After Death

After Death
Bab 176: Menjemput Kemenangan



Panglima yang menjaga penjara lapang jelas kelimpungan. Ia memegangi kepalanya berulang kali dan mondar mandir kebingungan. Panglima beberapa kali juga terlihat memejamkan mata hendak melacak kepergian dua orang yang mengaku sebagai pengajar materi yang pergi menggondol semua anak asuhnya.


“Apa yang mesti aku lakukan? Gawat, ini benar benar gawat. Jika aku tak segera menemukan mereka, kepalaku yang akan menjadi gantinya. Si*l! Mengapa aku bisa tertipu oleh mereka?” kata sang panglima yang terus mengumpat dan menyalahkan kebodohannya.


Sementara itu, di tempat Bemius berada sekarang, Raja Ramadhana mulai berkunang kunang menerima serangan yang bertubi tubi dari para pasukan Kerajaan Anathemus. Raja Ramadhana mulai terkuras tenaganya. Sedangkan Bemius yang semula sempat tertusuk tombak, seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya, kini ia sama sekali tak menyisakan luka di tubuhnya.


Bemius telah kembali sehat dan bugar seperti sediakala sebab tusukan tombak yang dilesatkan Raja Ramadhana tidak mengenai jantungnya. Nyaris saja. Seandainya ia tidak berhasil menghindar, tentu kini ia telah mati.


Walau Bemius berhasil selamat, ia tak langsung membalaskan perbuatan ayahnya. Bemius kini duduk dan hanya menonton sang ayah yang tengah menggendong adiknya melawan para pasukan jin dan siluman hitam miliknya.


Jantung Bemius masih berdetak sangat cepat karena hampir melihat kematian. Selain itu, ia juga menahan sakit hatinya melihat sang ayah yang tega hendak membunuhnya. Tapi rela mempertaruhkan nyawa dan keselamatannya demi Philemon, adiknya.


“Ini benar benar tidak adil. Mengapa ayah sangat sayang padanya dan begitu benci padaku? Tidakkah ia melihat semua kejahatanku ini akibat dari kesalahannya dulu?” kata Bemius dalam batin sambil terus memandang sang ayah tanpa berkedip.


Raja Ramadhana tersungkur, beban di punggung dan serangan yang terus menggempur, akhirnya membuat lelaki itu seperti tak sanggup lagi berdiri. Para pasukan kini mengepungnya dan mengacungkan pedang masing masing.


Tapi mereka kompak berhenti menyerang dan melihat ke arah Bemius meminta persetujuan untuk melenyapkan Raja Ramadhana. Dan Bemius tak berkata apapun. Ia menggerakkan tangannya dengan telapak kanannya yang terbuka dan jari jari merapat satu sama lain bergeser di depan leher dari kiri ke kanan. Tatapan raja jin dan siluman hitam itu memandang ayah dan adiknya dengan tatapan yang sangat dingin.


Maka, seketika itu pula para prajurit mengangkat pedang mereka dan hendak mengayunkan pedang itu dengan sekuat tenaga ke arah Raja Ramadhana dan Philemon. Tapi secara tiba tiba Kharon muncul dan melompat tinggi menuju Raja Ramadhana dan Philemon. Dalam proses melompat itu, Kharon mengubah wujudnya menjadi siluman harimau putih dengan ukuran raksasa. Kharon mendekap dua pahlawan Shaman dan roll ke depan.


Bemius yang sangat terkejut dengan kedatangan Kharon, kini berdiri dan meluncurkan sebuah serangan mematikan. Namun, lagi lagi ia dibuat kaget, sebab ketiga orang yang telah menyusup ke wilayah jajahannya itu lenyap seketika. Hilang tanpa meninggalkan jejak sekalipun.


“Si*l! Bagaimana bisa aku melewatkan ikan yang telah masuk ke dalam jala? Kemana mereka melarikan diri?” ucap Bemius penuh kejengkelan.


Bemius kemudian melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh panglima yang menjaga penjara lapang, yakni mencoba melacak lokasi persembunyian musuhnya itu. Dan sama dengan yang dialami oleh sang panglima, Bemius juga tidak bisa menemukan apa apa.


“Kurang aj*r! Kurang aj*r! Aku tidak akan melupakan semua ini. Aku akan membalasnya dengan lebih kejam. Tunggu dan lihatlah ayah, kau akan menyesal karena telah membuat putramu ini sangat kecewa. Ha.. ha..ha ! ! !" kata Bemius sambil mengepalkan tangannya dan sesekali berteriak kesal, lalu diakhiri dengan tawa lantang.


