
Melihat Pram sudah lemah tak berdaya, Bemius terbahak dan menambah serangannya. Ia ingin membunuh Pram saat itu juga agar tidak ada lagi yang menjadi penghalang baginya untuk menjadi penguasa seluruh dimensi dan menghapuskan semua jin dan siluman putih.
"Kau melakukan kesalahan besar telah berani datang menemuiku. Kini kau akan menyusul ibumu dan seluruh kerabatmu, ha.. ha.. ha.. abadi menderita dalam penjara roh." ucap Bemius sengaja ingin membuat Pram semakin kesal mengingat nasib keluarganya yang demikian tragis karena ulah Bemius.
Pram yang dikuasai kemarahan kini dirasuki roh Dewi Pencabut Nyawa lagi. Tapi berbeda dari sebelumnya, kali ini Pram menjadi jauh lebih sakti. Ia bahkan sekarang melayang dan mematikan para prajurit kerajaan Anathemus hanya dengan mengibaskan tangannya ke kanan dan ke kiri. Dari gerakan sederhana ini, Pram mampu mengeluarkan angin yang sangat kencang.
Kharon mendongak melihat Pram yang berada sekitar enam meter di atas permukaan tanah. Tampak mata Pram telah merah sempurna. Tak ada warna putih atau hitam yang tersisa.
Kharon berusaha memanggil Pram karena takut Pram tak mampu menguasai dirinya sendiri dan tubuhnya akan dikuasai roh Dewi Pencabut Nyawa selamanya. Walau menjadi berkali lipat lebih kuat, Kharon tak ingin Pram dikendalikan oleh roh tetsebut.
Bemius yang melihat Pram justru lebih kuat setelah menerima banyak luka di tubuhnya, menjadi geram karena banyak prajuritnya yang mati bahkan tanpa disentuh oleh Pram. Ia pun mengirimkan berbagai serangan kepada Pram. Namun tidak seperti sebelumnya, Pram tak terlihat membalas serangan itu. Pram hanya menjauh dan menghindar, lantas kembali menyerang para prajurit.
Tapi Bemius tak mau membiarkan Pram lolos. Ia terus memburu Pram. Dan Pram juga terus menjauh, memberi jarak untuk memastikan dirinya aman.
Kini Pram berada di antara para pasukan Bemius. Melenggak lenggok bergerak cepat, dan sesekali menghajar prajurit yang ada di dekatnya. Membuat Bemius semakin marah sebab beberapa serangan yang ia layangkan justru mengenai pasukannya sendiri.
Melihat hal itu, Kharon tersenyum tipis. Ia kini mengerti mengapa Raja Ramadhana sangat ingin Pram menguasai jurus pemanggil roh Dewi Pencabut Nyawa. Sebab jurus itu mampu membuat seseorang menjadi jauh lebih sakti daripada sebelumnya.
Dalam upayanya melawan para pasukan Anathemus, Kharon berharap Pram akan mengendalikan roh di dalam tubuhnya itu. Dan kebersihan Pram membuat Bemius semakin murka karena serangannya tak kunjung mengenai Pram, Kharon menjadi lebih bersemangat berperang.
Kharon menajamkan kukunya ke tingkatan ke dua. Kini kuku kuku itu berwarna jingga dengan jilatan api di ujung ujungnya. Kharon mencakar beberapa prajurit sekaligus. Membuat tubuh mereka koyak dan akhirnya mati.
Bemius tersenyum. Ia lantas menghentikan serangannya kepada Pram. Dengan cepat Bemius bergerak mendekati Kharon. Lantas mengarahkan serangan menggunakan tongkat saktinya. Kharon yang tak melihat pergerakan Bemius, tak mampu menghindar.
"Bruuuk... ! ! !"
Kharon jatuh ambruk tersungkur. Darah keluar dari mulutnya. Bemius berjalan mendekati Kharon dan menginjak punggung Kharon dengan kuat hingga kini wajah Kharon kembali menempel ke tanah.
Bemius sengaja mengubah target serangannya sebab terlalu berisiko jika terus menyerang Pram yang berada di antara kerumunan prajurit. Selain itu Bemius yakin jika kematian Kharon akan menimbulkan guncangan batin yang mendalam bagi Pram.
"Kau akan mati, Paman!" kata Bemius sambil tersenyum tipis.
Bemius yang telah mengenal Kharon sejak masih kecil itu kini mengangkat tongkatnya. Dan ujung tongkat yang semula tumpul itu mengeluarkan pisau tajam.
Kharon yang terluka parah hanya bisa menutup mata ketika pisau itu semakin dekat dengan jantungnya.
"Praaank.... ! ! !"
Suara mata anak panah Pram mengenai pisau di ujung tongkat Bemius hingga pisau tersebut terlepas dan terlempar jauh terbawa anak panah.
Pram yang harus terus meladeni para prajurit yang menyerangnya, tetap berusaha untuk menyelamatkan Kharon. Hal itu membuat Kharon lebih tenang sebab artinya Pram mampu menguasai roh yang merasukinya.
