
Kharon bergidik ngeri mendapati gurunya yang berilmu tinggi kini telah tewas. Itu artinya, dia juga bisa tewas dengan mudah di tangan siluman lain. Kharon pun berlari keluar dari negeri Shaman. Ia ingin tinggal di dunia manusia, ia ingin mendatangi Sadawira dan mengabdi sebagai Khodamnya. Bukankah itu lebih menyenangkan ketimbang harus hidup ketakutan di negeri Shaman?
Kharon telah tiba di dunia manusia. Kharon telah memiliki ilmu yang lumayan tinggi sehingga ia bisa langsung menempatkan tubuhnya di belahan bumi yang ia tuju. Tujuannya adalah menemukan Sadawira, dan kekuatan gaibnya telah membawanya ke sebuah lahan gersang tak berpenghuni.
Dia mencoba merasakan keberadaan Sadawira lewat penciumannya yang kuat. Ketika Kharon berjalan menyusuri lahan gersang yang dikelilingi pohon beringin, ia melihat Sadawira sedang berjalan-jalan di malam yang semakin larut. Sadawira memang seorang pengembara, dia sepertinya sedang mencari sesuatu.
“Mengapa kau datang lagi ke dunia manusia?” Sadawira menatapnya tajam dengan mulut tertutup rapat. Ia berbicara dengan Kharon menggunakan bahasa batin. Makhluk dari dunia Shaman memang memiliki indera pendengaran yang tajam sehingga mampu mendengar suara yang tak diucapkan oleh mulut.
Kharon memandang Sadawira dengan penuh penghormatan. Seorang siluman memiliki kecenderungan untuk membalas budi kepada siapa saja yang pernah menolongnya.
"Aku ingin membalas budi. Aku ingin tinggal bersama Tuan. Menjadi pengikut Tuan yang setia." Kharon berbicara lembut, ia mengibas-kibaskan ekornya dan nampak menjadi harimau jinak yang menyenangkan.
Kepalanya pun ia elus-eluskan ke kaki Sadawira, pertanda bahwa ia sangat ingin untuk diperhatikan Sadawira.
Sementara itu, Sadawira tetap diam tanpa ekspresi. Pandangannya lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Kharon yang sedang menggelayuti kakinya.
"Aku tak percaya dengan semua makhluk dari negeri Shaman! Mereka semua pengkhianat!" Sadawira mengumpat dan masih tetap dalam posisi berdiri tegak dengan pandangan lurus ke depan.
Mendengar Sadawira marah, Kharon mundur beberapa langkah. Ia merasakan ada aliran cakra yang keluar dari tubuh Sadawira. Dan aliran cakra itu membuat napasnya sedikit sesak.
"Tuan, sepertinya Tuan sadawira telah dikhianati makhluk dari negeri Shaman, tapi percayalah Tuan, saya adalah pengikut yang setia." Kharon mencoba meyakinkan Sadawira.
"Orang yang paling kusayangi, kini telah tewas akibat perbuatan kaummu. Dasar makhluk tak tahu terima kasih! Kalian semua hidup hanya untuk memanfaatkan manusia yang lemah!" Sadawira yang berada dalam kondisi murka, kian mengeluarkan cakra pekat yang mengganggu pernapasan Kharon.
Sadawira memang manusia sakti, batin Kharon. Tapi ia yakin Sadawira tak berniat menyakitinya.
"Lalu, mengapa Tuan menolongku waktu itu? Mengapa Tuan menolong makhluk penghianat?"
"Mendiang isteriku sangat menyukai kucing dan harimau. Aku menolongmu karena teringat mendiang isteriku. Tak kurang, tak lebih. Sekarang kembalilah pulang. Aku tak butuh bantuan makhluk sepertimu." Kemarahan Sadawira mereda. Ia terkenang bagaimana mendiang isterinya sangat menyayangi harimau, dan sikapnya pun mulai melunak kepada Kharon.
"Jika isteri Tuan sangat menyayangi harimau, tentu dia akan bahagia di saja jika melihat Tuan Sadawira memelihara saya dengan baik." Kharon kembali mendekati Sadawira, dan kini ia tengah meliuk-liukkan ekornya di kaki Sadawira.
Sadawira berpikir sejenak. Tak lupa, ia menutup satu cakra di tubuhnya yang akan membuat pikirannya tak didengar oleh Kharon.
"Dengan kekuatannya sekarang, siluman ini bisa membantuku menyelesaikan misi. Tapi, bagaimana jika dia berkhianat?" Sadawira membatin.
Sadawira segera teringat dengan sesuatu yang berada di balik bajunya, ia mengeluarkan benda tersebut dan memperlihatkannya pada Kharon.
"Kau tahu benda ini? Aku bersedia menerimamu jika Kau bersedia mengenakan ini di kepalamu." Sadawira menunjukkan sebuah diadem kepada Kharon.
Kharon mundur beberapa langkah. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata,
"Tuan, tanpa benda itu, saya akan menjadi pengikut yang setia. Percayalah." Kharon menyadari efek samping dari diadem itu sangat mengerikan.
"Sayang sekali, aku baru percaya padamu, jika Kau bersedia mengenakannya."
"Tapi Tuan....
"Baiklah... Kuanggap Kau tak bersedia mengikutiku. Pergilah pulang." Sadawira berkata menantang, ia tahu makhluk di depannya itu sangat ingin mengikutinya.
Siluman memang makhluk yang aneh, mereka akan terobsesi menjadi pengikut manusia yang ia sukai.
Kharon menelan ludah. Ia paham benar bahwa diadem itu akan membuatnya tak mampu berbohong lagi. Padahal, bohong adalah bagian penting dalam kehidupan, tapi yang paling mengerikan bukan hal itu. Jika ia mengenakan diadem itu dan dia berbohong, dia akan mati.
Itulah kutukan yang dimiliki oleh Diadem Naga Perak. Sebuah pusaka kuno yang berkekuatan magis tinggi. Kharon menunduk memohon kepada Sadawira untuk tak perlu mengenakan diadem itu.
Tetapi, sadawira memanfaatkan kesempatan tersebut. Ia segera memantrai Kharon dan meletakkan diadem Naga Perak di kepala Kharon.
Kharon mundur dan matanya membelalak. Ia berjuang keras melepaskan diadem itu tapi diadem itu seolah menyatu dengan kepalanya.
"Mulai saat ini, Kau tak bisa berbohong lagi." Sadawira tersenyum dalam kemenangan.