
Sebelum tinggal lebih lama di Hutan Białowieża, Kharon merasa perlu untuk meminta izin penghuni asli hutan tersebut, yakni para peri hutan. Peri hutan berwujud seperti manusia namun dengan ukuran sangat kecil sebanding dengan ukuran capung jarum yang biasa ditemukan di pinggir aliran air, sawah, rawa, dan lain-lain. Telinga peri hutan lebih lonjong dan sedikit runcing dengan tiga lubang yang berjejer di daun telinga atas. Semua peri memiliki rambut panjang berwarna putih dengan sayap berwarna emas. Selain itu, semua peri hutan yang tertangkap mata Kharon tidak memiliki kaki. Aroma dan wajah mereka pun berubah-ubah. Kharon pernah benar-benar terkejut karena mendapati seorang peri tanpa wajah dengan bau kematian yang tajam.
Ya, peri hutan memang bisa mati. Sebagian besar dari mereka justru berumur pendek. Sebelum mati salah satu tanda yang ditunjukkan adalah anggota wajah yang hilang. Penyebab utama matinya seorang peri adalah kegagalan dalam menjalankan tanggung jawab. Hampir setiap jenis biotik dan abiotik di hutan Białowieża memiliki peri penjaga.
Ratusan tahun yang lalu terjadi kematian masal para peri hutan, bahkan hingga terancam punah. Kerusakan hutan yang terjadi di Białowieża akibat perang benar-benar mengancam kelangsungan sumber daya hutan dan para penjaganya.
Tepat di sepertiga malam, saat Pram dan Dande terlelap nyenyak, Kharon duduk bersila di bawah pohon pinus tua dengan ujung pohon yang tak terlihat. Ia memusatkan pikiran demi memanggil Eliztanu, sahabat lamanya yang juga merupakan pemimpin peri hutan.
Seorang peri dengan aroma melati yang tajam menghampiri Kharon. Ia tersenyum usil mendapati getaran tak biasa yang ia tangkap dari jiwa sahabatnya itu.
"Jadi apakah anak dengan darah keturunan jin dan manusia itu yang membuatmu begitu khawatir?"
Kharon membuka matanya. Sosoknya sebagai lelaki tampan berubah menjadi seekor harimau putih saat berhadapan dengan pemimpin peri hutan.
"Kau mengenalku lebih baik daripada diriku sendiri. Kurasa aku tak perlu menjelaskan semua. Kau tentu telah mengetahui besarnya energi yang dimiliki anak itu. Energi yang dimiliki Pram pun selaras dengan energi hutan ini. Kudapati para peri selalu tersenyum melihat Pram. Aku tahu jika kau juga merasakan gelombang besar dari golongan jin jahat yang ingin menembus kabut perlindungan yang dibuat para peri. Kau tahu Eliz, anak ingusan itulah yang diincar jin-jin kepar*t itu. Dan sialnya ia bahkan tak tahu seberapa terancam nyawanya. Di saat aku bahkan tak pernah bisa tertidur nyenyak, Pram mungkin sedang bermimpi membangun rumah tangga dengan petugas kematian bod*h itu. Aku benar-benar kesal karena selalu mengkhawatirkan anak yang tidak pernah khawatir dengan keselamatannya itu." Kharon meluap-luap menyampaikan isi hatinya.
"Gadis itu benar-benar membuatmu menjadi semakin cerewet."
Kharon tersipu masih dengan sedikit kesal. Ia menyesal karena telah merusak citra dirinya dengan perkara receh. Bukankah ia selalu nampak tampan dan angkuh, keangkuhan yang seolah membuat ketampanannya semakin memukau.
"Maafkan aku Eliz. Kau tak seharusnya mendengar semua ocehanku barusan."
"Tak masalah. Rasa kasih yang murni tidak pernah keliru, meski disampaikan dengan amarah. Karena amarah itu pun pada hakikatnya akan ternetralisasi oleh kemurnian kasih. Sampaikan saja apapun yang mengganjal hatimu Kharon."
"Ada banyak. Pertama, aku ingin kau mengizinkanku bersama anak-anak itu untuk tinggal sementara di hutan ini."
"Oke. Lakukanlah apapun yang ingin kau lakukan di sini. Keinginanmu aku penuhi"
"Kedua, Pram itu benar-benar tak tahu apa-apa. Aku masih bingung bagaimana caranya agar ia lekas menguasai berbagai ilmu sehingga saat waktunya tiba ia sudah siap menghadapi semua. Sedang mobilitas kami sangat terbatas untuk mencari guru yang hebat akibat intaian mata-mata Bemius."
