After Death

After Death
Bab 56: Karma Hidup Ghozie II



Setelah berpamitan pada ayahnya, Ghozie bergegas menuju kamar Candy. Pram pun mengikutinya dengan segera. Saat pintu kamar dibuka, Candy tampak sedang tertunduk di atas meja sambil terisak. Kadang tangisannya lirih, namun terkadang menangis sambil berteriak-teriak.


Ghozie memeluk adik pertama sekaligus kembarannya itu dengan erat. Meski Candy meronta-ronta, memukulinya, ia tak membiarkan Candy lepas dari pelukkannya.


Pram melihat jin perempuan berambut panjang sepinggang, berbaju putih kumal, dengan wajah tak karuan ada di dalam tubuh kakak perempuannya itu. Saat sesosok jin laki-laki merasuk dan mendorong keluar jin perempuan berwujud kuntilanak itu, Candy tertawa lantang. Ada banyak jin jahat yang berebut ingin menguasai tubuh saudaranya itu. Bahkan ketika Candy nampak tenang dan terlelap pun ada sesosok pocong yang masuk ke tubuhnya.


Pram tidak mengerti mengapa Candy tidak dapat menguasai raganya. Ia tidak tahu mengapa jin-jin jahat itu bergantian merasuki Candy. Yang Pram tahu hal itu telah menyusahkan Ghozie. Bahkan Pram tak melihat raut takut sedikitpun dari wajah Ghozie ketika mendapati adiknya kesurupan. Pram yakin itu semua karena Ghozie telah terbiasa menghadapi situasi seperti itu sendirian.


Jin dan siluman yang ada di kamar Candy tidak kalah banyak dengan yang ada di kamar ayahnya. Membuat suasana kamar menjadi angker dan berbau tak sedap walaupun terlihat bersih dan terawat.


Ketika Ghozie hendak meninggalkan Candy, tiba-tiba Candy terbangun dan mengeram seperti seekor macan. Ia merangkak di atas ranjang dan beberapa kali berusaha mencabik-cabik benda yang ada di sekitarnya.


Ghozie bergerak cepat membuka laci meja. Ia mengambil sebuah jarum suntik dan obat penenang. Lantas berusaha untuk mendekati Candy. Candy menyerang kakaknya, ia mencakari wajah dan lengan Ghozie. Dan saat obat disuntikkan, Candy menjadi lemas dan tak sadarkan diri.


Ghozie telah hafal bahwa ketika Candy sudah meraung-raung seperti harimau akan sangat membahayakan orang lain. Ia bahkan pernah harus menjalani operasi jahitan karena darah mengucur dari pelipisnya yang bocor terbentur meja kaca saat terpelanting jatuh didorong Candy. Dan rasa perih bekas cakaran seperti yang ia alami saat ini sudah tak dirasakannya lagi.


Suntikan obat penenang yang diberikan Ghozie adalah resep dari dokter. Ya, beberapa bulan yang lalu Candy memang pernah menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa. Namun, Ghozie kemudian memilih rawat jalan untuk Candy karena saat berada di rumah sakit jiwa, Candy selalu menangis dan merengek minta pulang.


Ghozie juga sempat beberapa kali membawa Candy berobat ke orang pintar. Namun, semuanya mengatakan tak sanggup membantu menyembuhkan Candy.


Pram semakin tak tega untuk meninggalkan Ghozie menghadapi semuanya sendiri. Ia sungguh ingin menemani kakaknya itu. Namun, ia tahu bahwa waktu yang dimilikinya semakin berkurang. Tanpa ia sadari, ia telah membuat Kharon menunggu hampir tiga jam. Itu artinya ia memiliki tiga jam waktu sisa.


Ghozie merebahkan tubuhnya di sofa dan menutup mata. Sesaat kemudian ia duduk dan meregangkan otot-ototnya. Ghozie mengambil sepotong roti isi cokelat dan sebuah kopi kemasan. Pram berkaca-kaca melihat kakaknya demikian. Ia tahu benar bahwa Ghozie adalah penikmat kopi asli buatan rumahan. Jangankan kopi kalengan, kopi instan bubuk saja ia tak mau.


Tampak jelas Ghozie memakan roti isi itu seraya mengeluarkan air mata. Sesekali ia mengusap ingusnya dengan tisu.


Pram berkonsentrasi untuk membaca pikiran Ghozie guna mendapatkan informasi tentang apa penyebab kakaknya itu menangis.


Dan Pram pun terisak karena mengetahui bahwa kakaknya itu sedang mengingat saat-saat ia membuatkan Ghozie kopi. Memang sejak kematian ibunya, Pramlah yang selalu menyeduhkan kopi untuk Ghozie. Bahkan karena tahu kopi adalah kesukaan kakaknya, Pram sengaja membeli langsung dari petani asli di daerah-daerah pegunungan untuk mendapatkan cita rasa yang original dan murni.


Ketika Ghozie telah tidur masih di atas sofa, Pram berusaha untuk memperkuat ikatan batinnya dengan sang kakak. Pram duduk bersila seperti sedang bermeditasi. Lantas ia menyambungkan ikatan-ikatan antara dirinya dengan Ghozie.


"Aku sudah memaafkanmu, juga Candy. Jagalah dirimu, makan dan minumlah dengan cukup. Jangan biarkan tubuhmu sekurus itu." seperti itulah pesan yang disampaikan Pram kepada kakaknya dalam alam bawah sadar atau mimpi.


Candy berharap apa yang ia lakukan dapat mengurangi karma hidup yang harus dipikul Ghozie. Walau bagaimana pun kejamnya, Pram tak bisa berhenti untuk peduli.