
Philemon terdiam. Begitu juga dengan Kharon. Kedua lelaki itu saling memandang. Philemon sudah hafal kalau Kharon tidak bisa berbohong. Maka ia dengan segera mengambil inisiatif untuk menjawab dengan jawaban yang benar namun tidak gamblang.
"Ayah, masih tidur. Tangan ayah terluka semalam. Jadi aku memintanya untuk beristirahat dulu." kata Philemon kemudian.
"Apa? Tangan paman terluka? Bagaimana bisa, Phil? Apa kau tak menjaga ayahmu hingga kau tak tahu saat ada sesuatu yang melukainya?" kata Pram lagi tanpa mengurangi kecepatannya dalam berbicara, justru ia menambah tinggi nadanya.
"Pram. Apa kau ingin memberikan sarapan ocehan untuk tamu kita?" tanya Kharon kemudian menghela nafas hingga terdengar hembusannya.
Pram nyengir kuda seperti biasa. Ia lantas meminta maaf kepada Philemon dan memintanya mengerti bahwa Pram hanya sedang terlalu khawatir pada sang raja. Ia pun mengajukan pertanyaan yang sama namun kali ini ia sampaikan satu per satu.
"Saat itu ayah ada di teras rumah. Sedangkan aku terbaring di tempat tidur. Semula ayah ada di tempat tidurnya. Aku tak tahu kapan ayah beranjak dan keluar rumah. Dan saat aku terbangun, ayah tidak ada di ranjangnya, aku mencarinya. Lalu aku jumpai ia sudah dalam kondisi terluka." ucap Philemon hati hati. Ia tidak ingin Pram tahu kalau ayahnya baru saja berupaya melakukan pembunuhan pada diri sendiri. Ia tidak ingin Raja Ramadhana malu karena hal itu.
"Baiklah, Kharon akan membuat masakan yang nikmat untuk paman. Dan kami akan mengantarnya ke sana nanti." kata Pram seenak pikirannya. Perempuan itu sudah mulai terlihat seperti biasanya. Dan tentu saja hal itu membuat Kharon menjadi begitu senang, demikian juga dengan Philemon.
"Ron, ayo bagi tugas. Kau memasak dan aku akan bersiap siap. Phil, kau pulanglah dulu. Aku masih akan sangat sibuk. Jangan tersinggung dan tunggu saja di rumah." tutur Pram kemudian. Membuat Kharon tersenyum konyol dan Philemon juga tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Gadis itu lalu pergi masuk ke dalam rumah tanpa berkata ba bi bu lagi. Ia berlagak sebagai seorang yang sedang diburu banyak pekerjaan yang harus segera terselesaikan di waktu yang sempit.
Pram sendiri sebetulnya masih belum bisa melupakan lara batinnya. Tapi melihat usaha Kharon yang jelas jelas ingin melihatnya bahagia, Pram sangat berusaha untuk bersikap biasa di depan semua orang. Meskipun saat sendiri seperti sekarang berdiri di depan cermin, wajah muramnya tidak juga terhapus.
***
Raja Ramadhana telah bangun dan duduk termenung di teras rumah. Philemon mengajaknya untuk masuk ke dalam saja. Ia juga mengatakan bahwa Pram dan Kharon akan datang membawa sarapan pagi yang nikmat. Tapi sang raja menolak untuk masuk dan akan menunggu di depan rumah saja.
"Kau tak perlu khawatir, nak. Ayah tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi." kata Raja Ramadhana meyakinkan Philemon.
"Baiklah ayah." Philemon berbalik badan dan berjalan menuju pintu rumah. Lalu ia berhenti sejenak dan melihat ayahnya yang ternyata juga sedang melihatnya.
"Ayah tenang saja, Pram tak tahu soal kejadian tadi malam." ucap Philemon sambil tersenyum sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.
"Paman....!" teriak Pram di depan rumahnya sambil melambaikan tangan. Dari jarak sekitar 100 meter saja suara gadis itu terdengar sangat keras.
