After Death

After Death
Bab 84: Penyerangan yang Tertunda



Negeri Shaman memiliki luas wilayah yang sangat besar. Luasnya membentang mencakup seluruh permukaan Bumi. Sebagai negeri yang besar, Shaman mencapai masa kejayaannya di bawah kepemimpinan Raja Ramadhana. Negeri mampu melakukan swasembada pangan, pembangunan merata, tunjangan kesehatan gratis untuk semua penduduk, dan angka pengangguran menurun tajam. Kalau toh maaih ada yang nganggut sesungguhnya adalah jin dan siluman yabg memang tak ingin bekerja.


Raja Ramadhana memiliki ilmu yang sangat tinggi hingga dalam usia beliau yang telah lebih dari seratus tahun, tak tampak penuaan pada wajahnya. Tubuhnya masih tegap dan kekar, wajahnya seperti seorang yang masih muda sangat bercahaya, senyumnya memancarkan kebijakan dan kebajikan, dan setiap kata-kata yang muncul dari beliau adalah kata mutiara yang sangat bermakna. Penduduk Shaman dari golongan putih sangat menghormati dan mentakdimi beliau sebagai seorang pemimpin.


Namun, kesakitan batin yang dialami Raja Ramadhana setelah kematian istrinya, Tri Laksmini, dan kepergian anak keduanya, Philemon, juga kejahatan anak pertamanya, Bemius, telah membuat beliau tak sekuat dulu lagi. Luka batin itu setiap hari menggerogoti kekuatan jiwanya, hingga fisiknya pun turut menimpa akibatnya. Itu sebabnya pula, serangan para jin hitam yang melukai tangannya hingga kini masih belum sembuh sempurna, dapat dengan lebih mudah dilakukan karena sebenarnya sang raja tidak sedang dalam kondisi baik. Keadaan Raja Ramadhana itu tentu berpengaruh pula terhadap kestabilan nasional di negeri Shaman.


Sebaliknya di Kerajaan Anathemus, Bemius telah siap dengan seluruh pasukannya. Kerajaan itu memiliki kekuatan yang sangat besar dengan alutsista yang luar biasa lengkap. Seluruh penduduk Anathemus memiliki kemampuan pertahanan dan penyerangan yang sangat baik, meski seorang ibu rumah tangga sekalipun telah terlatih.


Kini Bemius dan pasukannya sudah siap untuk memporakporandakan kerajaan ayahnya. Ia sangat bernafsu untuk menggulingkan Raja Ramadhana dan menjadikannya sebagai tawanan.


Sebetulnya Bemius tak pernah lupa bahwa Raja Ramadhana adalah ayahnya. Dan justru karena itu, ia sangat ingin melihat ayahnya sendiri menderita. Ia juga tak pernah lupa pada kesedihannya karena telah tanpa sengaja membunuh ibunya sendiri. Ibu yang sangat ia kasihi dan mengasihinya dengan setulus hati. Tapi ia selalu berkeyakinan bahwa sebagai seorang raja, ia tidak boleh membiarkan sisi sentimentil ada. Ia membuang semua rasa belas kasih pada lawannya, meski tak dipungkiri kadang rasa itu muncul seperti saat ini.


Ya, hari ini ia merasa sangat rindu pada ibunya. Ia tahu ibunya adalah satu-satunya orang yang menginginkan ia tetap tinggal dan tak pergi ke pengasingan hari itu. Hanya ibunya yang selalu menganggap dirinya sebagai jin yang baik. Ibunya bahkan menangis semalaman di dalam penjara di sampingnya karena merasa tersiksa dengan garis takdir yang harus dilalui olehnya. Berkali-kali ibunya memeluknya erat dan berbisik padanya untuk selalu kuat dan tak boleh lemah. Sungguh malam itu Bemius sangat ingin menangis di pangkuan ibunya, tapi ia tak bisa karena ia telah terbiasa menyembunyikan perasaannya. Ia bersyukur karena ibunya ada bersamanya malam itu untuk menguatkannya. Ia bersyukur karena Tri Laksmini menemuinya di penjara secara diam-diam sebelum keesokan harinya ia harus pergi ke pengasingan.


Bemius memandang foto ibunya. Ia mengelus wajah ibunya dengan jari telunjuknya. Ada beberapa tetes air yang jatuh menimpa foto itu. Ia mengingat semua masa kecilnya yang sangat indah dan menyenangkan saat bersama ibunya. Ya, Bemius merasa hanya dengan ibunyalah ia bisa menjadi seorang jin biasa yang hidup sederhana dan penuh cinta, bukan sebagai seorang licik, kejam, dan tak punya hati seperti saat ini, yang hanya memikirkan kekuasaan.


"Maafkan aku ibu. Tentu kau tahu aku tak pernah sengaja membunuhmu. Maafkan aku juga karena tidak bisa menahan diri untuk menyerang kembali kerajaan Shaman. Aku sangat ingin membunuh suamimu ibu, sebagaimana dia berniat untuk membunuhku dulu." Bemius lantas memeluk foto ibunya. Ia memberikan kecupan pada foto itu. Kemudian meletakkannya kembali di atas meja dan pergi meninggalkannya sendiri.


