After Death

After Death
Bab 121: Kemalangan Demi Kemalangan III



Ghozie mendapatkan kamar barunya, yakni berada tepat di samping ayahnya. Ia yang masih tergolek lemas karena sakit maghnya kambuh, ditambah dengan tekanan darah yang rendah, juga anemia, dipaksa untuk tetap berbaring.


Ghozie memandangi wajah ayahnya yang berahang besar dan berhidung mancung. Ia selalu sayang pada lelaki yang memberikan kenangan banyak pukulan pada masa kecilnya itu. Kini lelaki yang selalu ia hormati itu masih tak sadarkan diri.


Seorang perawat laki-laki menyuntik lengan ayahnya. Lelaki bermasker itu juga memeriksa selang infus dan denyut nadi Suwignyo.


“Mas perawat, apa ayahku baik-baik saja?” tanya Ghozie masih dengan suara lirih.


“Kondisi Pak Suwignyo sudah lebih baik. Sekarang tinggal menunggu beliau siuman. Apakah Anda putranya?” perawat lelaki itu menghampiri Ghozie.


“Ya, Mas. Aku putra satu-satunya yang masih hidup. Kami tidak memiliki siapapun lagi. Bagaimana dengan biaya administrasi kami, Mas?”


“Tidak apa. Nanti kalau kondisi Anda sudah membaik, Anda bisa segera menyelesaikannya.”


“Bagaimana jika aku meminta tolong Mas untuk mengambil catatan tagihan rumah sakit? Agar aku segera melunasinya.”


“Baiklah. Tunggu sebentar ya.”


Perawat laki-laki yang masih muda itu berlalu. Meninggalkan Ghozie yang masih terus memikirkan kondisi kantor dan kedua satpamnya. Ia pun menguatkan diri, mengumpulkan segenap tenaga untuk menelpon polisi.


Dan Ghozie merasa lega karena kedua satpamnya tidak mengalami luka yang serius sehingga hanya perlu mendapat perawatan jalan. Namun, penjarahan yang terjadi di kantornya tidak menyisakan apapun yang berharga. Polisi juga menambahkan bahwa semua sarana dan prasarana kantor, seperti meja, kursi, lemari, dan sebagainya yang masih tersisa juga dirusak oleh para pencuri. Polisi menduga bahwa yang menimpa kantor Ghozie bukan murni pencurian saja, melainkan juga ada motif lain yang ditandai dengan adanya upaya perusakan yang sebenarnya tidak mungkin dilakukan oleh pelaku bila hanya berniat mencuri. Kantor pun sementara ditutup karena masih dalam penyelidikan ditambah lagi Ghozie yang merupakan pemilik perusahaan tidak dapat dihubungi.


Ghozie berterima kasih dan meminta maaf kepada pihak kepolisian. Ia juga menerangkan soal kondisinya sekarang dan meminta waktu untuk kemudian pergi ke kantor polisi. Ia meminta polisi untuk tidak datang ke rumah sakit agar pikiran ayahnya tidak terganggu hingga akan berpengaruh pada proses penyembuhan.


Satu kabar mengejutkan yang Ghozie peroleh dari polisi adalah setelah dilakukan pemeriksaan terhadap CCTV yang terpasang di banyak titik di kantor, yang ternyata tidak dirusak oleh kawanan pencuri, pada malam penjarahan itu tidak ditemukan apapun yang mencurigakan. Kantor tampak lengang karena semua karyawan memang sudah pulang. Lalu, tiba-tiba CCTV tidak menampilkan gambar apapun. Padahal saat kamera pengintai itu diperiksa, tidak ditemukan kerusakan oleh teknisi yang telah ahli di bidangnya.


Kabar itu tentu membuat beban pikiran Ghozie bertambah. Selain itu, semua rekan bisnis yang telah menanamkan modal dan pengguna jasa perusahaannya yang telah melunasi sebagian biaya pembuatan iklan tentu akan meminta pertanggungjawaban padanya.


Maka, untuk yang kesekian kali, Ghozie memegangi kepalanya. Sudah terbayang dalam pikirannya betapa banyaknya biaya ganti rugi yang harus ia keluarkan. Ia sudah mendapat firasat akan menjadi seorang tunawisma juga. Belum lagi biaya rumah sakit yang tentunya tidak sedikit. Biaya santunan musibah kepada kedua satpamnya, biaya pesangon bagi para karyawannya yang sudah mutlak akan terPHK karena perusahaan tentu akan mengalami pailit.


