After Death

After Death
Bab 166: Misi Penyelamatan I



Pram bisa bernapas lega karena kini ia tidak akan lagi dipusingkan dengan aturan denda di Anastasia Cato. Kepala distrik telah membebasknnya dari segala aturan yang berlaku di Cato demi bisa menjalankan tugasnya sebagai anak purnama ketujuh dengan baik.


 


Maka, mereka berempat pun lekas berpamitan dan segera berteleportasi ke negeri Shaman.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Raja Ramadhana memastikan.


"Siap!"


Mereka pun berteleportasi setelah beberapa jam sebelumnya meminum obat penawar racun.


Saat sampai di Shaman, Raja Ramadhana dan semuanya benar benar dikejutkan dengan kondisi Shaman yang sangat mencekam, gelap, pengap, dan berbau tidak sedap. Mereka berada di belakang rumah warga yang sepi dan di sekitarnya hanya ada sedikit rumah.


Pram dan Kharon mulai beraksi untuk menghabisi penghuni rumah. Semua keadaan sangat mendukung sebab di Shaman semua orang tengah terlelap.


Sementara itu, Raja Ramadhana dan Philemon mulai bergerak perlahan ke sungai untuk menaburkan bibit racun. Mereka bergerak sangat hati hati sebab anak buah Bemius mungkin saja memasang banyak cctv di jalan dan tempat umum. Meskipun sebelumnya Philemon dan Raja Ramadhana sengaja melakukan penyamaran dengan menggunakan pakaian milik jin hitam dekat tempat pemberhentian teleportasi. Mereka juga memakai penutup muka. Tapi Philemon dan Raja Ramadhan khawatir jika keberadaannya dikenali oleh Bemius.


"Apa yang kalian lakukan saat semua orang tidur?" tegur seorang penjaga yang berkeliling memastikan keamanan Shaman.


Tentu saja teguran itu sangat mengejutkan Philemon dan Raja Ramadhana meski disampaikan dengan nada biasa. Philemon dan Raja Ramadhana berhenti dan mencoba mengatur napas sebelum menjawab pertanyaan penjaga yang berada dua meter di belakangnya.


"Ayahku belum bisa tidur juga, Tuan. Aku sengaja mengajaknya jalan jalan agar lebih segar dan semoga lekas bisa membuatnya mengantuk." kata Philemon menjelaskan tanpa menoleh.


"Wah, kau anak yang berbakti rupanya. Ya sudah lanjutkan perjalananmu, tapi berhati hatilah sebab kabarnya rombongan penyerang akan segera datang. Mereka mungkin saja melakukan penyerangan malam ini. Aku akan berjaga lagi untuk memastikannya." ucap penjaga melanjutkan perjalanannya berkeliling di pemukiman sekitar kerajaan.


Philemon dan Raja Ramadhana menghembuskan napas kuat kuat setelah sebelumnya jantung mereka terasa berdetak sangat cepat.


"Apa yang dimaksud penyerang oleh penjaga tadi adalah kita, ayah?" tanya Philemon sambil melanjutkan kembali perjalannya bersama sang ayah.


"Mungkin saja." jawab Raja Ramadhana ringkas sambil terus mengawasi sekeliling.


 


"Bagaimana mereka bisa tahu?" tanya Philemon keheranan.


"Apa kau sudah lupa soal firasat Bemius yang begitu kuat untuk semua hal?" kata Raja Ramadhana menjawab dengan bertanya.


"Iya ayah. Nah, sekarang kita sudah sampai." kata Philemon dengan senyum sumringah.


 


Raja Ramadhana mengeluarkan bibit racun yang ia bawa. Lantas menaburkan dua bibit saja. Kemuadian mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat yang cocok guna menebarkan racun secara menyeluruh.


Sementara itu, Kharon dan Pram telah membunuh lebih dari sepuluh jin dan lima siluman dari empat rumah. Kini mereka tengah berjalan ke rumah berikutnya.


Sama seperti Raja Ramadhana dan Philemon, Kharon dan Pram juga melakukan penyamaran dengan menggunakan pakaian milik jin hitam yang mereka ambil dari almari.


Suasana rumah berikutnya juga tenang, pertanda penghuninya masih tidur. Namun saat Kharon dan Pram hampir saja membuka pintu, mereka mendengar suara dentingan piring kaca dari dalam rumah.


