After Death

After Death
Bab 111: Siluman yang Tertanam



Pram memang sengaja mengatakan isi hatinya dan menceritakan masa lalunya yang pahit kepada Dante dengan harapan akan menyadarkan lelaki petugas kematian itu. Karena Pram tahu bahwa sebetulnya Dante adalah seorang yang baik, jiwanya berasal dari anak usia satu tahun. Jangankan menyakiti orang lain, mengingat orang yang menyakitinya saja anak balita selalu kesulitan.


Nyatanya tindakan Pram memang berhasil untuk membuat Dante ragu untuk melanjutkan misi dari Bemius, tapi beberapa kali lelaki itu mencoba untuk mengatakan yang sebenarnya, ia tak bisa. Mulutnya tertutup rapat, tenggorokannya seperti tercekik, dan detak jantungnya menjadi sangat cepat. Anehnya semua yang ia rasakan itu perlahan menghilang ketika ia berhenti berusaha untuk memberi tahu Pram yang sebenarnya. Namun, Dante tidak mengira jika hal itu adalah situasi yang sengaja dimunculkan. Ia tak sadar jika tubuhnya telah disaboltase.


Dalam suasana makan yang hangat semua orang saling berbagi senyum dan bercerita. Namun, tidak dengan Dante. Ia beberapa kali hanya tersenyum alakadarnya. Tatapannya menerawang jauh. Terkadang ia juga seperti menahan diri untuk mengatakan sesuatu, lalu memegangi lehernya. Saat ditanya perihal apa yang terjadi, Dante hanya tersenyum dan menggeleng.


Dalam tubuh Dante memang dipasang beberapa siluman hebat sekaliber para sesepuh jin hitam. Mereka ditanam di tenggorokan, mata, mulut, jantung, dan perut. Para siluman itu akan bereaksi sesuai rangsang yang diberikan.


Harusnya, sebagai sesama penghuni Shaman, Raja Ramadhana, Philemon, dan Kharon lebih mudah untuk mendeteksi keberadaan para siluman itu. Namun, perpaduan antara kesaktian para siluman dengan penemuan hasil rekayasa yang dilakukan oleh para peneliti kerajaan Anathemus, membuat keberadaan siluman tersebut sulit untuk diketahui.


"Apa kau baik-baik saja, Dante?" tanya Kharon melihat Dante yang beberapa kali memegangi lehernya. Sejak Kharon tahu bahwa Dante berusia satu tahun saat meninggal dan langsung menjadi pria 25 tahun saat hidup di Cato, sikapnya berubah menjadi lebih halus.


Kharon ingat pada kata-kata Dewi Thalassa bahwa anak-anak tidak bisa menolak iming-iming sesuatu yang ia inginkan. Kharon baru mengerti semua maksud Dewi penunggu Lembah Namea itu saat Pram menceritakan latar belakang Dante.


Dante tersenyum dan menggeleng pada Kharon.


"Mengapa sikapmu jadi berbeda, Ron?" tanya Dante menyadari perubahan Kharon.


"O, apa iya? Aku merasa sama saja. Mungkin karena pagi ini aku merasa lebih segar."


Kharon merasa sedikit kikuk. Ia tak biasa berbicara dengan nada pelan kepada Dante. Biasanya, ucapannya untuk Dante selalu disertai amarah ataupun prasangka buruk, sehingga menjadi begitu kasar bahkan terkadang terdengar menghina.


"Emm, Dante. Maafkan aku jika selama ini telah bersikap buruk padamu. Ya, kau tahu, hari-hari terkadang terasa begitu berat dan tanpa bisa terkendali membuat diriku menjadi pria menyebalkan." kata Kharon tulus dari dalam hati. Ia merasa sangat berdosa karena sering memusuhi lelaki dengan jiwa balita itu.


"Iya, kau memang seringkali menyebalkan. Haha. Sebagai lelaki kau terlalu mudah marah... Ron." kata Dante dengan senyum dan jeda yang cukup lama ketika hendak menyebut Kharon dengan panggilan yang lebih akrab.


Dante ingat bahwa dirinya dan Kharon sepertinya memang belum pernah akur. Hanya sekali saja saat mereka di rumah sakit karena ia jatuh sakit setelah pulang dari hutan tempat tinggal peri Eliztanu.


"Dante, saat kita tiba di Cato nanti, kita akan pergi kemana?" tanya Pram membuat Dante tersedak.


"Minumlah, nak." Raja Ramadhana menyodorkan sebotol air pada Dante.


"Terima kasih paduka."


Sesungguhnya Dante belum ingin kembali ke Cato, bahkan ia tidak ingin ke sana lagi karena tahu kalau Pram akan mendapat kesulitan di sana. Ia sangat berharap bisa membuka mulutnya untuk menceritakan semua yang ia tahu sebelum tiba di Cato.


"Pram." kata Dante lirih kemudian kembali memegangi lehernya yang seperti tercekik.


"Iya."


"Mengapa kau selalu memegangi lehermu?" tanya Kharon setelah berkali-kali melihat Dante melakukan hal yang sama.


"Entahlah, aku merasa leherku terkadang seperti tercekik." kata Dante masih memegangi lehernya. Para siluman di tubuh Dante memang dipasang tanpa sepengetahuannya.


"Minumlah, tuan." uluran air minum dari Pram membuat Philemon tersenyum hingga wajahnya sedikit memerah.


"Nanti kita terlebih dahulu akan menemui kepala distrik dan meminta penjelasan darinya tentang apa yang harus kau lakukan. Selebihnya aku tidak tahu."


Kali ini Dante mulai menemukan alasan atas rasa sakit di lehernya. Ia ingat, rasa sakit itu muncul selalu bersamaan dengan mulut terkunci dan detak jantung yang lebih cepat. Semua terjadi selalu saat ia ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Pram.


"Apa setelah ke Cato, aku bisa pergi lagi, Dante?"


Dante tersedak lagi. Kali ini ia menerima uluran botol minum dari Kharon.


"Sepertinya sakit di lehermu itu cukup serius hingga kau berkali-kali tersedak. Apa aku boleh memeriksanya?" tanya Kharon.


Kharon sekarang mengerti mengapa Pram tidak pernah berbicara kepada Dante sekasar berbicara padanya. Pandangannya kepada Dante juga berubah. Tidak mungkin anak balita memiliki niat jahat pada orang lain. Kalaupun bisa menjadi demikian, bukan karena si anak yang jahat, melainkan yang memberi iming-iminglah yang kelewat licik.


"Aku tidak apa-apa. Saat kembali ke Cato nanti semua rasa sakit ini pasti hilang." jawab Dante tidak ingin membuat semua orang cemas. Ia sudah tahu soal rasa sakit di lehernya adalah ulah anak buah Bemius.


Sementara itu, Pram tersenyum-senyum melihat perubahan sikap Kharon pada Dante. Ia yakin bahwa suatu saat kedua lelaki itu bisa menjadi sepasang sahabat sejati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,


 


Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:


1.       Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.


2.       After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.


3.       Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.


4.       Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.


5.       Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)


 


Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^