After Death

After Death
Bab 167: Misi Penyelamatan II



Kharon tersenyum mendapati Pram telah bangkit dari rasa lelahnya di saat yang sangat tepat. Ia menghampiri Pram untuk memberikan ucapan selamat atas keberhasilannya dalam menggunakan pusaka panah naga api hadiah dari Raja Ramadhana untuk yang pertama kalinya.


"Terima kasih telah menyelamatkan aku dari kepungan jin hitam. Aku yakin jika kau tak melenyapkan perempuan itu segera, pasti kini kita telah dikepung lebih banyak jin. Sedangkan kita tak tahu kemampuan dari para jin di setiap rumah." ucap Kharon sambil memeluk Pram.


"Iya, sudah. Ayo kita sembunyikan mereka." ucap Pram penuh semangat.


 


Pram dan Kharon pun kembali mengendap melanjutkan ke sasaran berikutnya, yakni penjara yang dibuat Bemius. Sebetulnya Raja Ramadhana melarang mereka untuk mengusik penjara itu dulu sebab tentu ada sangat banyak jin dan siluman yang bertugas di sana. Namun, Kharon melihat saat itu adalah peluang terbaik sebab bisa jadi para penjaga penjara tengah merasa ngantuk atau bahkan sudah tertidur. Jadi fokus mereka tentu telah berkurang sehingga mempengaruhi kemampuan bertarungnya.


"Apa kau yakin, Ron?" tanya Pram sebelum melangkah lebih dekat ke arah penjara.


"Aku yakin Pram. Ini adalah saat yang paling tepat."


"Bagaimana dengan instruksi dari Paman. Selain itu, jika kita membobol penjara sekarang, itu artinya kita mengajak berperang secara terbuka. Sedangkan jumlah mereka pasti masih sangat banyak. Lagipula, kita sudah bersusah payah untuk menyembunyikan para jasad jin dan siluman agar Bemius tidak mengetahui penyerangan kita." kata Pram memberi pertimbangan.


"Kau benar Pram. Aku sempat tergiur untuk segera menyudahi ini dan membawa penduduk Shaman pergi dari sini." kata Kharon kemudian.


"Aku mengerti Ron. Tapi bertindak terburu buru juga tak baik. Lebih baik kita ikuti saja instruksi dari paman. Beliau pasti lebih tahu apa apa yang terbaik sebab ini adalah kerajaannya."


Kharon mengangguk. Dan mereka pun kembali menyasar rumah rumah. Sementara itu, Raja Ramadhana dan Philemon yang telah selesai menaburkan bibit racun di banyak penjuru, kini juga mulai memasuki rumah warga.


Seperti halnya Kharon dan Pram, Raja Ramadhana dan Philemon pun tak tahu siapa musuh yang ada di dalam rumah. Apakah seorang yang sakti, berilmu tinggi, para pembesar di kalangan jin hitam, ataukah hanya cecunguk biasa. Dan kali ini mereka telah memasuki rumah seorang panglima.


Mereka mengendap di dinding dan dengan jurus Tanpa Batas, Raja Ramadhana memasuki rumah dengan cara menembus dinding dan membukakan pintu dari dalam untuk Philemon. Mereka tak tahu jika yang dimasuki adalah rumah dari panglima III, yang kini telah menunggu untuk menyapa mereka di ruang tamu.


"Raja Ramadhana. Sungguh kejutan istimewa." sapa panglima III mengagetkan sang raja dan Philemon.


"Putra paduka pasti akan memberiku imbalan berharga untuk nyawa ayahnya. Tapi paduka tidak perlu khawatir, duduk dan bersantailah di sini dulu. Akan kupanggilkan istriku untuk membuatkanmu teh atau kopi, atau darah rakyat Shaman. Ha... Ha... Ha... !!" kata Panglima III sengaja ingin memancing amarah Raja Ramadhana.


"Kurang aj*r! Berani kau menghina raja Shaman!" bentak Philemon penuh amarah.


"Raja Shaman? Hei ayolah, bahkan kerajaan Shaman sudah tak ada. Seperti yang kau lihat Shaman sudah terjajah dan leyap. Sekarang, tempatmu berdiri ini merupakan wilayah dari kerajaan Anathemus. Ha.. Ha.. Ha.. Kerajaan milik kakakmu sendiri." ucap Panglima III mengolok olok.