Raja Ramadhana membalas lambaian tangan itu dengan lambaian juga. Ia memasang senyum lebar sebab gadis itu telah tampak seperti biasanya, ceria dan penuh semangat.
Pram berlari sebagai kanak kanak yang telah lama tidak berjumpa dengan ayahnya. Meninggalkan Kharon yang berjalan perlahan membawa sop buntut dengan rasa dan aroma yang sama persis dengan yang dimakan Pram.
"Apa paman sudah membaik? Kata Philemon tangan paman terluka. Oo, iya benar. Apa ini sakit? Bagaimana bisa tangan paman terluka begini?" kata Pram nyaris tanpa jeda sambil menyentuh tangan sang raja dengan sangat lembut.
"Pram." panggil kharon sambil menggeleng. Pram mengerti maksud Kharon yakni agar tidak mencercahi sang raja dengan banyak pertanyaan yang diajukan secara bersamaan. Ia pun kemudian tersenyum nyengir.
"Duduklah Pram." kata Raja Ramadhana lirih sambil memegang kursi panjang yang ia duduki.
Pram pun duduk sambil tersenyum lebar. Kharon juga turut duduk namun di kursi yang berbeda. Ia kini merada agak serong dari posisi duduk raja.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu, nak. Tapi sebelum itu, aku sungguh minta maaf atas perbuatan anak pertamaku pada keluargamu. Aku sendiri sungguh tak menyangka kalau Bemius akan sekeji itu." kata Raja Ramadhana sambil memegang tangan Pram.
Pram memeluk erat sang raja. Ia masih ingat bahwa ia sempat ingin melukai lelaki tua di hadapannya itu. Pram sangat menyesal atas apa yang ia lakukan. Baginya Raja Ramadhana adalah seorang yang sangat mulia. Ia akan sangat senang jika memiliki seorang ayah yang demikian.
"Aku yang minta maaf paman. Semua hal buruk yang menimpa keluargaku tentu saja bukan karena kesalahan paman. Tapi aku malah menyerang paman. Maafkan aku paman." Pram tidak bisa menahan air matanya. Lelaki yang ada di hadapannya itu bahkan telah begitu baik padanya. Ia dengan sangat tulus menyayanginya, bahkan hingga membiarkan dirinya tinggal di tempat rahasia milik istri tercinta agar Pram aman dari kejaran anak buah Bemius. Raja Ramadhana telah menjadi ayah angkat yang sangat baik untuknya, bahkan lebih baik dari ayah kandungnya sendiri.
"Tidak, tidak. Kau berhak marah padaku karena akulah orang yang membiarkan semua kekacauan terjadi. Seandainya aku membunuh Bemius sejak lahir, pasti keluargamu tidak akan menderita." Raja Ramadhana mengusap air mata Pram dan menepuk nepuk punggung tangan gadis itu.
"Tidak paman. Walau bagaimana pun ayahku turut andil dalam perkara ini. Seandainya dia tidak melakukan perjanjian hitam dengan Bemius, tentu penderitaan keluargaku tidak akan terjadi. Ayahku sendiri yang mengantarkan keluarganya menuju ke lembah penderitaan."
"Pram, jika dulu aku selalu berharap Bemius bisa berubah, jika dulu aku selalu yakin suatu saat dia akan menjadi orang yang baik, kini semua keyakinan dan harapan itu sudah musnah. Aku akan sangat rela jika kau membunuh orang keji itu." kata Raja Ramadhana penuh penegasan.
Philemon dan Kharon yang mendengar perkataan sang raja tentu saja begitu terkejut. Selama ini sang raja selalu tak suka jika mendengar anaknya mau dibunuh sebab telah menjadi biang onar dan sumber kesengsaraan bagi banyak orang. Ia juga tidak pernah luntur rasa percayanya pada perubahan yang suatu saat akan terjadi pada Bemius. Ia selalu yakin kalau anak sulungnya itu akan menjadi orang baik.