After Death

After Death
Bagian 53: Ayam Hutan Hujan Tropis



Saat Pram membuka mata, ia menjumpai dirinya tengah bersila di samping Padma raksasa. Kakek guru yang membantunya mengaktifkan dan menyeimbangkan cakra sudah tak tampak batang hidungnya.


Seketika itu juga Pram merasa mual karena bau busuk yang menyengat, jauh lebih busuk dari bau yang ia cium di sekitar Rafflesia arnoldii sebelumnya.


Bunga di sampingnya itu memang memiliki bau yang jauh lebih busuk pada siang hari setelah 3-4 hari mekar. Bahkan baunya bisa tercium dari radius 30 meter. Kali pertama Pram dan Kharon mendarat di hutan hujan tropis Bengkulu bertepatan dengan hari pertama Rafflesia arnoldii itu mekar. Bunga itu seolah menyambut kedatangan mereka.


***


Pepohonan mengeluarkan aroma khas oksigen. Dedaunan yang bergoyang-goyang tertimpa angin membuat sinar matahari timbul dan tenggelam. Suara kicauan aneka burung pun menambah keceriaan di hutan itu.


Pram sudah tak sabar ingin menceritakan pengalamannya kepada Kharon. Selain itu, kata-kata kasar yang kerap keluar bersama dengan terbukanya mulut Kharon, ternyata membuatnya kangen. Maka, Pram pun mempercepat dan memperpanjang langkah kakinya.


Sepanjang jalan menuju tempat Kharon tertidur, Pram tertawa mengingat saat-saat yang telah mereka lewati bersama.


Dan kini, Kharon telah ada di hadapannya. Benar kata sang kakek guru bahwa Kharon akan segera bangun. Pram melihat Kharon meregangkan otot-ototnya sambil terduduk dengan mata yang masih tertutup. Sesekali Kharon tampak menggaruk-garuk lehernya. Ia juga tampak beberapa kali menguap.


Pram berhenti sejenak pada jarak sekitar sepuluh meter dari Kharon. Ia ingin memberikan kesempatan pada kodamnya itu untuk sadar terlebih dahulu.


Saat Kharon telah membuka matanya, ia nampak celingukan. Matanya menyisir tempat itu untuk menemukan tubuh Pram.


"Pram!" panggil Kharon lantang saat menyadari bahwa Prameswari tak ada di sekelilingnya.


Kharon langsung berdiri dan menoleh ke segala penjuru arah dengan wajah yang sangat cemas


"Kharon." teriak Pram kemudian, tak ingin membuat Kharon terlalu lama kebingungan.


Pram berjalan mendekat. Demikian pula Kharon, ia berjalan menghampiri Pram. Secara tiba-tiba, Kharon memeluk erat tubuh Pram. Membuat Pram terkejut.


Pram mengangguk dan tersenyum. Ia mengajak Kharon untuk duduk kembali di tempat peristirahatan mereka.


"Kenapa tempat ini tampak sangat kotor? Aku merasa telah membersihkannya sebelum tidur."


Pram menahan senyum.


"Apa kau tak lapar?" tanya Pram tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan Kharon.


"Iya. Mengapa perutku kini terasa sangat kosong. Apa aku telah tidur terlalu lama?"


Lagi-lagi Pram hanya tersenyum memperhatikan Kharon.


"Oh, bagaimana bisa aku terlelap terlalu lama? Kita bahkan belum juga menemukan kakek sakti yang akan membantumu membuka ketujuh cakra."


Kharon memegang kepalanya. Ia merasa sangat pusing karena ada banyak pertanyaan di kepalanya.


"Mari kita mencari makan. Nanti akan kuceritakan semua padamu."


Perkataan Pram membuatnya menatap perempuan itu dengan penuh tanda tanya. Tapi Pram tak menghiraukan tanda tanya di wajah Kharon. Ia bergegas untuk berburu dan Kharon pun mengekorinya.


Kali ini Pram hendak berburu ayam hutan yang telah menakutinya di malam penjemputan itu. Ia benar-benar kesal dengan jago liar yang beberapa kali mengagetkannya dengan suara kokokan tiba-tiba.


Novel ini ditulis dengan literature yang diambil dari dunia nyata. Teori-teori Cakra, setting-setting cerita, dan beberapa informasi lain merupakan fakta yg dikemas dalam sebuah cerita. Semoga bisa menambah wawasan kakak reader semua 😃


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=