Dalam keadaan yang sangat tidak menyenangkan, ada seorang pengawal dari penjara lapang yang datang tergopoh gopoh ingin menemui Bemius. Tentu saja untuk mengatakan kepada rajanya itu kalau semua tahanan di penjara lapang itu telah diculik oleh dua orang yang mengaku sebagai pengajar.


Dan sudah barang tentu, prajurit yang pergi diam diam meninggalkan penjara lapang dan berhasil luput dari mata sang panglima itu langsung mati terpenggal usai mengatakan apa yang terjadi di penjara itu.


Bemius langsung membubarkan pasukan perangnya dan segera bergegas ke kamarnya untuk menenangkan diri dan memikirkan cara membalas dendam. Walau ia telah kehilangan banyak hal yang telah ia usahakan, Bemius bukan tipikel orang yang akan menyesali semua dan larut dalam kesedihan. Sebaliknya, ia akan membuat rencana yang jauh lebih baik untuk menuntaskan ambisinya.


***


Kharon langsung ambruk merebahkan badannya saat telah tiba di Pulau Amsleng Sufir Matdrakab. Sementara Raja Ramadhana yang masih sadar kini tersenyum lega sambil menepuk pundak Kharon. Dan Philemon, sekarang ia mulai membuka mata dan menggerak gerakkan tangannya.


Pram yang semula agak kerepotan menangani semua penduduk baru Pulau Amsleng Sufir Matdrakab, kini sudah bisa mengendalikannya. Dan ia bergegas menemui Kharon dan meninggalkan semua pekerjaannya sebab dari kejauhan Kharon terlihat sedang terluka parah jika dibandingkan dengan Raja Ramadhana dan Philemon.


“Apa yang terjadi? Ada apa dengan Kharon?” tanya Pram terburu buru.


Pram yang sudah tak tenang melihat Kharon hanya tergeletak dan memejamkan matanya tanpa melakukan apapun, langsung duduk di samping Kharon dan meletakkan telinganya di atas dada Kharon untuk mengetahui apakah jantung Kharon masih berdetak atau tidak.


“Aku masih hidup. Singkirkan kepalamu.” ucap Kharon masih dengan memejamkan mata.


Sebetulnya bukan itu kata kata yang ingin diucapkan Kharon. Sebab sejujurnya Kharon sangat senang mengetahui Pram begitu mencemaskannya. Tapi ia mengganti semua kata kata manis yang ingin ia sampaikan karena ada Raja Ramadhana dan Philemon di dekat mereka.


Pram mengangkat kepalanya dengan kesal. Tapi ia mengerti mengapa Kharon begitu kasar. Jika itu adalah Pram yang dulu, maka yang akan dilakukan perempuan itu adalah akan meledak ledak memperlihatkan kedongkolannya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Pram setengah berbisik.


“Bemius hampir saja membuat kami tak bisa hidup lagi. Dan di saat yang sama, Kharon datang menyelamatkan kami. Dan membawa kami kabur.” kata Philemon menjelaskan.


“Jika Kharon terlambat sedikit saja, nyawa kami tidak akan pernah bisa kembali. Mungkin karena menyadari hal itu, sekarang dia menjadi lemas.” ucap Raja Ramadhana menambahkan.


“Jadi begitu. Haah, dia sungguh payah.” kata Pram membuat Kharon miring ke kiri memunggunginya dan tersenyum tipis. Dalam batinnya Kharon terkesan dengan Pram yang bisa dengan cepat menyesuaikan diri dan meniru tingkah Kharon dengan sangat mirip.


Setiap kali mengingat Bemius, jantung Pram bahkan berdetak lebih cepat karena rasa takutnya tidak bisa hilang meski Bemius tidak ada di dekatnya.


“Tidak tahu. Philemon masih mati, aku terlalu kehabisan tenaga, dan Kharon tengah sibuk dengan rasa cemasnya. Jadi kami tidak tahu bagaimana dirinya ketika tahu semua tawanan dan incarannya telah pergi.” ucap Raja Ramadhana dengan pandangan menerawang.


“Pasti dia sangat kecewa.” celetuk Pram tersenyum tipis.


“Tapi dia akan lebih jahat daripada sebelumnya. Dia tidak akan diam saja dan menyesali semuanya. Bemius selalu bisa bangkit dan menjadi semakin kuat. Jauh lebih kuat.” kata Raja Ramadhana menyangkal dugaan Pram.


Pram menelan ludah, mengingat dirinya sebagai anak yang lahir di purnama ketujuh. Pram menjadi berkeringat menyadari dirinya ditakdirkan untuk mengalahkan Bemius, menghadapi dan melenyapkan jin yang jauh lebih sakti darinya.