"Berjagalah Pram, bisa jadi ada penghuni rumah yang masih terbangun." kata Kharon mengingatkan.


"Iya Ron, kau juga."


Keduanya mengendap berpindah ke sisi lain rumah. Mereka memutuskan untuk mencari pintu lain, bukan pintu depan. Dan saat rumah sudah tenang, Kharon membobol pintu belakang dengan cakarnya yang bisa berguna sebagai kunci cadangan.


Kharon dan Pram mengendap masuk. Terlihat seorang laki laki tengah meminum kopi ditempat makan.


"Coba kau periksa kamarnya ada di mana. Aku akan menyembunyikan jasad ini dulu." perintah Kharon.


 


Pram mengangguk dan langsung beranjak ke ruangan lainnya. Sementara itu, Kharon menyembunyikan jasad tersebut di bawah meja yang berpintu.


Sebenarnya cara yang dilakukan Pram dan rombongan sangat lama dan membuang buang waktu. Selain itu senjata yang mereka miliki jadi tidak bekerja dengan maksimal. Tapi mereka bersabar dan cara itulah yang dipilih guna mengurangi selisih jumlah antara mereka dengan oara jin dan sikuman hitam.


Jika semalam saja mereka bisa membunuh seratus jin ataupun binatang, tentu sangat lumayan. Belum lagi ditambah dengan korban yang akan berjatuhan ketika mengonsumsi bibit racun yabg telah ditebarkan di sunga dan tempat umum lainnya.


 


Kharon membantu menyeret mayat untuk disembunyikan. Mereka sepakat untuk menyembunyikan mayat mayat itu di dalam kolong tempat tidur.


"Setelah ini kita akan ke rumah lainnya. Apa kau kelelahan?" tanya Kharon melihat ke arah Pram yang tampak sedikit pusat.


" Tidak, tidak, aku baik  baik saja." jawab Pram berbohong.


Pram yang tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya, tentu merasa lelah. Berulang kali mengeluarkan jurus dan membunuh jin hitam membuat tenaganya terkuras.


Dan saat telah sampai di rumah yang ke 56, Pram mulai tak mampu menyeimbangkan badan.


 


"Bruuuk!" Pram ambruk dan pingsan di ruang tamu dan busur panahnya sempat menyenggol meja kaca.


 


"Siapa itu?" teriak penghuni rumah seketika.


Kharon membopong tubuh Pram untuk bersembunyi di balik sofa. Ia melihat wajah Pram sejenak, dan mulai menyalahkan diri sendiri sebab tak memikirkan fisik Pram yang belum terlatih.


Kharon berusaha membangunkan Pram dengan menepuk nepuk lembut pipinya. Pram mulai membuka mata perlahan. Namun, bayang bayang penghuni rumah terlihat sudah semakin dekat.


"Pram, ayo bangun." kata Kharon berbisik.


Dari tempat Kharon dan Pram bersembunyi sekarang, terlihat bayang banyang pemilik rumah mengangkat benda tajam.


Kharon langsung membaringkan Pram yang masih setengah sadar, lantas ia keluar dari balik sofa dan langsung melompat sebagai seekor harimau putih. Kharon menerkam jin hitam itu dan mencabik cabik perutnya. Tapi lawannya itu ternyata cukup tangguh. Kharon sempat menerima beberapa pukulan balasan di wajahnya.


Setelah beberapa saat berguling guling saling menyerang, Kharon mencengkeram leher jin tersebut ketika lawannya itu sedikit lengah.


"Toloooong.... ! ! !" teriak jin tetsebut sebelum akhirnya tewas.


Kharon menjadi sangat panik sebab suara teriakan lelaki yang baru saja ia bunuh itu telah membangunkan penghuni rumah lainnya. Terdapat empat penghuni rumah yang semuanya laki laki yang masih muda dan kini mengepung Kharon. Sementara seorang perempuan terlihat berlari hendak keluar.  


 


Kharon menduga perempuan itu hendak meminta tolong kepada jin hitam lainnya. Maka ia berusaha untuk menghentikan jin perempuan tersebut tapi para jin laki laki yang mengepungnya menghalang halangi.


Jlep... Jlep.. Jlep.. Jlep.. Jlep.. ! !


Pram melepaskan sebuah anak panahnya dan langsung menjadi banyak sejumlah sasaran. Semua jin hitam di ruangan itu pun terjatuh dan tewas terkena panah.