"Sudah. Tidak usah pedulikan omongannya dan langsung kita serang saja dia." kata Raja Ramadhana agar Philemon lebih fokus pada tujuan mereka datang ke Shaman.


Philemon langsung melemparkan tombaknya yang telah dilumuri racun. Dan seketika itu pula mata tombak beranak pinak menjadi tujuh. Semuanya meluncur menuju ke arah Panglima III.


Panglima III yang sudah terbiasa menjalani peperangan hanya tersenyum samping tanpa ada raut ketakutan di wajahnya. Ia melompat ke sana ke mari menghindari intaian tombak. Lantas melompat tinggi dan mendarat dengan baju perang yang telah lengkap.


"Balok Perisai!" ucap Panglima III membuat sebuah perisai berbentuk balok yang melindunginya dari tombak Philemon.


Tombak sakti tersebut menancap kuat di perisai. Lantas sang panglima merentangkan kedua tangannya membuat perisai itu remuk dan berhamburan.


"Hiaa.... ! ! !" Raja Ramadhana memecah petir tersebut dengan angin kuat sebelum petir itu sampai ke Philemon.


Terjadi pertarungan sengit antara Panglima III melawan Raja Ramadhana dan Philemon. Mereka saling berbalas jurus. Dalam batin sang raja, jika panglima Anathemus saja sudah sesakti itu, bagaimana dengan Bemius? Raja Ramadhana lantas mengkhawatirkan Pram juga Kharon yang bisa jadi menemukan penghuni rumah yang lebih sakti.


Panglima III biasanya tinggal dan tidur di dalam Kerajaan Shaman. Membantu mengatur Shaman selagi Bemius berada di Anathemus. Ia hanya pulang beberapa minggu sekali saja.


Sebelum pertarungan dimulai Raja Ramadhana telah memantra mantrai keluarga sang panglima dengan Jurus Hantu Tidur. Sehingga menjadi terlelap nyenyak dan tak berpotensi untuk mendatangkan bala bantuan dari para jin hitam di luar rumah.


Raja Ramadhana terus melayangkan serangan demi serangan hingga sang panglima kualahan.


"Philemon, tombakmu!" teriak Raja Ramadhana memberi aba aba.


Philemon langsung melemparkan tombaknya ke perut sang panglima yang tengah sibuk menghalau serangan Raja Ramadhana.


"Jlep... !"


Panglima III ambruk dengan tombak Philemon yang menembus perutnya. Sang panglima tewas dengan mata melotot dan darah muncrat dari mulutnya.


"Kita tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi para jin dan siluman hitam akan bangun. Kau sembunyikan jasad Panglima III, ayah akan mengantarkan keluarga sang panglima untuk menyusul." kata Raja Ramadhana dengan senyum kecil.


Philemon dan Raja Ramadhana bergerak cepat. Mereka telah sepakat dengan Pram dan Kharon untuk bersembunyi dan rehat selama para jin dan siluman hitam mulai beraktivitas. Mereka akan berkumpul di tempat rahasia, tempat Ratu Tri Laksmini biasa menangisi Bemius diam diam, yakni di gudang kerajaan.


Ketika Raja Ramadhana dan Philemon tiba di gudang kerajaan. Di sana Pram dan Kharon telah berbaring.


"Paduka, tuan Philemon." kata Kharon terkejut dan langsung duduk.


"Tak apa Ron, berbaringlah. Aku juga mau berbaring sepertimu." kata Raja Ramadhana lirih.


Kini keempat penyusup itu tengah berbaring memberikan hak pada tubuh untuk beristirahat setelah berjam jam bertarung.


"Hari yang sangat melelahkan, Ron?" tanya Philemon.


"Ya begitulah tuan. Tapi tentu lebih melelahkan untuk Pram. Dia belum pernah mengalami pertarungan sebelumnya." kata Kharon menjelaskan.


"Pram?" panggil Raja Ramadhana ingin memastikan keadaan Pram.


"Dia sudah tertidur paduka." jawab Kharon.


"Hmmm, baguslah. Bemius memiliki sepuluh panglima. Aku dan Philemon baru bertemu satu panglima yang kekuatannya cukup merepotkan. Masih ada sembilan panglima yang tak tahu dimana mereka berada. Dan lama tak bertarung membuatku menjadi cepat lelah." keluh Raja Ramadhana.


"Semoga besok ada banyak jin dan siluman hitam yang terkena bibit racun." ucap Philemon penuh harap.