After Death

After Death
Bagian 7 : Jatuh Hati pada Petugas Kematian



Sekitar pukul delapan malam waktu setempat, Pram sedang menjalani proses operasi dan penjahitan luka. Dokter mengatakan bahwa saldo rekening Prameswari tak cukup untuk membeli obat anestesi. Sehingga Prameswari harus menahan rasa sakit yang hebat saat luka-luka di tubuhnya disentuh, dikorek, disayat dan kemudian dijahit manual tanpa sedikit pun bantuan obat anestesi.


Prameswari menejerit-jerit dan berteriak bahwa ia sudah menyerah. Berulang kali ia memohon kepada Dokter untuk menghentikan proses operasi, tapi Dokter nampaknya tak menghiraukan teriakan Pram.


“Nona Prameswari, tenanglah sedikit. Jika proses operasi ini tak dilakukan, besar kemungkinan lukamu akan membusuk, dan tentu itu akan membuat lukamu rentan dihuni belatung. Memangnya, Nona rela kalau dada Nona dihuni belatung-belatung yang menjijikkan?”


“Baiklah… Baiklah… Aku menyerah, Dokter, tolong resepkan aku obat yang bisa mempercepat kematianku. Kurasa aku sudah tak memiliki hasrat untuk hidup, sedikit pun! Aku ingin mati, Dokter!” Setelah sekian kali Prameswari berdoa agar tak mati, kini ia justru memohon-mohon untuk dicabut nyawanya. Ia sudah tak tahan dengan aneka kesialan yang menderanya beberapa waktu terakhir.


“Baiklah, kupikir Kau memang perlu istirahat sejenak. Biar kita lanjutkan operasinya beberapa jam lagi, sekarang, tenangkan dulu tubuh Nona dan nikmatilah snack di meja Nona, sepertinya Nona belum makan sama sekali sejak masuk ke dunia ini.”


“Dokter, aku lapar dan tidak butuh snack. Aku butuh makanan bergizi agar lukaku segera sembuh!”


“Nona, saldo rekeningmu sangat tipis, jika hari ini kami memberimu makanan, maka kau harus menahan lapar dua hari besok.”


“Persetan dengan saldo rekening b*ngsat itu, Kau tahu, aku bahkan bisa membeli pulau dengan uang yang kukumpulkan sendiri!”


Dokter dan beberapa perawat hanya tersenyum simpul lalu beranjak pergi meninggalkan Prameswari yang sedang marah. Baik Dokter dan para perawat, mereka enggan berdebat lama-lama dengan Prameswari yang tempramen. Sementara itu, Pram semakin geram karena tak digubris, belum lagi dia masih harus menahan semua sakit di tubuhnya, sekaligus lapar di perutnya.


“Selamat malam, Halo, Pram… Bagaimana kabarmu?” Seseorang membuka pintu ruang operasi dan mendekat.


“Oh, ya… Sesuai pesanmu, aku datang menjenguk. Ngomong-ngomong karena aku juga Petugas resmi, aku memiliki hak untuk masuk dan mengurusi berbagai hal, termasuk menemuimu di sini!”


“Kau tahu, ini semua gara-gara Kau! Kurasa Kau perlu membiayai seluruh pengobatanku dan memberiku makanan yang layak!”


“Pram, sudah kukatakan padamu sebelumnya, di sini kita tak bisa saling membagikan uang. Tak seperti di duniamu yang sebelumnya, Kau bisa memberikan hartamu ke siapa saja, tapi di sini, uangmu adalah uangmu. Kau tak bisa memberikan kepada siapa pun.”


“Brengs*k! Siapa pemimpin negeri ini? Aku ingin unjuk rasa!”


“Presiden di negeri ini? Oh, percayalah, orang paling berkuasa di dunia ini pun tak bisa mengubah apa pun!”


“Lalu, siapa sebenarnya yang mengendalikan dunia ini? Tuhan? Tuhan yang mana yang berkuasa di dunia ini? Apakah masih memiliki kerabat dengan Tuhan yang berkuasa di duniaku yang dulu?”


“Pram… sudahlah… Belum saatnya kau paham segalanya. Sambil berjalan pelan-pelan mari kubantu dirimu untuk memahami dunia ini.”


“Kau??? Membantuku?? Kau lupa barusan kau menembakiku tanpa ampun? Kau anggap aku apa? Bekicot?”


“Pram, tenanglah dulu. Aku minta maaf. Aku juga tak mengerti mengapa aku begitu lepas control. Jika dipikir-pikir, bukannya aku membela diri ya, Pram, tapi ini mungkin ada hubungannya dengan informasi di database tentang dirimu. Tadi sudah kujelaskan bahwa posisimu di dunia ini sangat tidak menguntungkan. Kau memiliki saldo rekening yang sangat sedikit, sekaligus Kau memiliki derajat kesialan di angka yang cukup tinggi. Yaitu 75% dari total usiamu di dunia ini. Itu artinya, sebagian besar hidupmu di dunia ini adalah tentang mengalami banyak kesialan dan penderitaan.”


