After Death

After Death
Bab 163: Menemui Kepala Distrik Cato



Kharon menyusuri jalan menanyai satu per satu orang menyoal cara untuk menemui kepala distrik. Namun, setelah berkali-kali bertanya, ia belum juga mendapatkan jawaban. Orang orang yang ia temui telah sibuk dengan urusan masing masing.


Kharon duduk sejenak di pinggir jalan. Di bawah terik matahari, Kharon menyisir orang orang yang terlihat di matanya, mengira-ngira siapa di antara mereka yang bisa menjawab pertanyaannya.


“Apa kau ingin bertemu kepala distrik?” tanya seorang perempuan yang memakai baju merah berambut panjang sambil membawa payung hitam menghampiri Kharon.


“Ya, benar. Apa Anda tahu, dimana aku bisa menemuinya?” tanya Kharon penuh semangat.


 


“Ya, aku bisa mengantarmu menemui kepala distrik jika kau mau.” kata perempuan itu menawarkan.


“Ya, tentu saja. Tunggu sebentar, tolong nona tunggu di sini sebentar. Aku akan memanggil kerabatku dulu.” Kharon berdiri dengan senyum lebar.


Dengan cepat Kharon berlari masuk ke dalam gedung peradilan lagi. Lantas melaju menuju ruang peradilan.


“Paduka, tuan, mari kita keluar dan pergi menemui kepala distrik.” kata Kharon masih dengan napas yang tersengal.


 


Raja Ramadhana dan Philemon langsung tersenyum dan berjalan mengekori Kharon. Di depan gedung peradilan, perempuan yang tadi menghampiri Kharon masih berdiri menunggu.


“Nona, maaf membuat nona menunggu.”


Perempuan itu tersenyum dan berjalan. Ia menceritakan banyak hal tentang aturan di Cato untuk menanggapi cerita Kharon soal kasus yang dialami Pram.


“Aku juga tidak mengerti mengapa data administrasi beberapa penduduk bisa berubah ubah dengan sangat signifikan dalam waktu yang singkat. Penyelidikan yang kami lakukan belum menemui hasil.” kata perempuan itu dengan wajah cemas.


“O iya, bagaimana bisa kalian tidak mengetahui aturan aturan yang berlaku di kota ini? Atau kalian bukan penduduk asli Anastasia?" tanya perempuan itu penasaran.


"Hem, benar. Kami semua dari Shaman." jawab Kharon singkat.


Perempuan itu tampak terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Dan kenalkan, ini raja Shaman, Raja Ramadhana. Sedangkan ini, putra kedua raja, tuan Pholemon." kata Kharon lagi, sambil menunjuk Raja Ramadhana dan Philemon bergantian.


"Raja Shaman dan pangeran?" perempuan itu semakin terkejut.


"Dan aku Kharon, siluman harimau putih, khodam dari Prameswari, perempuan yang aku ceritakan padamu tadi." kata Kharon memperkenalkan diri.


 


"Apa siluman harimau putih?" tanya perempuan yang menahan diri agar tidak pingsan.


"Kau tak perlu terkejut anak muda, dan bersikaplah seperti biasa saja. Kami sangat senang kau mau membantu kami bertemu kepala distrik. Tapi ngomong ngomong siapa namamu nak?" tanya Raja Ramadhana ramah.


"Aku Lucy." jawab perempuan itu singkat sebab ia masih terlalu terkejut.


***


Ketika sampai di kantor kepala distrik, Lucy mengantarkan Raja Ramadhana dan rombongan untuk langsung bertemu dengan ayahnya. Kepala distrik pun terkejut sebab putrinya datang bersama tiga pria rupawan yang terlihat datang dari jauh.


"Siapa yang datang bersamamu Lucy?" tanya kepala distrik dan langsung berdiri menyalami tamu tamunya.


"Kenalkan ayah, mereka datang jauh jauh dari Shaman. Ini Kharon, ini pangeran Philemon, dan ini paduka raja Shaman, Raja Ramadhana." kata Lucy mengenalkan kenalan barunya.


Sama terkejutnya dengan Lucy, kepala distrik yang baru saja duduk sampai bangkit lagi dari duduknya dan membungkuk memberi salam hormat pada sang raja.


"Apa yang membuat paduka tiba tiba berkunjung ke kota ini? Maafkan kami yang tidak menyambut kedatangan paduka dengan semestinya."


"Tidak masalah. Kami senang bisa bertemu dengan Anda." kata Raja Ramadhana.


"Namun, kalau diizinkan, adakah surat penobatan, atau apapun yang bisa menjadi bukti bahwa Anda memang seorang raja? Maafkan kami, karena memang begitulah prosedurnya." ucap kepala distrik dengan santun.


Raja Ramadhana mengangguk dan tersenyum. Lantas memejamkan mata dan menggerakkan tangannya. Dalam sekejap, tangan Raja Ramadhana yang kosong telah memegang secarik kertas berkilauan berwarna perak dengan tulisan bertinta emas. Dalam surat penobatan raja Shaman itu juga tertera stempel kerajaan.


