After Death

After Death
Bab 62: Kesialan-kesialan Dante



Setibanya mereka di rumah sakit, Dante sudah tak ada. Petugas rumah sakit mengatakan bahwa tiga hari setelah dirawat, keadaan Dante telah pulih sehingga ia diizinkan untuk pulang. Mengetahui hal itu, Pram mengajak Kharon yang berada dalam tubuhnya untuk menemui Dante di Loket Registrasi Pascakematian tempat petugas kematian itu bekerja.


Benar saja. Pram melihat Dante sedang sibuk mencocokkan data para penghuni baru Anastasia Cato. Pram senang melihat Dante sudah tampak sehat.


"Sepertinya dia masih sibuk."


"Kita tunggu saja di sini sampai loket tutup."


Pram memilih untuk menunggu hingga Dante tak sibuk lagi. Ia tak ingin mengganggu. Ia duduk di pinggir jalan dan bersandar di tiang lampu.


"Tidak adakah tempat yang lebih baik untukmu. Di sini sedikit panas. Kita bisa duduk di dalam deretan kursi itu." kata Kharon yang tak tega melihat Pram.


"Tidak apa Kharon, aku tak ingin Dante melihat kita. Nanti dia pasti akan langsung menghampiri kita dan meninggalkan pekerjaannya. Sebentar lagi loket akan tutup. Tunggulah sebentar lagi."


"Baiklah jika kau ingin begitu."


Sejak dari Lembah Namea, Kharon sedikit berbeda. Ia cenderung diam dan jika berbicara pun tak selantang biasanya.


"Kharon, aku minta maaf kalau sering membuatmu kesal." kata Pram memecah keheningan.


"Aku tak pernah kesal padamu. Aku hanya selalu khawatir. Aku yang minta maaf karena kata-kataku mungkin sering menyakitkan."


"Kadang-kadang memang begitu." Pram tersenyum.


"Aku tak tahu Kharon, akhir-akhir ini aku terlalu sensitif dengan apapun yang kau lakukan. Itu membuatku menjadi sangat menyebalkan, bukan?"


"Kadang-kadang memang begitu." jawab Kharon menirukan dialog Pram.


***


Saat Loket Registrasi Pascakematian tutup, Pram berjalan masuk ke kantor itu. Ia menanyakan pada seorang petugas di sana bahwa ia ingin menemui Dante. Petugas itu memintanya untuk duduk dan menunggu, selagi Dante dipanggil.


Tak lama setelah itu, Dante muncul dengan wajah sumringah.


"Pram, kau sungguh mengejutkanku." kata Dante sambil memeluk Pram.


"Ini aku Kharon." suara Pram yang besar mengagetkan Dante dan membuatnya melepaskan pelukannya.


"Apa kucing ini akan terus mengikutimu, Pram?" Dante memulai ejekannya.


Kharon hanya diam karena kedongkolannya yang sangat besar. Bukan karena Dante menyebutnya kucing, melainkan karena aroma negatif yang biasa ia cium kini semakin kuat.


"Baiklah, ayo kita berbincang sambil makan di kantin. Aku sedikit lapar." Dante memegangi perutnya.


Mereka pun berjalan beriringan menuju kantin. Sesampainya di kantin, Pram tak memesan apapun karena masih kenyang. Hanya Dante yang terlihat begitu lahap memakan mie goreng di hadapannya.


"Bagaimana kabarmu dan Kharon? Apa urusan kalian sudah selesai?"


"Kami baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana? Maafkan kami karena tak menjagamu di rumah sakit."


Dante menarik napas panjang dan menghembuskannya.


"Aku sedang tak baik, Pram. Kesialan-kesialan harus aku terima. Kau masih ingat kan bahwa kadar kesialanku di Cato ini mencapai 50% alias separuh dari hidupku di sini akan aku jalani dengan susah payah."


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Pram dengan cemas.


"Pertama, aku kembali ke sini langsung masuk rumah sakit. Biaya perawatanku cukup mahal karena dokter tak menemukan sakit apa aku sebenarnya, sehingga uji laboratorium beberapa kali harus dilakukan. Tapi anehnya, setelah tiga hari badanku terasa bugar kembali dengan sendirinya. Kedua, ternyata ketika aku kembali, masa cuti kerjaku telah habis, sehingga saldo pahalaku harus dipotong untuk membayar denda karena dianggap lari dari tanggung jawab. Ketiga, gaji bulananku dipotong selama setahun ke depan karena dianggap lalai dalam bekerja. Dan keempat, seperti yang kau lihat, aku tak makan di rumah dan makan di sini karena aku harus lembur untuk mendapat penghasilan tambahan sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhanku."


"Aku menyesal mendengarnya. Aku tak menyangka karena aku, kau mendapatkan kesialan bertubi-tubi. Maafkan aku Dante." Pram tampak begitu bersalah.


"Bukan, ini bukan salahmu Pram. Ini memang sudah jadi takdirku di sini."


"Apa kau tak bisa berhenti dari pekerjaan ini dan mencari pekerjaan yang lebih baik dan menyenangkan?"


"Aku tak bisa, Pram. Di sini kita tidak bisa bertindak semau kita. Aku sudah terikat kontrak seumur hidup. Jalan satu-satunya adalah aku harus membayar kompensasi yang sangat besar jumlahnya. Gajiku selama bertahun-tahun pun tak akan cukup untuk membayarnya."


"Sayang sekali aku tidak bisa memberikan saldo rekeningku padamu."


"Sudahlah, Pram. Selama kau ada bersamaku, aku akan selalu senang dalam keadaan apapun."


Pram tiba-tiba menggebrak meja, membuat pengunjung lain di kantin itu terkejut dan menatap mereka. Dante tahu itu pasti ulah Kharon.


***


Halo semua.... Terima kasih author sampaikan untuk kalian yang masih setia menanti update dari novel After Death ini. Oh ya, author mau curhat sedikit nih 😄


Author sedang kejar target untuk menulis sebanyaj 60 ribu kata dalam sebulan ini. Mohon dukungan semangatnya dari kakak reader semoga author berhasil menggenapi 60 ribu kata sebelum bulan maret berakhir 😄😄


Karena sedang dalam posisi mengejar sebuah target yang tergolong berat, author berharap kualitas cerita dalam novel ini tidak menurun. Meski demikian, untuk mewanti-wanti hal tersebut, author sangat terbuka dengan segala kritik dan saran. Jika dirasa ada penurunan kualitas cerita, mohon kesediaan kakak reader untuk memberi peringatan dan masukan di kolom komentar. Jika memang cerita dalam novel ini tetap baik dan stabil, mohon beri dukungan berupa like di setiap chapter yg diupdate.


Jangan lupa untuk share Novel ini ke teman-teman agar semakin banyak yang membaca novel-novel bergenre Fantasi 😅😅😅