After Death

After Death
Bab 137: Secangkir Teh II



Kharon masih tertidur pulas di sebelah Pram. Setelah meluapkan semua beban batin dan pikirannya, Kharon tampaknya menjadi lebih relaks sekaligus lemas. Dalam tidurnya, ia masih mendekap erat tangan Pram, tidak sedetik pun ia lepaskan.


Saking pulasnya Kharon tertidur, ia sampai tak menyadari bahwa gadis yang ada di hadapannya telah bangun. Pram bangun dalam keadaan terisak dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia berusaha menahan suara tangisannya agar tidak membuat Kharon terbangun. Beberapa kali Pram tampak memanjang-manjangkan nafasnya guna menguraikan sesak di dada. Air mata yang ia keluarkan bahkan telah membasahi bantal putih empuk yang membuat kepalanya nyaman saat tidur.


Kharon tak tahu bahwa Pram telah bangun sejak Kharon mengenggam erat tangan Pram. Jadi selama khodamnya itu menceritakan semua isi hatinya dalam batin, Pram mendengar semua mulai dari awal hingga akhir. Telah berulangkali Pram menahan diri agar tidak menangis saat Kharon belum menyelesaikan curahan hatinya. Maka, ketika Pram sadar Kharon telah tertidur, tangisannya menjadi pecah. Ia bahkan berteriak tanpa bersuara. Beberapa kali megangi dadanya yang terasa penuh sesak meski telah ia coba untuk dilapangkan.


Pram sangat menyesal atas semua yang terjadi. Atas kelalaiannya yang tidak menyadari kekhawatiran Kharon, kegelisahannya, kecemburuannya, dan semua perubahan pada sikap Kharon kepadanya. Ia sangat menyesal karena selama ini ia terlalu fokus menyalahkan khodamnya itu, yang tiba-tiba pergi tak lekas kembali, yang tetiba menjadi diam, yang berubah seolah tak mengkhawatirkan ia lagi, dan sebagainya. Pram mengutuki dirinya sendiri sebab tidak merasakan beban berat yang disembunyikan Kharon, yang sengaja ditahan dan disimpan sendiri lagi-lagi karena lelaki itu tak ingin membuatnya berada dalam situasi yang sulit.


Pram juga merasa begitu bodoh karena tidak menyadari bahwa Philemon diam-diam menyimpan cinta untuknya. Ia begitu menyesal karena telah begitu naif, dan membiarkan semua terjadi begitu saja dengan dalih Philemon telah ia anggap sebagai kakak lelakinya sendiri. Pram sangat marah kepada dirinya sendiri sebab secara tidak langsung telah membiarkan dirinya bermesraan dengan lelaki lain dan membuat kekasihnya sakit hati.


Ia tak mengerti mengapa ia menjadi demikian cuek atas kemungkinan yang terjadi. Pram tidak pernah memikirkan Kharon akan begitu terluka karena tingkahnya yang menurut dirinya sendiri seperti perempuan yang kecentilan, yang mau begitu saja menerima perhatian dari lelaki lain, bahkan di hadapan kekasihnya.


Pram ingin sekali mengelus kepala Kharon dan memeluk erat khodamnya itu. Namun, ia tak cukup berani untuk melakukannya. Ia juga tidak ingin membangunkan Kharon dan membuat lelaki itu kembali teringat pada semua luka hatinya.


Pram ingin memberikan sesuatu untuk Kharon, agar kekasihnya itu lebih mengerti bahwa ia sangat mencintai Kharon apapun keadaannya. Pram ingin membuat Kharon merasa bahwa dirinya itu sungguh berharga dan tak tergantikan oleh siapapun lelaki di seluruh dimensi.


Pram menarik tangannya perlahan. Namun, Kharon segera bergerak untuk mendekapnya semakin erat. Pram tersenyum mengetahui bahwa dalam tidur pun kekasihnya itu ingin selalu bersamanya, menjaganya, dan sangat takut untuk kehilangan dirinya.


"Dasar kau ini, lelaki receh." Pram melafalkan kata-kata itu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Akhirnya, Pram memutuskan untuk diam saja memandang Kharon sampai puas. Meski yang tampak dari mata Pram bukan wajah melainkan rambut Kharon yang hitam tebal, bagi Pram memandangi Kharon tetaplah menjadi hal yang menyenangkan dan mendamaikan hati. Membuat ia merasa menjadi perempuan paling beruntung.


Pram tak ingin membuat Kharon terusik dengan mengambil tangannya. Maka, ia berencana akan memberikan hadiah kepada Kharon saat khodamnya itu telah terbangun. Dan Pram, terus memandangi Kharon hingga ia turut tertidur.


