
"Pram, kau telah sampai di Pohon Amarah. Meski tempat yang kau datangi sekarang indah, kau akan menemukan amarahmu dalam setiap pohon yang ada di hadapanmu. Amarah adalah rasa yang selalu melukai jiwa hingga memunculkan sakit dan kesedihan. Jika dibiarkan, kesedihan akan mendatangkan ilusi. Apapun yang kau temui di pohon-pohon itu, jangan pernah mengeluarkan air mata dan teruslah berjalan hingga kau menemukan sebuah gerbang putih." sayup-sayup terdengar arahan dari Kharon.
Sebelum melangkah, Pram menghitung pohon yang ada di hadapannya. Matanya menangkap ada sekitar 15 pohon, dan entah berapa banyak lagi karena gerbang itu belum terlihat.
Pohon pertama ia melihat wajah ayahnya. Lantas ingatannya terbawa pada saat-saat ayahnya memukuli kakaknya Ghozie. Pram selalu merasa marah saat melihat kakaknya dipukul. Ia tak tahu mengapa ayahnya tidak pernah kasian melihat Ghozie kesakitan. Ayahnya baru akan berhenti memukul saat ia telah lelah. Dan itu terjadi sekitar 10 hingga 15 menit. Padahal seumur hidupnya, Pram tidak pernah sekalipun dipukul Suwignyo bahkan saat ia tanpa sengaja menjatuhkan ponsel mahal ayahnya ketika kanak-kanak. Pram pernah menanyakan hal itu pada ayahnya, namun ayahnya hanya tersenyum dan menjawab bahwa Ghozie memang pantas menerimanya, kemudian meminta maaf jika hal itu telah membuat Pram takut.
Ingatan Pram itu hampir membuatnya menangis. Ia tahu benar bahwa kakaknya selalu berharap bisa mendapatkan pelukan dan ciuman dari ayahnya, dan ia tak pernah mendapatkannya.
Pohon kedua, Pram melihat wajah ibunya. Ia tak pernah terima dengan statusnya sebagai piatu secara tiba-tiba. Ia ingat benar bahwa pagi sebelum malam suram itu datang, ibunya masih menyisir dan mengepang rambutnya. Ibunya baik-baik saja, tak sakit, juga tak mengalami kecelakaan. Tapi malam harinya, Arimbi, ibunya merasakan sakit hebat di tenggorokan. Lehernya seperti tercekik hingga napasnya sesak. Lantas ibunya meninggal dengan lidah menjulur dan mata melotot.
Pram tak pernah mengira, ibunya akan pergi selamanya dengan begitu tragis. Ia merasa selama ini ibunya sangat baik. Tak pernah jahat pada siapa pun. Lalu mengapa perempuan sebaik itu mati dengan cara di luar wajar.
Di pohon ketiga, wajah Candy muncul. Saat itu, Pram baru kelas dua, sedangkan Candy kelas lima SD. Sejak kecil Pram selalu merasa bahwa Candy tak suka padanya entah karena sebab apa. Memang Candy tak pernah memukul atau melukainya secara fisik. Juga tak pernah mengejek atau mengolok-olok. Namun, Candy tak pernah menanggapinya. Saudaranya itu tak nyaman dengan kehadiran Pram. Waktu itu, Pram melihat Candy pulang sekolah dengan kepala menunduk. Ia melihat pipi Candy basah karena air mata. Dan Candy masuk ke rumah tanpa menyapanya yang sedang duduk bersama ayah dan ibu. Pram pun berpamitan pada kedua orang tuanya untuk menyusul Candy.
Dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Pram melihat Candy mencoret-coret sebuah kertas sambil menangis. Lantas mengepal-ngepal dan melemparnya ke dinding. Candy menunduk dan terus menangis di atas meja. Pram tidak berani bertanya pada saudaranya itu tentang apa yang terjadi. Ia hanya diam, sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar setelah Candy ke kamar mandi. Saat kertas itu ia buka, ia melihat gambar sebuah keluarga yang sangat indah.
Bersambung....