After Death

After Death
Bab 160: Hadiah dari Dewi Thalassa



Pram, Kharon, Philemon, dan Raja Ramadhana mengeringkan pakaian yang basah usai mengarungi Danau Orakel. Lantas seseorang yang sudah tidak asing bagi Pram dan Kharon menghampiri mereka dengan penampilan, senyum, dan aroma yang masih tetap sama.


 


"Halo Pram, Kharon. Apa perjalanan kali ini menegangkan?" sapa Dewi Thalassa sambil tersenyum.


Dan Pram langsung menceritakan semua kekesalannya pada Kharon, juga menyoal dirinya yang menjadi buronan di Anastasia Cato. Semua ucapan Pram yang menyembul bersamaan  seperti kembang api itu jelas membuat sang dewi tertawa.


"Heeem, kau memang tak pernah berubah Pram. Masih saja sama. Aku senang bertemu denganmu lagi." kata Dewi Thalassa sambil memeluk Pram.


"Kau, bagaimana denganmu Kharon. Sepertinya kini kau terlihat lebih bahagia." kata sang dewi menyapa.


"Ketakutanku adalah kegembiraannya." kata Pram menyela.


"Dia memang selalu sama dewi, selalu berlebihan dalam berbicara, juga berperilaku." kata Kharon mengejek Pram. Membuat Pram memanyunkan bibirnya, semakin kesal.


"Lalu siapa yang ada bersama kalian ini?" tanya Dewi Thalassa sambil tersenyum. Tapi anehnya senyum itu memudar ketika sang dewi berada di hadapan Raja Ramadhana.


"Thalassa." ucap Raja Ramadhana lirih.


"Bagaimana bisa kau di sini?" tanya Dewi Thalassa seolah tak berkenan dengan kehadiran Raja Ramadhana.


"Pram, apa kau yang membawa orang ini kemari?" tanya Dewi Thalassa dengan wajah serius.


"Aku sendiri yang ingin kemari Thalassa. Aku sedang mengalami kesusahan dan sangat membutuhkan bantuanmu."


Pram ingin bicara, tapi Kharon menahannya. Dari apa yang terlihat, sepertinya Raja Ramadhana dan Dewi Thalassa telah saling mengenal dengan baik dan sudah terpisah dalam waktu yang lama. Sehingga Kharon meminta Pram untuk diam dan mendengarkan saja.


"Dimana istrimu?" tanya sang dewi tanpa melihat ke arah Raja Ramadhana.


"Ibuku sudah tiada." jawab Philemon singkat membuat Dewi Thalassa terkejut bahkan hingga menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Dewi Thalassa memang mampu melihat masa depan juga masa lalu, namun itu jika ia menginginkannya. Sedangkan selama ini ia berusaha untuk tidak tahu apapun soal kehidupan Raja Ramadhana.


"Bagaimana bisa?" tanya sang dewi sambil menahan air matanya.


"Kakakku yang membunuhnya." jawab Philemon tanpa ekspresi dan dengan nada datar.


"Aku sungguh menyesal untuk semuanya. Maafkan aku Thalassa. Tapi saat ini aku sangat membutuhkan bantuanmu. Kalau tidak, nyawa penduduk Shaman akan lenyap seluruhnya." kata Sang Raja sambil memegang tangan Dewi Thalassa.


Dengan cepat sang dewi menarik tangannya dan mengatakan bahwa ia sangat sedih mendengar kabar kematian Tri Laksmini. Dan ia juga mengajak keempat tamunya itu untuk masuk ke kediamannya.


Dewi Thalassa menyuguhkan macaron aneka warna dan teh hijau. Membuat Pram dengan cepat bergerak, memunguti satu demi satu macaron dari atas piring, juga menyeruput tehnya hingga habis.


"Dia selalu ingin makan macaron buatan Dewi." kata Philemon sama persis dengan yang ingin dikatakan Kharon.


"Aku pernah membuatkan Pram macaron, tapi katanya tak seenak buatan Dewi. Dan itu memang benar." kata Philemon kemudian setelah mencicipi sepotong macaron.


 


Raja Ramadhana sangat senang melihat Dewi Thalassa tertawa. Perempuan itu tetap sama, cantik dan lembut. Begitu kata sang raja dalam batin.