"Mulailah dari dirimu. Jadilah guru pertama Prameswari. Tidak ada pilihan lain. Kau bisa mengajarkan beberapa ilmu yang telah kau kuasai. Setidaknya agar Pram bisa menjaga dirinya sendiri jika sewaktu-waktu kau harus meninggalkannya. Jika kau merasa belum mampu mengajar, maka belajarlah."
Kharon terdiam. Semua yang disarankan Eliztanu sepertinya memang jalan satu-satunya yang paling tidak beresiko.
"Ada lagi?"
"Apa kau mengenal Thalassa? Dewi yang tinggal di Lembah Namea?"
"Bisakah kau mengenalkannya padaku?"
"Hei, apa kau mulai putus asa dengan gadis itu?"
"Ayolah, aku tak sereceh itu. Aku sadar kekuatanku tak akan mampu membendung serangan Bemius yang selalu upgrade itu. Kami membutuhkan bantuan. Kau jelas-jelas tak bisa meninggalkan hutan ini. Setidaknya kemampuan Thalassa bisa membantu kami untuk lebih waspada. Dan aku harap, kami bisa menyusun strategi genius untuk menghancurkan jin-jin jahat."
"Akan kukirimkan pesan padanya soal niatmu. Tapi aku tak janji ia akan mau membantu. Thalassa selalu membaca chakra, aura, dan kemurnian hati. Hanya golongan tertentu yang ia izinkan untuk menangkap wujudnya. Entah bagaimana kriterianya, hanya ia yang tahu. Semua soal rasa."
"Ada lagi?" tambah Eliztanu setelah beberapa saat hening.
"Bagaimana kabarmu?"
"Jika memang sudah cukup, tak perlu kau basa-basi." jawab Eliztanu sedikit kesal melihat sahabatnya yang tak banyak berubah.
"Kau memang sangat mengenalku."
***
Kharon kembali ke tempat peristirahatannya dengan wujud manusia. Malam di Białowieża terasa sendu. Pepohonan memancarkan sinar temaram yang hangat. Suara gemerisik berbagai serangga teralun seperti simfoni. Sepanjang perjalanan menuju tempat tinggal sementaranya, Kharon melihat bayangan orang-orang yang ia sayangi, Sadawira dan Prameswari.
Malam di hutan itu selalu membuat Kharon menjadi harimau putih yang cengeng, tak tampak kegagahan dari wajahnya. Wajah itu sangat melas dengan sesekali kejut datang bersama peri-peri yang kehilangan wajahnya.
Sesampainya di tempat istirahat, Kharon masih mendapati Pram tertidur pulas. Ia berjalan melayang agar tak terdengar suara ranting patah. Lantas duduk termangu di sebelah Pram.
Meski awalnya ragu, Kharon memberanikan diri untuk mengelus rambut Pram. Ia memandangi wajah Pram yang bercahaya. Ia akui, tuan puterinya itu adalah perempuan tercantik yang ia temui. Kedua alisnya tebal hampir bersautan, matanya persis mata kucing, hidungnya mancung, bibirnya merona alami.
“Perempuan polos ini bahkan tidak mengerti apapun tentang dirinya, tentang seberapa terancam nyawanya saat ini, seberapa banyak pihak yang menginginkannya, dan seberapa besar kemungkinan serangan yang dihadapi,” kata batin Kharon menahan tangis.
Dante yang juga terlelap nyenyak mengubah posisi tidurnya. Membuat lamunan Kharon berhenti. Ia memperhatikan petugas kematian dari Anastasia Cato itu. Entah mengapa, keberadaan Dante justru membuatnya tidak pernah tega meninggalkan Pram. Aura negatif yang selalu ia tangkap dari tubuh Dante, meski samar-samar, sekejap ada sekejap hilang, menambah firasat buruknya. Namun, jika mengingat pengorbanan Dante memotong-motong tubuhnya sendiri hanya demi membuat Pram terbangun, rasa-rasanya semua praduga buruk itu tak pantas diberikan.
“Aku tak mengerti apakah kewaspadaanku terhadap Dante adalah karena ia berniat jahat atau karena ia telah mengalahkanku,” lanjut Kharon dalam batin.
“Itu artinya kau cemburu,” Pram membuka mata dan bangun dari tidurnya.