After Death

After Death
Bagian 16 : Jimat Keramat yang Terbuka



  Prameswari duduk bersandarkan bantal


di atas ranjang tempat tidurnya. Ia memandangi sebuah kalung baja dengan


liontin berupa baja bulat yang menyerupai sebuah kompas. Ia sangat ingin


membuka kalung tersebut tapi gelandangan tadi berpesan agar ia tak sekali-kali


membuka jimat yang saat ini ada di genggamannya. Sekuat tenaga, Pram mencoba


menghentikan tangannya yang gatal dan ingin membukanya. Naas, begitu rasa


kantuk menguasai tubuhnya, tangannya yang sedang menggenggam kalung tersebut hilang


tenaga dan kalung itu pun terjatuh menghantam lantai.


            Setelah menggelinding beberapa saat,


kalung itu terbuka. Ada sebuah jarum penunjuk berwarna emas di dalamnya, jarum


itu berputar-putar sejenak akibat getaran karena telah terjatuh. Begitu jarum


penunjuk mengarah ke suatu bagian di kalung, muncul sebuah pusaran angina yang semakin


lama semakin besar dan menyeret Prameswari masuk ke dalam pusaran teresebut. Prameswari


tertarik seketika. Tubuhnya berputar-putar di dalam pusara angina dan kemudian


terhempas ke suatu tempat yang mirip dengan hutan bakau.


            Pram terbangun dan mendapati dirinya


telah tersangkut di akar-akar bakau yang licin dan lembab. Suasana berkabut, ia


tak tahu itu adalah subuh atau senja. Yang jelas Prameswari mulai dilanda


ketakutan, kewaspadaannya meningkat. Ia merasa diawasi oleh banyak mata, dan benar


saja, satu demi satu mereka muncul di hadapannya. Sesosok binatang yang


bertubuh seperti anak kecil,  atau lebih


tepatnya mereka sangat mirip dengan monyet tapi tak memiliki bulu sehelai pun, giginya


bertaring, dan ya, pupil mereka menyala merah.


            Prameswari dikepung oleh makhluk


yang tak ia ketahui namanya itu. Mereka adalah sejenis binatang di negeri


Shaman. Binatang tidak memiliki akal pikiran, mereka hanya berinsting berburu


dan membunuh demi kelangsungan hidup mereka. Beda lagi dengan jenis siluman.


Siluman merupakan binatang di negeri Shaman yang melakukan pertapaan panjang


untuk mendapat tubuh dan kemampuan seperti Jin pada umumnya. Semua siluman


sebagaimana Jin pada umumnya: menempati ruang.


            “Tunggu, jangan dimakan. Sepertinya


kita sedang mendapat rejeki nomplok.” Pemimpin kawanan binatang gaib itu


berjalan membelah kerumunan binatang lain yang mengepung Prameswari.


            “Aku mencium hawa segar di sini. Bocah


Purnama Ketujuh… Oh, di sini Kau rupanya.” Pemimpin kawanan tersebut adalah


siluman ular putih. Wujudnya berbentuk ular raksasa sepanjang tiga meter, berwarna


belang hitam dan putih. Kepalanya menyerupai kepala ular kobra dan oh… begitu


mendekati Prameswari ular tersebut lansung melilitkan tubuhnya ke tubuh Pram. Ekornya


menyepak-nyepak ke kiri dan ke kanan membuat suara berisik di akar-akar bakau.


            “Ingat, Pram. Hal seperti ini


tidaklah terjadi di alammu. Ini adalah mimpi, perintahkan tubuhmu untuk bangun


dengan cara apa pun!” Ada suara yang menyerupai suara Prameswari, sedang


berbisik tepat di kedua telinganya. Pram berpikir keras bagaimana caranya agar


ia terbangun, Pram membenturkan kepalanya pada siluman ular tersebut dengan


harapan jasadnya akan terkaget dan bangun. Sayang sekali tidak terjadi apa-apa


setelahnya.


            “Hei…Hei… Tenanglah dulu gadis


kecil. Aku tidak akan membunuhmu karena hargamu masih mahal. Aku hanya ingin


membuatmu tak sadar diri saja.”


            Prameswari mencoba berpikir jernih,


memusatkan seluruh pikirannya untuk berkonsentrasi. Ia mendapat pesan dari alam


bawah sadar untuk mencari kalung pemberian gelandangan yang mungkin terjatuh di


sekitar tubuhnya berada. Benar saja, kalung itu tergeletak terbuka beberapa


senti saja dari kakinya. Sayang sekali kakinya sudah tak bisa bergerak, ia tak


bisa meraih kalung baja tersebut. Entah untuk yang keberapa kalinya, Prameswari


berpikir bahwa ajalnya sudah semakin dekat.