After Death

After Death
Bab 132: Sebatang Kara



Ghozie terduduk menyaksikan sisa puing-puing bangunan rumah kecilnya. Rasanya baru kemarin ia berharap bisa hidup sederhana dan bahagia bersama ayahnya di rumah itu. Tapi kini lelaki satu-satunya dari keluarga yang ia miliki itu telah tiada. Pergi dengan cara tragis dan dalam keadaan yang sangat mengenaskan.


Pemadam kebakaran yang telah berhasil memadamkan api, sedari tadi menyisiri rumah untuk menemukan jasad Suwignyo. Tapi mayat lelaki itu tak kunjung ditemukan. Mereka yang menanyakan apakah Suwignyo mengenakan benda logam itu, hanya menunjukkan bagian ikat pinggang yang mungkin sesuai dengan yang dimaksud Ghozie.


Dan benar, itu memang bagian logam dari ikat pinggang yang bentuknya sama persis dengan yang dikenakan ayahnya. Itu artinya, jasad ayahnya telah menjadi abu. Ghozie semakin terisak mengetahui fakta itu. Dokter Hermawan yang masih berada di sampingnya terus berusaha menguatkan Ghozie.


“Padahal ayah ingin dimakamkan di samping makam ibu, paman.” kata Ghozie lirih dan tersengal.


“Iya, sudah. Biarkan ayahmu pergi dengan tenang.”


Garis polisi juga dipasang di sekitar bekas rumah itu karena penyebab kebakaran masih belum diketahui. Ghozie sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Tidak ada sesuatu apapun yang tersisa. Rasa-rasanya ia ingin turut terbakar saja bersama ayahnya.


Ghozie menolak ajakan dokter Hermawan untuk tinggal bersama di rumah dokter itu. Lagipula dokter Hermawan juga hanya tinggal berdua bersama istrinya. Pasti akan sangat menyenangkan bila ada anggota keluarga baru yang datang. Begitu kata dokter Hermawan pada Ghozie. Tapi lelaki itu tidak ingin merepotkan siapapun.


Sehingga kini Ghozie hidup sebatang kara. Tanpa ayah, ibu, saudara, kerabat, dan tanpa siapapun. Juga tanpa rumah. Hanya ada sedikit uang di rekeningnya yang bisa menjadi harapan baginya untuk melanjutkan hidup. Ghozie juga menolak sejumlah uang pemberian dokter Hermawan dengan senyum entah. Setelah apa yang terjadi, Ghozie sendiri terkejut mendapati dirinya masih bisa tersenyum.


***


Ghozie berjalan menelusuri jalan tanpa menenteng tas atau apapun. Ia berjalan membawa dirinya saja untuk mendapatkan pekerjaan, apapun. Dari kemarin ia belum makan apapun. Ia juga tak bernafsu untuk mengambil uang di atm. Karena atmnya berada dalam dompet yang ia letakkan di atas meja di samping ranjang ayahnya. Dan dompet itu terbakar bersama kartu-kartu penting lainnya. Itu artinya ia harus pergi ke kantor polisi untuk mengurus semuanya. Dan ia sangat malas untuk itu. Sebab polisi mengingatkannya pada insiden yang menimpa ayahnya. Batinnya belum kuat. Lagipula ia sepertinya sudah tak punya cukup semangat untuk hidup.


Sebaliknya, ia sangat berhasrat untuk mati. Entah bagaimana saat ia melihat segala macam yang bisa membuat seseorang kehilangan nyawa, ia sungguh menginginkan itu. Seperti saat melihat kereta api melintas, Ghozie ingin cepat-cepat berdiri di atas rel. Atau saat melihat orang di pasar membelah kayu dengan kapak, ia ingin meletakkan kepalanya di tempat yang sama dengan kayu yang dibelah. Juga saat melihat benda tajam lainnya.


Beberapa kali ia terbatuk karena haus, Tapi ia tidak bernafsu pada minuman jenis apapun. Ia terus saja berjalan, dan sesekali menghampiri bangunan yang di depannya bertuliskan ‘Dicari karyawan’.


Dan setelah beberapa sesi wawancara singkat telah dilakukan, para pemilik warung atau kios di pasar itu tidak menemukan alasan untuk menerima Ghozie sebagai karyawan. Sebab mereka tidak menemukan semangat untuk hidup dari lelaki itu.


Dan pada akhirnya Ghozie mengangkat dirinya sendiri sebagai kuli panggul, pesuruh, dan apapun yang siap melayani masyarakat yang memerlukan tenaganya di pasar. Seorang direktur sekaligus pemilik sebuah perusahaan periklanan besar kini hanya menjadi sesuatu yang bahkan kalau mati pun tidak akan ada orang yang peduli, kecuali kerabat atau keluarga, benaknya. Sedangkan ia hanya hidup sebatang kara.