Philemon yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari Pram, tahu benar bahwa perempuan yang sangat ia cintai itu sedang merasa ketakutan. Maka, Philemon pun memikirkan cara agar Pram melupakan kekhawatirannya.


“Hei Ron, lalu bagaimana caranya kalian bisa membawa anak anak yang mungkin sudah sangat patuh dan setia pada Bemius kemari?” tanya Philemon penasaran.


“Iya, bagaimana kalian bisa menyelamatkan penduduk Shaman yang dipenjara di penjara lapang bahkan tanpa melakukan pertarungan sedikitpun?” ucap Raja Ramadhana yang turut penasaran juga.


Kharon langsung duduk dengan semangat. Ia sendiri sebetulnya sangat terkejut atas keberhasilannya dan Pram dalam menyelesaikan misi. Semua ide cemerlang itu bersumber dari Pram. Kharon sama sekali tidak menyangka jika gadis yang mungkin tidak memiliki keberanian setelah melihat lautan jin dan siluman hitam itu, ternyata masih bisa memikirkan jalan terbaik dalam ketertekanan dan ketakutannya.


“Semua hanya karena strategi yang matang.” jawab Kharon setengah berbisik.


Sejak menjalankan misi penyelamatan, hubungan antara keempat orang itupun semakin erat. Dan Kharon sudah mulai terbiasa menggunakan bahasa yang lebih santai dan akrab kepada Raja Ramadhana dan Philemon.


“Strategi perang seperti apa yang bisa membuat kita memenangkan peperangan tanpa melakukan pertarungan?” tanya Raja Ramadhana semakin penasaran.


“Ah strategi perang apanya? Hanya memerlukan sedikit kebohongan saja.” ucap Pram menyangkal ucapan Kharon.


“Kebohongan? Tapi Kharon ‘kan tidak bisa berbohong?” tanya Philemon.


“Tidak, Kharon sudah bisa berbohong karena Diadem Naga Perak sudah tidak melingkar di kepalanya.” jawab Pram dengan senyum lebar.


Walau Pram senang karena Kharon selalu berkata jujur, Pram menjadi lebih lega setelah Kharon bisa berbohong. Setidaknya Kharon kini bisa lebih aman karena tidak membongkar rahasia yang semestinya tetap dijaga sendiri demi keselamatan.


“Benarkah? Bagaimana bisa?” tanya Raja Ramadhana yang turut senang atas apa yang terjadi karena selama ini Raja Ramadhana merasa terlibat dalam terpasangnya Diadem Naga Perak di kepala Kharon.


“Sebenarnya, saat berkunjung ke kediaman Dewi Thalassa, aku juga menanyakan apakah pusaka yang terpasang di kepalaku itu bisa dilepaskan atau tidak. Lalu Dewi Thalassa menjawab bisa dilepaskan oleh orang yang memasangnya. Dan saat aku menanyakan kembali bagaimana jika orang yang memasangnya telah meninggal, Dewi Thalassa menjawab bahwa pusaka itu bisa dilepaskan oleh orang yang dicintai sekaligus mencintaiku, yang mengasihiku secara tulus apa adanya, mau menerimaku tanpa ragu.” Kharon menjelaskan panjang lebar sambil tersenyum ke arah Pram yang kini tersipu malu.


“Benarkah bisa begitu? Lalu siapa dia orangnya? Kapan kalian bertemu? Setahuku kita selalu bersama, tapi aku tak melihat siapapun.” Raja Ramadhana mengajukan rentetan pertanyaan karena bingung.


Pertanyaan dan pernyataan Raja Ramadhana itu membuat Pram dan Kharon kompak  dikuasai rasa cemas.


“Sudahlah paman, yang penting kini semua baik baik saja, dan misi penyelamatan juga telah berjalan dengan sukses.” sergap Pram mencoba mengalihkan pembicaraan.


Baik Pram ataupun Kharon, keduanya sempat diliputi kekhawatiran karena tidak ingin merusak suasana kemenangan dengan kepedihan dan patah hati.


“Kau benar Pram. Misi kita telah terselesaikan dengan penuh perjuagan. Dan hasilnya, kita berhasil menyelamatkan semua penduduk Shaman yang masih hidup. Ini benar benar luar biasa. ucap Raja Ramadhana penuh syukur.


 


"Tunggu apa lagi? Mari merayakannya dengan makan makan. Kharon yang akan memasak untuk kita." kata Pram bersemangat.


"Apa kau tidak prihatin dengan keadaan kejiwaanku sekarang?" tanya Kharon dengan mata malas.


 


"Aduuuh... Sudah lama kita tidak makan. Aku menjadi hampir mati karena lapar." ucap Pram sambil memegangi perutnya, membuat semua orang tertawa.