kau harus menyadari satu hal, Pram. Kau kena Susuk. Ketertarikanmu pada Dante merupakan ulah susuk ini!” Kharon dengan sangat gembira menunjukkan jarum halus berwarna tembaga yang barusan ia cabut dari tengkuk Dante.
“Tidak mungkin. Aku adalah perempuan keras kepala yang tak bisa diintervensi oleh faktor-faktor eksternal apa pun! Ya, aku memang agak bingung mengapa aku tertarik dengan begitu mendadak terhadap Dante. Tapi aku yakin, itu mungkin karena Dante merupakan jodohku di duniaku yang baru!” Prameswari mendadak marah begitu ditunjukkan fakta bahwa ada susuk pengasih di tubuh Dante.
“Pram, aku tidak tahu siapa yang
memasang pusaka itu di tubuhku, tapi mungkin apa yang dikatakan Kharon ada
benarnya. Bisa saja kau mendadak menyukaiku akibat keberadaan susuk itu.” Dante menunduk tampak bersedih. Meski ia tak merasakan jatuh cinta pada Prameswari, tapi ia merasa kesepian jika harus ditinggalkan oleh Pram.
Melihat Dante yang tertunduk lesu, Pram merasa bersalah dan berusaha menghibur Dante. Iankemudian memaksa Dante untuk menemaninya mencari hewan buruan. Berkat ilmu sihir Kharon, Prameswari mendapat perlengkapan panahan dengan anak panah yang terbuat dari bulu-bulu Kharon yang telah disihir. Saat hidup di bumi, Pram merupakan seorang atlet panahan jadi dia cukup piawai menggunakan senjata itu. Dengan sedikit modifikasi, Kharon telah memantrai setiap anak panah tersebut sehingga ia bisa digunakan untuk melukai baik makhluk bumi maupun makhluk Shaman.
Di dalam hutan, Prameswari melihat Dante tetap tertunduk lesu. Pram beranggapan
bahwa Dante khawatir ia akan menjauh dari Dante. Padahal, semakin ia melihat
Dante murung, semakin ia iba dan ingin memeluk Dante dengan hangat.
Di lain sisi, Dante merasa targetnya telah masuk perangkap. Dante menyadari bahwa Prameswari terlalu mudah untuk merasa iba, maka sebisa mungkin dia selalu nampak menjadi pria lemah yang menyedihkan. Dengan demikian, Pram akan semakin lembut dan menyayanginya. Di hari Dante menembak Prameswari, sebenarnya dia telah melapisi pelurunya menggunakan serbuk racun khusus. Racun itu akan bekerja membuat korbannya merasa terngiang-ngiang akan seseorang yang telah menembaknya. Rencana Dante berjalan mulus, bahkan saat dia berpura-pura terkena pusaka Susuk Pengasih, Kharon yang berilmu tinggi tak menyadari hal tersebut. Itu artinya, kekuatan Kharon bisa jadi tak sehebat kekuatan yang ia miliki.
“Dante, coba lihat Lynx itu, kurasa ia akan jadi santapan yang lezat. Mau kuajari
bagaimana cara memanah?” Prameswari menatap wajah Dante sepenuh hati, berusaha menghibur pria yang menurutnya sangat lugu dan baik hati.
Dante mengangguk dan mulai pasrah saat Prameswari menggerak-gerakkan kedua tangannya. Tubuh Prameswari nampak sedang merangkul Dante jika dilihat dari belakang. Mendadak sekali Dante merasa jantungnya berdebar-debar, itu adalah kali pertamanya merasakan jantung yang berdebar.
Dante baru tersadar, saat proses pemurnian yang dilakukan Kharon untuk melenyapkan efek pusaka susuk pengasih, Kharon dengan tidak sengaja juga telah membuka salah satu aliran Chakra Dante yang selama ini sengaja ia tutup. Dante mulai khawatir, jangan-jangan dengan terbukanya aliran chakra itu akan berpeluang membuatnya jatuh hati, dan
tentu itu akan menggagalkan rencananya.
Tanpa Dante sadari, tangannya menggenggam erat tangan Prameswari cukup lama. Membuat Pram merasa kikuk dan tentu saja, gembira. Perasaannya selama ini tak pernah terbalas, dan hari ini Dante melakukan gerakan yang membuat jantungnya berdebar-debar.
“Stop! Atau kalian berdua akan kujadikan santapan makan malam!” Mendadak sekali Kharon menampakkan diri tepat di hadapan Dante dan Prameswari yang sedang berduaan mengintai seekor Lynx.
“Dasar pengganggu. Minggir sana!” Prameswari agak geram meminta Kharon untuk minggir sebentar. Bukannya minggir, Kharon justru menatap tajam Prameswari dengan tatapan murka.
“Aku tak akan membiarkan kalian memangsa saudaraku!” Kharon mengubah anak panah yang Pram pegang menjadi seekor King Cobra yang ganas. Baik Pram dan Dante sontak kaget
dan meloncat mundur.