***


Bemius mengumpulkan seluruh pasukannya. Itu adalah penyerangan secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Tidak hanya menyerang kerajaan, Bemius menginginkan kesengsaraan bagi para penduduk Shaman yang tinggal di dekat kerajaan. Ia ingin melihat ayahnya semakin menderita karena merasa gagal melindungi pengikutnya.


Bemius membagi pasukannya ke dalam lima kelompok. Kelompok pertama, kedua, ketiga, dan keempat masing-masing menyerang dari arah timur, barat, selatan, dan utara. Sedangkan kelompok kelima akan menyerang dari atas kerajaan. Bemius benar-benar tak mau membiarkan seorang pun kabur dari penyerangan itu.


Semua pasukan dari golongan jin, siluman, juga binatang yang dijadikan sebagai kendaraan tunggangan saling menoleh, memandang satu sama lain. Mereka heran dengan perubahan rencana yang begitu mendadak. Mereka sudah siap menyerang, senjata juga sudah di tangan, amunisi telah cukup, alutsista lengkap, skema penyerangan sempurna, lantas apa lagi yang mesti ditunggu. Meski hampir semua yang ada di hadapan Bemius bertanya-tanya soal penundaan penyerangan itu, tak ada satu pun yang berani untuk menyampaikannya. Semua memilih diam dan menunggu penjelasan dari sang raja yang terhormat. Ya, memang seluruh penghuni kerajaan Anathemus sangat takut pada Bemius. Karena ia tak segan-segan memenggal kepala pengikutnya saat itu juga jika dianggap melakukan kesalahan kecil sekalipun.


"Aku ingin memancing raja bod*h itu keluar. Dia harus dipaksa keluar dengan sendirinya. Kita harus membuat penduduk Shaman di sekitar kerajaan menderita terlebih dahulu. Aku yakin, ayahku tersayang tidak akan bisa menahan diri untuk keluar kalau tahu rakyatnya sekarat semua. Hahahaha...."


Rencana licik Bemius membuat seluruh pengikutnya riuh dan bertepuk tangan.


"Paduka Raja, bagaimana kalau kita teteskan racun penghilang kesadaran yang ada di laboratorium kita ke sungai yang ada di sekitar istana? Para penduduk menggunakan aliran air sungai itu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk untuk minum." usul Panglima I.


Seluruh panglima yang dimiliki Bemius ada 13 orang. Sembilan di antaranya dari golongan jin, dan empat sisanya merupakan siluman. Kesemuanya adalah murid berprestasi di lembaga pendidikan yang dikelola istana Anathemus. Semua panglima merupakan ahli pedang, jago panah, serta memiliki pengetahuan dan kecakapan luar biasa di bidang pertahanan, strategi perang, dan pengembangan kompetensi diri.


Bemius tersenyum lebar atas usul Panglima I. Ia ingat bahwa seorang jin atau siluman yang terkena racun penghilang kesadaran akan tergeletak lemas dengan mata terbuka dan sekujur tubuh membiru lantas gosong dan mengeluarkan aroma busuk khas bangkai tikus. Hal itu karena sebenarnya yang terkena racun telah mati tapi tak bisa keluar dari tubuhnya. Dan akan kembali hidup jika menerima penawarnya.


Bemius lantas terbahak. Ia mengingat chanayang dan pengawal kerajaan yang mati saat dirinya berusia belum genap empat tahun. Mereka menunjukkan ciri yang sama. Bemius menyetujui rencana itu untuk menyeret ingatan ayahnya ke hari kelahiran Philemon yang berbarengan dengan kematian kedua abdi setia kerajaan itu. Pikirnya, hal itu akan memukul batin ayahnya yang telah terkoyak. Dan tentu saja membuat Raja Ramadha berkeinginan melihat langsung keadaan rakyatnya.


"Hebat Panglima, rencana luar biasa. Ada lagi rencana untuk membuat raja menunjukkan batang hidungnya?"


"Kita lakukan pencurian di bank, paduka raja. Kita bisa menggunakan Pusaka Basuh Raga untuk menjelma menjadi direktur bank dan mengambil semua dana nasabah. Mereka penduduk biasa tak akan tahu penyamaran kita raja. Juga tak akan bisa dideteksi dengan alat pendeteksi sihir." usul seorang panglima lainnya.


"Ya, ya, ya. Begini saja, aku bebaskan para panglima untuk membuat kegaduhan di Shaman selama dua hari. Tapi ingat dengan cara halus dan tersembunyi. Kita tunggu Ramadhana keluar. Pasang cctv modifikasi yang tak terlihat di seluruh Shaman. Kita pantau dari sini. Dan saat letak raja bajing*n itu telah kita ketahui, kita susun rencana lanjutan."