“Ghozie...” terdengar lirih suara itu memanggil. Ghozie sangat hafal dengan suara itu. Itu adalah suara lelaki yang menghabiskan waktunya untuk memarahi Ghozie. Ya, itu suara Suwignyo.


Ghozie yang masih tertidur lemas seolah mendapat suntikan tenaga ekstra. Ia langsung duduk dan berjalan mendekati ayahnya sambil menenteng selang infus.


“Ayah, ayah sudah bangun. Apa yang sekarang ayah rasakan? Apa ada yang sakit? Sini biar aku pijit.” semua kata-kata itu meluncur keluar dengan cepat dan terburu-buru. Ghozie menggenggam tangan ayahnya dengan erat. Beberapa kali ia juga mencium tangan tersebut.


Suwignyo tersenyum melihat anak lelakinya begitu mengkhawatirkan keadaannya. Ia ingin sekali mengelus rambut Ghozie, tapi saat berusaha menggerakkan tangan, Suwignyo merasa tangannya sangat berat.


“Ada apa ayah?” Ghozie mendapati raut muka yang berbeda pada ayahnya.


“Ayah tidak bisa menggerakkan tangan.”


“Sebentar akan aku tanyakan pada dokter, ayah.”


Ghozie berdiri dan sedikit sempoyongan. Sebenarnya pening di kepalanya belum hilang sepenuhnya. Tapi karena saking bahagianya, ia sampai tidak merasakan sakit. Saat Ghozie hendak membuka pintu, ada suster Ana yang menyembul dari luar membuat jantungnya hampir lepas.


“Mau kemana? Kenapa Anda sudah berdiri begini? Seharusnya Anda masih harus berbaring, setidaknya hingga tekanan darah Anda normal.” suster Ana terdengar sedikit marah mendapati Ghozie yang sulit diminta untuk diam dan berbaring saja.


“Ayahku sudah sadar, Sus. Tapi dia tidak bisa menggerakkan tangannya. Ayahku memang lumpuh karena stroke, tapi itu hanya membuat kakinya saja yang tidak bisa berjalan. Sebelumnya dia masih bisa minum teh, menulis, mengganti canel tv, telepon, membuka gagang pintu, dan memukul...” Ghozie tak melanjutkan ucapannya. Ia hampir saja keceplosan.


“Memukul?” tanya suster Ana menanti kelanjutan dari kata-kata Ghozie.


“Memukul.... nyamuk dan lalat. Ya, nyamuk dan lalat.”


Suwignyo yang mendengar percakapan antara Ghozie dan suster Ana, berkaca-kaca. Ia tahu benar bahwa yang akan diucapkan Ghozie adalah kebiasaan Suwignyo memukul kepala Ghozie yang masih sering ia lakukan bahkan ketika ia sudah terkena stroke.


“Berbaringlah di tempat tidur Anda. Saya akan memanggilkan dokter yang menangani Pak Suwignyo.”


Seorang perawat laki-laki yang tadi memeriksa infus ayahnya muncul dari balik pintu. Membuat Ghozie terkejut untuk yang kedua kalinya, juga suster Ana yang tampak meletakkan tangan kanannya di dada.


“Ada apa ini?” tanya perawat laki-laki itu.


“Aku dibuat susah oleh lelaki ini, Pram.” kata suster Ana sambil menggeleng dan menunjuk ke arah Ghozie. Ia tahu bahwa tindakannya itu tidak sopan dan seharusnya tidak dilakukan. Tapi, rasa dongkolnya sudah tidak tertahan menghadapi Ghozie yang sulit diberitahu. Mendengar sahabatnya bertanya, membuat naluri ingin curhatnya muncul.


Sedangkan Ghozie, ia sama sekali tidak tersinggung dengan kata-kata suster Ana. Namun, ia sangat terkejut mendengar suster cantik itu menyebut sebuah nama yang selama ini selalu ia rindukan.


“Maafkan saya.” kata suster Ana lirih dan tertunduk lelah.