"Dewi Thalassa, kedatangan kami di sini soal kerajaan Shaman yang telah terjajah fan diambil alih oleh Bemius." kata Kharon membuka percakapan inti.


"Semua rakyat Shaman telah menderita. Banyak di antaranya yang sudah meninggal akibat kekejaman putraku. Tapi, tak sedikit pula yang masih berhasil bertahan. Meski dengan keadaan yang sangat menyedihkan.


Aku dan ketiga anak muda ini bermaksud untuk pergi ke sana dan menyelamatkan para penduduk dari penjara penjara terkutuk itu. Tapi kami sadar, bahwa tentu semua tak semudah kelihatannya. Kami kalah telak soal jumlah. Selain itu, kemampuan Bemius dan para pengikutnya juga sepertinya sudah meningkat pesat.


Sebenarnya semua akan lebih mudah jika Pram sudah menguasai buku Anak Purnama Ketujuh. Namun, pastinya Pram masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk berlatih mengingat isi buku yang sangat tebal dengan jurus jurus yang kadangkala begitu sulit dipelajari. Sedangkan rakyatku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


Jadi Thalassa, apa kau bersedia jika membantu kami, turut serta dalam misi penyelamatan rakyat Shaman?" kata sang raja panjang lebar dengan mata penuh harap.


Dewi Thalassa meneguk teh hijau di hadapannya. Ia terdiam sebab mencoba menerawang keadaan Shaman yang memang telah sangat jauh berbeda.


"Aku turut sedih atas bencana yang menimpa rakyat Shaman. Tapi, kau tentu sudah tahu soal sumpah yang aku ucapkan. Aku tidak ingin keikutsertaanku dalam misi itu akan menyulut kemarahan banyak pihak. Aku minta maaf." jawab Dewi Thalassa lirih dan terdengar sedih.


 


"Tidak apa dewi, kami mengerti. Tapi jika Dewi Thalassa tidak keberatan, bisakah dewi katakan pada kami tentang apa yang harus kami lakukan dalam misi penyelamatan ini agar bisa berhasil?" kata Kharon dengan wajah serius.


"Sebentar."


Dewi Thalassa meminta waktu untuk menerawang. Ia memejamkan mata. Tampak beberapa kali sang dewi mengernyitkan dahi. Semua orang menunggu dengan perasaan was was.


Dan setelah Dewi Thalassa membuka mata, ia langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Lantas beberapa saat kemudian keluar membawa dua buntelan putih, dengan ukuran yang berbeda.


Dewi Thalassa duduk kembali dan membuat semua orang kembali was was atas kabar yang akan disampaikan sang dewi.


Dewi Thalassa membuka satu buntelan putih yang ukurannya lebih kecil. Tampak di dalamnya empat biji berwarna perak. Entah biji apa itu yang jelas bentuknya mirip dengan kacang mete.


"Ini adalah biji kehidupan. Masing masing dari kalian aku hadiahi satu biji. Setelah meminum biji ini, jika terjadi hal buruk dalam misi penyelamatan yang menyebabkan nyawa kalian terancam hingga meninggal, kalian bisa kembali hidup bugar seperti sedia kala. Hal itu akan berlaku tiga kali. Jadi fungsi biji ini semacam penambah nyawa." kata Dewi Thalassa menjelaskan. Membuat semua orang tersenyum senang.


"Dewi memang sangat mengerti apa yang sangat kami butuhkan." kata Philemon.


"Bemius dan para jin serta siluman hitam lainnya bukan lawan yang mudah. Akan sangat sulit menyelesaikan misi itu begitu saja. Kalian pasti akan menemui hambatan yang besar. Tetaplah waspada dan selalu berhati-hati." kata Dewi Thalassa mengingatkan.


"Baik Dewi. Lalu yang ada dibuntelan besar itu apa?" kata Pram penasaran.


"Ini? Ini macaron, anggap saja oleh oleh dariku." kata Dewi Thalassa sambil tersenyum.


Pram langsung menerima buntelan itu dengan sumringah. Semua orang sangat berterima kasih atas kebaikan Dewi Thalassa.


"Aku akan menjengukmu lagi jika memang masih bisa. Semoga saat aku kembali, kau telah memaafkan semua kesalahanku." kata Raja Ramadhana penuh harap sebelum pergi meninggalkan Lembah Namea.