Denta menjelaskan panjang lebar dengan nada prihatin. Mendengar penjelasan Denta yang sangat tak mengenakkan, Prameswari semakin geram dan pusing.


“Pertanyaannya sekarang, mengapa harus aku? Dan mengapa harus demikian? Dosa apa yang kuperbuat? Aku bahkan mati dengan begitu tragis di duniaku sebelumnya. Oh, Gosh… apakah ini artinya aku sekarang percaya pada dunia bod*h ini? Gosh…”


“Dengarlah, Pram… Aku sendiri merasa ada yang tidak beres dengan datamu. Sudah kuteliti berulang kali, bahkan, Kau tak pernah melakukan dosa-dosa besar atau mencelakakan orang. Jika saldomu sedikit, itu mungkin karena dengan jumlah hartamu yang berlimpah, kau tak pernah melakukan sedekah. Tapi untuk kasus derajat kesialanmu yang tinggi, kurasa seharusnya ada yang keliru. Kukira selama ini hanya orang-orang dengan kejahatan yang keji yang menerima pembalasan setimpal macam ini.”


“Pram… Bukan begitu cara hidup di sini. Kami hidup sesuai regulasi. Dan di sini, Regulasi itu berlaku secara otomatis. Bisa dikatakan, Tuhan di dunia yang kita tinggali ini adalah Regulasi itu sendiri.”


“Bulsh*t semuanya. Pokoknya aku tidak mau lagi menerima kesialan-kesialan apa pun. Dan ingat, aku masih marah padamu, Dante! Sebagai gantinya, Kau tak boleh beranjak dari sini sampai besok.”


***


Pukul delapan pagi waktu setempat, Dante bersusah payah membangunkan Pram yang tertidur.


“Ayolah… Pram… Aku akan terlambat jika tak segera berangkat kerja… Bangun…!”


Prameswari berusaha membuka matanya, ia kaget melihat Dante yang gugup kebingungan.


“Kau benar-benar menungguiku semalaman?” Pram terkejut melihat Dante masih mengenakan pakaian yang sama. Semalam ia hanya menghardik asal, dan tak berharap Dante akan menurut begitu saja.


“Kau benar-benar tak ingat? Ah… Kau rewel sekali semalaman. Tubuhmu demam dan Kau merengek untuk dikompres, dipijat, dikipas-kipas, bahkan Kau memaksaku untuk memelukmu. Kau tak ingat semua?”


Prameswari mendadak kaget dan setengah tersipu. Ia tak begitu ingat kejadian semalam. Mungkin karena demamnya tinggi sehingga kesadarannya setengah hilang.


“Bahkan, saat proses penjahitan luka, Kau menggigit jari-jemariku. Menjambak rambutku, dan menampar pipiku berulang kali. Kau menjerit memakiku. Selalu mengatakan bahwa semua ini salahku.”


“Benarkah demikian?"


“Apakah aku nampak sedang berbohong bagimu?”


“Lalu, mengapa Kau diam saja? Mengapa Kau tak pulang saja dan tidur nyenyak di rumah?”


“Entahlah, kurasa ini semua memang salahku. Hem… Ketahuilah, aku tak mengapa Kau perlakukan demikian. Sampai tiba saatnya nanti Kau tak lagi marah padaku, aku akan tetap ke sini menjengukmu.”


Dante mengusap-usap rambut Prameswari dan segera pamit untuk bekerja. Pram melihat tanpa berkedip ke punggung Dante hingga punggung itu menghilang dari pandangan. Pikirannya melayang tak menentu, antara terharu, takjub, dan terpesona pada keluguan Petugas Kematian yang kemarin bertingkah sangat kejam itu.


“Hei, Nona, cukup ya melamunnya, sekarang saatnya Nona minum obat.”


“Oh, eh… Iya, Dokter.”


“Ada apa? Kau tergila-gila pada petugas kematian itu? Ha ha, Kau belum mengerti sifat mereka. Mereka sangat misterius dan biar kuberitahu satu fakta tentang mereka, kudengar, petugas kematian itu tak memiliki hati.” Sang Dokter memberi sedikit wejangan pada Pram sambil meneliti satu demi satu luka yang diderita Prameswari.


“Kurasa Dante akan menemanimu selama seminggu lagi,” ucap Dokter sambil berlalu pergi.


Di tengah aneka rasa nyeri dan ngilu yang dideritanya, muncul satu perasaan bahagia dalam hati Prameswari. Tiba-tiba ia ingin hari segera berubah petang dan Dante berada di dekatnya lagi.