***


Dalam tidurnya Pram merasa sangat bahagia sebab ia tahu ada Kharon yang duduk di sampingnya. Namun, lama kelamaan tangan Pram seperti kesemutan sebab Kharon menggenggamnya terlalu kuat dan dalam waktu yang lama. Pram pun terbangun setelah sekitar satu jam tertidur. Ia tersenyum konyol, tak mengira bahwa orang yang telah mati sepertinya bisa mengalami kesemutan akibat peredaran darah yang tidak lancar.


Pram tidak ingin membangunkan Kharon, tapi kesemutan di tangannya sungguh tidak tertahankan lagi. Bahkan kini ia merasa tangannya telah mati rasa, kulitnya menebal, dan menjadi tidak peka terhadap sentuhan.


Pram pun mencoba menggerakan tangannya dengan gerakan perlahan, mengepal dan terbuka, masih dalam dekapan Kharon. Menurutnya ia telah melakukan gerakan itu dengan sangat pelan-pelan dan hati-hati, namun ternyata tetap membuat kekasihnya itu terbangun.


Kharon kini duduk tegak dan mengucek-ngucek matanya. Saat pandangannya telah terang, Kharon baru sadar bahwa Pram telah terbangun dan kini memandangnya lekat-lekat. Ia yang baru saja bangun sedikit kesulitan menerjemahkan pandangan macam apa yang diberikan Pram untuknya. Lantas, ia tersenyum saja dengan senyuman yang sumringah sambil memandang Pram.


"Dasar kau ini. Lalu apa yang kau tunggu lagi?" Pram masih menahan tawa dan terus menirukan gaya bicara Kharon.


Kharon tetap diam dan menggaruk kepalanya. Padahal ia tahu tidak ada gatal yang muncul di sana.


"Apa lagi yang kau tunggu?" Pram mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih tinggi.


Kharon tak tahu bahwa Pram yang berbicara sama persis dengan yang biasa ia lakukan itu, tampak jauh lebih galak dan menakutkan. Ucapannya terdengar jauh lebih kasar. Meski selama ini Pram sering mengoceh dan mengomelinya dalam waktu yang selalu lama dan nyaris tanpa jeda, Pram tak terlihat segalak saat ini. Ia jadi menyesal karena selama ini mungkin telah membuat Pram takut.


"Aku tidak sedang menunggu apapun, Pram." kata Kharon lirih dan terbata-bata.


"Kalau begitu cepat peluk aku. Apa kau tak khawatir mendapati pacarmu tak kunjung pulang?" Pram membuka kedua lengannya menunggu pelukan dari Kharon.


Kharon tak berkata apapun. Ia langsung memeluk erat Pram. Pikirannya sudah mulai sadar 100%. Dan ia mengingat rasa was-was yang melandanya sebab Pram tak lekas kembali dari pantai. Dan sekalinya kembali, pacarnya itu justru tengah digendong oleh lelaki lain. Itu sungguh mengiris hati.


"Sejak kapan aku bilang padamu bahwa kau baru boleh memelukku saat aku telah menyuruhmu melakukannya terlebih dahulu?" kata Pram mulai mengoceh lagi dengan tempo cepat dan nada agak tinggi.


Kharon tersenyum sebab ia merasa Pram yang sesunggungnya telah kembali lagi. Mengoceh dan mengomel, dan ia suka, sangat suka.


"Kau tidak pernah mengatakan itu Pram." kata Kharon lirih tapi kali ini dengan tersenyum lega.


"Lalu kenapa kau tak cepat memelukku saat tahu aku telah bangun dan memandangi rambutmu sedari tadi. Dasar receh!" Pram membuat kedua tangannya saling berpangku di atas perut dan membuang muka ke arah yang berlawanan dari Kharon.


Kharon tertawa terbahak-bahak beberapa saat lantas dengan buru-buru menutup mulutnya ketika sadar bahwa hari masih gelap.


"Apa kau ingin membuat Raja Ramadhana dan Philemon terbangun?" Pram kembali menirukan gaya bicara Kharon. Namun kali ini Kharon tidak tertawa.


Lelaki yang sangat ia sayangi itu berubah raut mukanya lantas beranjak berdiri. Kharon berjalan menuju dapur tanpa tawa atau senyum di wajahnya.


"Aku akan membuatkanmu secangkir teh serai agar kau merasa hangat." kata Kharon sambil menunduk meracik segelas teh.


Pram lantas beranjak dari tempat tidurnya, lantas menghampiri Kharon dam memeluk lelaki itu dari belakang dengan sangat erat. Membuat Kharon meletakkan sendok yang ia pegang di tangan kanan yang digunakan untuk mengaduk teh.