Pasar itu juga menjadi rumah bagi Ghozie. Ia biasa meringkuk di mana saja. Seperti saat ini, Ghozie tengah tertidur di emperan toko beralaskan koran, di samping gelandangan-gelandangan lainnya, yang ternyata jumlahnya tidak sedikit di pasar itu. Ia sudah tidak peduli dengan apapun yang menimpa fisiknya, karena luka di dalam batinnya sudah sangat menganga.


Setiap harinya, Ghozie berharap sebelum tidur, ia tidak bisa bangun lagi alias sudah mati. Ia merasa, bangun dari tidur sama artinya dengan bangun bersama luka. Duka yang memenuhi hatinya, bahkan hingga meluber itu, tidak menemukan obat hingga tidak sembuh-sembuh dan semakin menyiksa.


Ghozie menjalani hidup sekenanya saja. Ia pasrah dengan apa yang akan ia hadapi. Jika bukan karena pesan ayahnya, saat ini mungkin ia sudah menceburkan diri di sungai besar yang tak jauh dari pasar. Membiarkan dirinya tenggelam dan mati meninggalkan segala jenis luka. Ia sudah tidak risau akan melukai hati orang lain, karena ia sudah tidak memiliki siapapun di dunia. Ia sudah berulangkali pergi ke sungai itu, lalu kembali ke pasar lagi karena suara ayahnya seperti terngiang di telinga, memintanya untuk tetap hidup.


Ghozie jelas kebingungan. Ia merasa tidak mengenal atau dikenal siapapun. Seingatnya, ia tidak memiliki kerabat, sahabat, atau apalah itu namanya yang akan membuat orang itu peduli padanya.


“Kemana saja kau? Apa yang kau lakukan di sini? Kami mencarimu kemana-mana.” kata perempuan itu dengan nada agak tinggi hingga membuat beberapa orang yang melewati jalan itu menoleh.


Ketika itu Ghozie tengah makan di samping tong sampah. Sebuah nasi bungkus dan seplastik air teh menjadi menu sarapannya hari itu.


Seorang lelaki membantunya berdiri dan mengajaknya untuk ikut. Mereka mengajak Ghozie masuk ke dalam sebuah warung makan sederhana. Lelaki itu juga memesan sejumlah makanan dan minuman.


“Kau ini, aku juga ingin makan. Perutku mulai bawel karena lapar. Hahaha sama bawelnya dengan Ana.” celoteh lelaki itu mencoba mencairkan suasana. Dan secara otomatis membuat suster Ana tersungut-sungut dan manyun.


“Sudahlah Ana. Apa kau datang jauh-jauh hanya untuk marah-marah pada Ghozie.” lanjut lelaki itu.


Itu perawat Pram, Pramudi. Meski berbeda jenis kelamin, tingkah Pram dan Pramudi hampir sama. Ia bahkan sering berkelakar bahwa Pramudi adalah Prameswari versi laki-laki.


“Sekarang kau menjadi pendiam.” Pramudi berkata sambil menepuk pundak Ghozie dengan sangat keras. Hampir-hampir membuat Ghozie tersungkur dari kursi plastik yang ia duduki.


Ghozie tak berkata apapun. Ia tercenung sebentar, kemudian memeluk erat lelaki yang ada di hadapannya sambil menangis. Suster Ana turut menitikan air mata karenanya. Juga Pramudi, ia mengusap air mata dengan jari jempolnya.


"Semua akan baik-baik saja. Jangan berpikir bahwa kau sendiri. Memangnya kami ini kau anggap apa? Dasar bodoh." Pramudi tersenyum dan menepuk jidat Ghozie.


Suster Ana yang tadi berniat untuk mengomeli Ghozie, pada akhirnya hanya terdiam dan sesenggukan. Ia tahu benar betapa lelaki itu sungguh menyayangi ayahnya. Kasih sayang dan perhatian yang ditunjukkan Ghozie di rumah sakit nyaris sempurna.


Maka, saat mendengar kematian Suwignyo yang jasadnya tak tersisa sedikitpun karena habis dimakan api, Pramudi dan suster Ana bertekad mengambil cuti dan langsung pergi menemui Ghozie. Setelah dua hari mencari akhirnya Ghozie berhasil ditemukan dengan kenampakan yang sungguh menyedihkan.


"Sudah. Jangan banyak drama. Dari kemarin perutku seperti selalu kenyang sampai aku malas makan. Sekarang aku jadi kelaparan." kata suster Ana sedikit kasar dengan nada dibentak-bentakkan. Ia lantas melahap hidangan yang ada di hadapannya.


Sementara Ghozie dan Pramudi tertawa melihat tingkah suster Ana yang tampak sangat aneh, karena biasanya perempuan itu selalu menjaga porsi dan menu makannya.


Ghozie sangat bersyukur atas kehadiran Pramudi dan suster Ana. Kedatangan mereka adalah anugerah yang mendatangkan semangat baru bagi Ghozie untuk menjalani hidup.