“Oh, tak masalah. Memang aku yang salah. Aku hanya kaget mendengar suster menyebut nama adik keduaku, Pram.” kata Ghozie sambil menggeleng dan tersenyum.


“Oh, itu nama saya, Pramudi.” ucap perawat lelaki.


“Di mana adik Anda sekarang? Bukankah seharusnya dia di sini untuk menjaga Anda dan Bapak Suwignyo?” tanya suster Ana.


“Ana.” Perawat Pramudi memanggil suster Ana karena ia masih ingat bahwa Ghozie tadi mengatakan padanya bahwa hanya ia putra Bapak Suwignyo yang masih hidup.


“Apa?” suster Ana tidak mengerti maksud Pramudi.


“Prameswari sudah meninggal.” kata Ghozie sambil tersenyum. Membuat suster Ana merasa bersalah.


“O, maafkan saya.” suara suster Ana terdengar penuh sesal.


“Mari duduk atau berbaring di tempat tidur Anda. Saya sudah mendapat rincian tagihan rumah sakit yang harus Anda lunasi.” Pramudi membantu Gozie berjalan menuju tempat tidurnya. Meninggalkan suster Ana yang masih dipenuhi tanda tanya akan kehidupan pasiennya yang sepertinya begitu pelik dan menyedihkan.


Ghozie membaca secara teliti semua biaya rumah sakit yang mesti dibayar hingga hari ini. Jumlahnya sangat fantastis. Cukup untuk membeli sebuah mobil. Hal itu juga karena pihak rumah sakit melakukan banyak uji laboratorium untuk mengetahui penyebab ayahnya muntah darah. Dan setelah melakukan berkali-kali dengan metode yang berbeda-beda, tidak juga ditemukan apa penyebabnya. Ditambah lagi dengan biaya perawatan untuknya juga yang cukup besar. Untung saja rumah sakit mengizinkan ia menempati ruangan yang sama dengan ayahnya, sehingga biayanya sedikit berkurang.


“Aku akan segera membayar semuanya.” kata Ghozie sambil menutup buku di hadapannya dan menyerahkannya kepada Pramudi.


“Baik, nanti pegawai bagian keuangan akan datang kemari agar Anda tidak perlu pergi ke loket pembayaran.”


“Terima kasih, Mas Pram.” Ghozie berhenti sejenak sebelum menyebut nama itu.


Perawat Pramudi tersenyum dan berpindah ke sebelah Suwignyo. Sedangkan suster Ana, berdiri di samping Ghozie. Menyelimuti pasiennya itu dan memintanya untuk rehat dulu agar kondisinya lekas pulih sehingga bisa lebih fokus menjaga ayahnya.


Suster Ana lantas menghampiri Pramudi dan mengatakan bahwa bapak Suwignyo tidak bisa menggerakkan tangannya. Pramudi melakukan beberapa pemeriksaan, sebelum akhirnya keluar bersama suster Ana. Pramudi juga meminta Suwignyo untuk istirahat dan jangan banyak bicara terlebih dahulu. Ia juga mengatakan bahwa dokter akan segera datang untuk mmeriksa.


Baik Ghozie maupun Suwignyo sama-sama menutup mata hingga kedua perawat itu keluar kamar. Dan keduanya sama-sama membuka mata saat Pramudi dan suster Ana sudah tidak terlihat.


“Ghozie, apa kau baik-baik saja?” kata Suwignyo pelan. Ia sudah tidak ingat kapan terakhir kali menanyakan kondisi anaknya itu.


“Iya, ayah. Aku hanya sedikit kelelahan.” kata Ghozie dengan senyum sumringah.


Kedua lelaki itu bercakap-cakap sambil berbaring. Suwignyo meminta maaf dan berterima kasih kepada Ghozie untuk semuanya. Dan Ghozie yang tahu bahwa ayahnya sedang menangis, mencoba untuk menenangkan dengan mengatakan bahwa ia tidak pernah marah atau sakit hati pada ayahnya.


“Aku sangat rindu pukulan ayah.” Ghozie berkelakar dan tertawa. Membuat ayahnya turut tertawa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,


 


Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:


1.       Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.


2.       After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.


3.       Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.


4.       Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.


5.       Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)


 


Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^