After Death

After Death
Bab 67: Prasangka-prasangka Kharon



Setelah mampu melewati Hutan Aokigahara, Pram dan Kharon memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan dengan memasang lingkaran perlindungan kalau-kalau dalam perjalanannya nanti mendapat ancaman dari antek-antek Bemius. Mereka bergegas juga lantaran ingin segera melarikan diri dari mata-mata Bemius. Meski sebetulnya mereka ingin beristirahat sejenak guna memulihkan tenaga.


Kharon lantas mengubah wujudnya menjadi harimau putih dan meminta Pram lekas naik ke punggungnya. Mereka terbang di antara awan putih agar penyamaran mereka semakin sempurna.


Perjalanan dari Jepang ke India sekitar 5.956 km. Jarak sejauh itu mampu ditempuh Kharon dalam waktu tiga hari dengan jeda istirahat sekitar empat jam. Sebenarnya ia bisa menghilang dan langsung tiba di tempat yang diinginkan. Namun, jika menghilang, ia tak dapat mengajak Pram turut serta. Itu sebabnya ia harus terbang dan memangkas jarak sedikit demi sedikit.


Untuk melakukan itu Kharon harus menghabiskan banyak sekali energi. Itu sebabnya ia meminta Pram untuk mentransfer energinya. Tak dapat dipungkiri, pertarungannya melawan Roh Yurei cukup menyedot banyak energi.


"Apa kue macaron dari Dewi Thalassa masih ada?" tanya Kharon memecah keheningan dalam perjalanan.


Pram tak mengatakan apapun. Ia mengeluarkan sebuah buntelan dan membukanya. Lantas menyuapi Kharon.


"Rasanya tidak terlalu buruk."


"Minumlah. Ini baik untuk memulihkan tenagamu." Pram menyodorkan botol air murni masih pemberian Dewi Thalassa.


Setelah meneguk air dan menghabiskan beberapa potong macaron, Kharon merasa lebih baik. Ia menarik napas panjang menunggu Pram mengatakan sesuatu apapun. Ia merasa sangat tidak nyaman jika Pram menjadi seorang yang pendiam.


Sementara Pram, ia diam bukan lantaran masih marah atau kesal pada Kharon, melainkan ia sedang menunggu Kharon untuk memulai ceritanya.


"Pram."


"Ya."


"Apa kau tak merasa heran, bagaimana mungkin Bemius dan mata-matanya tahu kalau kita akan pergi ke Hutan Aokigahara?"


Pram terdiam. Ia merenungkan pertanyaan Kharon. Ia merasa sedikit ganjal kalau Bemius tiba-tiba tahu akan rencana mereka untuk ke Bumi. Padahal tak ada satu pun orang atau jin yang tahu hal itu kecuali Kharon, Dewi Thalassa, dan ia sendiri.


"Dante." tiba-tiba mulut Pram menyebutkan sebuah nama.


"Iya, hanya Dante yang tahu selain kita dan Dewi Thalassa." lanjut Pram.


"Apa mungkin mata-mata Bemius mengintimidasi Dante, sehingga dia mengatakan semuanya?"


Dan Kharon sedikit kecewa menyadari bahwa Pram memang tak menaruh curiga pada petugas kematian itu.


"Pram, cobalah kau jawab pertanyaanku tanpa berprasangka receh padaku."


Pram sedikit sensitif mendengar kata receh dari ucapan Kharon. Kata itu mengingatkan ia pada banyak memori yang menyebalkan. Tapi Pram diam dan menunggu Kharon menyampaikan pertanyaannya.


"Apa kau ingat soal Dante yang bercerita bertemu peri merah di Hutan tempat tinggal Eliztanu?" Kharon diam sejenak memberi kesempatan pada ingatan Pram tentang hal itu.


"Kau boleh menanyakannya langsung pada Eliztanu, bahwa yang akan ditemui peri merah hanyalah jin atau orang dengan energi negatif atau yang memiliki niat tak baik." lanjut Kharon.


"Tapi katamu Dante hanya sedang berhalusinasi, efek dari ilmu ilusi yang aku praktikkan padanya."


"Aku mengatakannya agar Dante tak tahu bahwa aku mencurigainya."


Pram diam. Ia masih menganggap semua prasangka Kharon pada Dante adalah efek dari kecemburuannya.


"Aku tak pernah nyaman berada di dekat Dante. Bukan karena kau mencintainya, sama sekali bukan. Melainkan karena aku selalu mencium energi negatif dalam tubuh Dante. Bahkan akhir-akhir ini semakin kuat."


Ingatan Pram lantas tertuju pada saat ia membaui Dante di muka umum karena merasa ada yang aneh dari tubuh Dante, yang sangat mengganggunya. Tapi ia ingat benar, waktu itu tak menemukan apapun.


"Sekarang kau ingat lagi soal gelandangan yang memberimu kalung medalion yang ternyata hanya duplikat saja, yang saat kita gunakan untuk teleportasi membuat mata-mata Bemius tahu keberadaan kita. Kau tahu aku sudah membuangnya. Tapi toh Bemius tetap tahu keberadaan kita."


Pram mulai memahami semua kecurigaan Kharon selama ini. Semua yang ia katakan memang benar. Namun, dalam hatinya, Pram masih tak ingin mempercayai perkataan Kharon.