
Beberapa saat setelah hening menyelimuti kamar Bemius, putra pertama Raja Ramadhana itupun mulai angkat bicara terkait alasannya ingin meneluh adiknya.
"Aku selalu menerima ancaman dari jin hitam yang menginginkan kematian ayah. Mereka memaksaku untuk membunuh ayah. Tapi aku tak mau karena raja tidak boleh mati meninggalkan penduduknya. Lalu mereka meminta ganti."
Sebenarnya Bemius sedikit kesulitan mencari alasan yang tepat agar peneluhan yang hendak dilakukannya itu bisa terampuni. Namun, bukan Bemius namanya jika tak mampu meyakinkan orang lain.
"Paduka dengar, betapa Bemius sangat menyayangi paduka." kata Tri Laksmini termakan oleh tutur kata Bemius.
"Pandainya kau berdalih. Mengapa tak kau korbankan dirimu sendiri?"
"Mereka tak bisa membunuhku sebagai tumbal karena aku lahir di purnama ketujuh. Aku selalu menolak permintaan mereka untuk mengambil nyawamu Philemon. Tapi mereka lantas mengancamku akan meneluh ibu, membuat ibu menderita dengan sakit yang memalukan hingga akhir hidupnya."
"Semua penjelasanmu tak masuk akal. Mengapa pula mereka tiba-tiba bisa seenaknya mengancammu? Dan mengapa pula kau harus takut dengan ancaman mereka? Katakan! Kau diam karena kau tak bisa menjawab bukan?"
"Sakit hati yang aku miliki sejak lahir karena merasa tak diinginkan membuat jin hitam dengan ilmu tinggi bisa dengan mudah menyusup ke tubuhku."
Entah benar atau hanya karangan Bemius, jawaban itu membuat ayahnya diam sesaat. Raja Ramadhana tahu bahwa memang amarah dan kebencian bisa mengundang jin jahat untuk masuk ke dalam tubuh sesama jin ataupun manusia. Bedanya, masuk ke tubuh sesama jin di sini tidak seperti yang terjadi pada manusia, benar-benar masuk dan bersemayam. Jika dengan sesama jin, biasanya kekuatan jin hitam yang berilmu tinggi mampu mengendalikan jin lainnya untuk menuruti permintaannya atau dengan kata lain hati jin yang dirasuki telah dikunci oleh energi negatif sehingga tanpa disadari telah melakukan suatu kejahatan.
"Aku tak peduli dengan semua omong kosongmu. Yang aku tahu, sekarang juga aku akan membunuhmu sebelum kau menyusahkan semua penduduk Shaman."
"Apa kau tak melihatku ada di sini. Berani kau membunuh putraku, kau tak akan pernah melihatku hidup lagi."
"Ibu." Philemon sangat cemas. Ia bingung harus bersikap bagaimana. Ia tidak pernah melihat kedua orang tuanya bertengkar sebelumnya.
"Ayah jernihkanlah pikiran ayah. Jangan sampai kita kehilangan ibu karena pertengkaran ini." Philemon memohon pada ayahnya. Ia berlutut dan menangis melihat ayahnya yang selalu lembut dan penyayang menjadi begitu murka dan emosional.
"Dia harus menerima hukuman karena telah mencoba untuk membunuhmu. Walau dengan alasan apapun tindakannya tidak bisa dibenarkan." Raja Ramadhana mulai mengendalikan emosinya setelah menarik napas panjang. Memang benar kata Philemon, ia tidak bisa mengorbankan Tri Laksmini yang selama ini telah menjadi istri, ibu, dan ratu yang sangat baik.
"Maka berikanlah hukuman itu, ayah. Tapi karena Bemius adalah putra ayah, berikan pula belas kasih ayah."
Beberapa saat berlalu tanpa suara dari siapapun. Raja Ramadhana ingin membuat Bemius pergi jauh dari kerjaan dan hidup serba terbatas di tempat lain. Dengan harapan hal itu bisa mengubah tabiat buruk Bemius dan menjadikannya kembali sebagai seorang anak yang selalu membahagiakan.
"Baiklah. Kalau begitu kau harus pergi ke pengasingan dan tinggal di sana untuk seumur hidupmu. Jauh dari kerajaan ini. Dan kau Tri Laksmini, jangan meminta ampunan apapun lagi. Aku sudah sangat meringankan hukumannya."
Philemon memeluk ibunya. Ia berusaha membuat ibunya menerima keputusan ayahnya dengan lapang dada dan kembali menjadi seorang istri yang taat.
***
Dengan berat hati Tri Laksmini melepas kepergian Bemius ke pengasingan. Bemius diberi hukuman pengasingan seumur hidup dan ia tidak boleh dijenguk oleh keluarga kerajaan sampai kapanpun juga.
Tri Laksmini menganggap hari itu sebagai hari terakhirnya melihat putra pertamanya. Masih terlalu sulit baginya merelakan anaknya yang masih remaja itu pergi dan tak kembali. Ia pun mengantarkan putranya itu keluar istana bersama Philemon. Sedangkan sang raja, ia memilih untuk melihat kepergian Bemius dari lantai atas kerajaan. Tampak air mata juga menetes di pipi Raja Ramadhana. Karena sebetulnya ia pun ragu apakah Bemius pantas menerima hukuman seberat itu. Semua kemewahan tidak akan didapatkan putra pertamanya itu di pengasingan. Tapi di lain sisi, hati Raja Ramadhana memintanya untuk mengakhiri hidup Bemius saja sehingga semua hal buruk tidak akan terjadi di kemudian hari. Dan untuk ketiga kalinya, Raja Ramadhana mengabaikan kata hatinya, lebih memilih untuk menuruti perasaannya.
Sementara Bemius, ia merasa sangat bahagia atas keputusan ayahnya. Meletakkannya di pengasingan sama artinya dengan membiarkan dirinya membentuk pasukan jin hitam untuk melakukan penyerangan di kemudian hari, dengan leluasa, tanpa pengawasan langsung dari ayahnya.
Ya, Raja Ramadhana tak pernah mengira jika keputusannya saat itu, yang membiarkan Bemius tetap hidup adalah suatu kesalahan besar yang harus ditebus dengan nyawa para pengawal dan panglima, juga penduduk Shaman yang mati saat melawan kudeta yang dilakukan Bemius. Juga harus ditebus dengan nyawa istrinya yang mati di tangan Bemius karena berusaha menghalang-halangi anak pertamanya itu membunuhnya. Dan harus ditebus dengan luka di tangannya yang selalu mengingatkannya pada luka hatinya, pada penyesalannya yang tak mampu menjaga keluarga dan kerajaannya.