Kepala distrik jelas terkejut melihat apa yang baru saja ia saksikan, demikian juga dengan Lucy. Kepala distrik meminta izin untuk mengecek keaslian dokumen itu. Dan dari hasil pemeriksaan alat yang digunakan kepala distrik, menunjukkan bahwa dokumen tersebut memang asli.


"Maafkan kami jika prosedur ini membuat paduka menjadi tidak nyaman." kata kepala distrik sungkan.


"Tidak apa, kami mengerti. Anda memang harus berhati hati menjaga kota ini agar tidak ada hal terlewat yang dapat berdampak buruk." kata sang raja sambil mengingat nasib yang menimpa rakyatnya yang ia anggap semua karena kelalaiannya.


"Terima kasih atas pengertian paduka. Jadi, apa yang bisa kami lakukan untuk paduka?" tanya kepala distrik.


"Begini, sebelumnya kami mohon maaf. Ada seorang perempuan penduduk Anastasia Cato yang merupakan Anak Purnama Ketujuh. Ia memiliki takdir untuk mengalahkan para jin dan siluman hitam di Shaman. Namanya Prameswari.


Memang baru terjadi untuk yang pertama kalinya, seseorang yang lahir di purnama ketujuh penanggalan Shaman berasal dari kalangan manusia. Itu sebabnya para jin hitam begitu panik dan selalu berusaha untuk menangkap Pram.


Kematian Pram bahkan telah direkayasa sedemikian rupa sehingga maju lima tahun dari waktu yang semestinya. Dan akhirnya Pram menjadi penduduk Anastasia Cato yang artinya harus tunduk dan patuh pada setiap aturan yang berlaku di sini."


Raja Ramadhana menghentikan sejenak ceritanya untuk sekadar mangambil napas. Sementara itu kedua penghuni Cato hanya bergeming khusyuk mendengarkan penjelasan Raja Ramadhana.


"Namun selama menjadi penduduk Cato, Pram mengalami banyak kendala yang memang merupakan gangguan yang sengaja dibuat oleh jin hitam untuk terus mengusik bahkan membahayakan nyawa Pram. Lantas Pram sampai di Shaman dan bertemu dengan khodamnya, Kharon. Khodam adalah penjaga, pengikut, dan lain sebagainya yang salalu mendampingi pemiliknya.


Kemudian setelah bersama Kharon, Pram bisa menjadi lebih aman karena telah ada yang menjaganya dari gangguan para jin hitam. Tapi Pram harus berpindah pindah, bolak balik dari Cato ke Shaman, bahkan juga ke Bumi hingga berulangkali untuk menghindari kejaran jin hitam.


Pram sama sekali tak menyangka jika itu akan mendatangkan masalah bagi dirinya. Ia tak tahu jika karena terlalu sering pergi ke dimensi lain membuat ia harus membayar denda yang demikian banyak hingga menguras isi saldo rekeningnya. Bahkan sampai minus banyak.


Sebetulnya Pram merasa sedikit ganjal dengan laporan transaksi di rekeningnya. Mestinya jika memang hanya digunakan untuk membayar denda, saldonya masih cukup bahkan masih tersisa. Tapi kini ia telah dikenai hukuman mati karena dianggap melarikan diri dari tanggung jawabnya untuk membayar denda dan lain sebagainya.


Dulu sebenarnya telah ada seorang petugas kematian yang bernama Dante datang ke Bumi untuk menjemput Pram. Ia datang sebab katanya diutus oleh kepala distrik untuk mengajak Pram kembali ke Cato menyelesaikan masalah keuangan ini." kata Raja Ramadhana panjang lebar.


"Petugas kematian berteleportasi ke Bumi? Tapi saya tidak pernah mengutus siapapun untuk berteleportasi ke dimensi lain karena masalah penduduk. Karena kami memang tidak bisa melakukannya." kepala distrik mengernyitkan dahi.


"Iya, benar. Kami bahkan sempat datang ke Cato untuk menyelesaikan perkara tersebut." kata Kharon menambahkan.


"Lucy, coba kau periksa data para petugas kematian di komputer ayah, apakah ada yang bernama Dante atau tidak. Kalau memang ada, minta sekretaris untuk membawanya datang kemari." ucap kepala distrik mulai panik.


"Mohon maaf kepala, tapi Dante telah meninggal di semak bambu kuning yang merupakan gerbang masuk dan keluar dari dan ke dimensi lain." kata Philemon menyela.


"Meninggal? Bagaimana bisa? Semua penduduk Cato tidak akan meninggal permanen. Setelah mati, misalnya karena kecelakaan tragis, ia akan kembali hidup dan didata ulang di Loket Registrasi Pascakematian." kepala distrik semakin bingung.


"Tidak ada ayah." kata Lucy sambil menggeleng.


"Itu artinya, kalian telah berbohong!" ucap kepala distrik lantang.