Telah banyak prajurit Anathemus yang mati. Dan Bemius mendengus kesal karena hal itu. Ia lantas merapatkan kedua tangannya dan mendongak ke atas. Saat kedua telapak tangan direnggangkan, muncul kilatan seperti petir di antara keduanya.
"Hiaaa... ! ! !" teriak Bemius sambil mengarahkan petir ke Kharon.
Tubuh Kharon mengkilat kilat terkena aliran petir hingga terlentang dan kejang kejang. Pram yang sudah sangat kelelahan menghadapi pasukan jin dan siluman hitam, langsung melompat dan berlari menghampiri Kharon yang telah tergolek lemah dan memejamkan mata.
Tentu saja Bemius tak tinggal diam. Ia menahan serangan balik dari Pram dan menghentakkan kedua tangannya ke depan. Sontak semua petir yang terkumpul menghantam Pram hingga gadis itu terjatuh dan mengeluarkan banyak darah dari mulutnya.
Pram yang sudah tak mampu berdiri, masih berusaha untuk mendekati Kharon yang sudah tak sadarkan diri. Bemius yang melihat dua lawannya sudah tak berdaya, memberi isyarat kepada pasukannya untuk melesatkan anak panah kepada kedua orang itu.
"Jlep.. jlep.. jlep.. ! ! !"
Anak panah anak panah menancap di tubuh Pram dan Kharon. Tapi dengan sisa kekuatannya Pram mencoba untuk bergerak maju, meraih tangan Kharon.
***
Raja Ramadhana meminta Philemon untuk membawa para penduduk Shaman yang masih selamat di penjara kontak pergi ke Pulau Amsleng Sufir Matdrakab. Philemon yang semula menolak karena tak mau meninggalkan sang ayah sendiri menghadapi bahaya, akhirnya pergi juga setelah menerima bentakan keras dari Raja Ramadhana.
Raja Ramadhana tak mau menahan para penduduk Shaman itu lebih lama karena kondisi mereka yang sangat memprihatikan dan membutuhkan penanganan segera. Lagipula, sang raja khawatir jika bahaya yang dihadapi di penjara berikutnya akan lebih besar.
Setelah Philemon pergi bersama para penduduk Shaman, Raja Ramadhana melanjutkan perjalanannya ke penjara yang berbentuk goa. Raja Ramadhana sangat berhati hati sebab ia yakin di dalam penjara tersebut terdapat panglima kerajaan Anathemus, yang menurutnya cukup merepotkan.
Raja Ramadhana menelan ludah saat memasuki pintu masuk ke penjara tersebut.
"Raja Ramadhana?" ucap seorang tahanan yang melihat sang raja berdiri di depan pintu.
Sontak membuat semua prajurit dan pengawal yang berjaga di penjara tersebut menoleh ke arah sang raja. Termasuk seorang panglima yang tampak terkejut sekaligus senang.
"Suatu kehormatan bisa menyambut kedatangan raja Shaman." ucap sang panglima sambil membungkuk.
"Jangan banyak bicara. Aku tak mau basa basi. Ayo maju dan serang aku." tantang Raja Ramadhana dengan posisi siaga.
Panglima tersenyum sinis dan langsung mengacungkan pedangnya, memberi isyarat kepada para penjaga untuk mengeroyok Raja Ramadhana. Para penjaga yang membawa tombak dan ada juga yang memegang pedang bergerak cepat memperpendek jarak dengan sang raja.
Mereka melayangkan senjata yang dibawa ke arah Raja Ramadhana. Sang raja yang bertarung dengan tangan kosong bergerak tangkas menangkis dan menghindari senjata senjata tersebut. Kemudian, memberikan pukulan dan atau tendangan jika memungkinkan.
Panglima mengawasi pertempuran para penjaga dengan Raja Ramadhana. Ia tengah mencari saat saat yang tepat untuk memberikan serangan dadakan dalam kemelut itu.
"Slice... ! ! !"
Punggung sang raja tersayat pedang. Ia yang masih merasa sakit tak dibiarkan bangun oleh sang panglima. Raja Ramadhana yang kini menghadap ke arah panglima langsung mendapat hadiah tusukan pedang di perutnya. Tusukan pedang yang menancap menembus punggung tersebut membuat Raja Ramadhana ambruk tak sadllrkan diri.
Sang panglima memeriksa denyut nadi Raja Ramadhana yang ternyata sudah tak ada. Ia pun menjadi sangat girang sebab hadiah istimewa dari raja Bemius akan segera jatuh ke tangannya.
"Terima kasih telah memilihku untuk menjadi pembunuhmu Raja Ramadhana. Tenanglah di penjara roh bersama orang orang lemah. Ha.. ha.. ha... ! ! !" kata panglima dengan tawa menggelegar.
Maka panglima tersebut dengan terburu buru menemui Bemius untuk menyampaikan kabar gembira perihal sang ayah.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Bismillah semoga bisa Update rutin 😊😊😊