After Death

After Death
Bab 151: Aroma Luka



Hingga Raja Ramadhana dan Philemon telah pulang ke tempat tinggalnya dan pintu rumah Pram dan Kharon telah tertutup, Pram masih belum menyudahi amarahnya. Nafasnya sudah tersengal dan keringatnya bercucuran. Gadis itu bahkan hingga kuyup bajunya. Sementara Kharon, baju kemeja putihnya bahkan kini bermotif bercak merah darah. Beberapa bagian wajahnya juga bengkak karena pukulan, bahkan membiru.


Namun, lagi lagi lelaki itu tidak berkata apapun. Hanya diam mendekap Pram yang seperti orang kesurupan. Sesaat Kharon mengingat saudara laki laki Pram yakni Ghozie, yang setiap harinya menerima pukulan dan cakaran saat Candy masih hidup. Memang sungguh menyedihkan, kata Kharon membatin.


Pram sudah terlihat lemas karena kelelahan. Kharon pun membiarkan perempuan itu terduduk dengan nafas yang berburu, ngos ngosan. Ia lantas mengambil kotak obat dan meletakkannya di meja makan.


Kharon menarik kursi dan duduk. Ia kemudian membuka kancing kemejanya dan melepasnya dengan perlahan. Wajahnya nyengir berkali kali saat mencoba menanggalkan baju, menahan perih dan nyeri dari luka yang tergesek kain. Lelaki itu mengamati badannya sendiri. Sepertinya ia akan sangat sibuk hingga nanti malam karena luka luka di badannya itu.


Kharon menuang air panas dari termos ke baskom. Ia lantas mencampurnya dengan air biasa. Kharon juga mengambil sapu tangan putih dari laci yang terletak di dekat tempat tidurnya. Semua perkakas tersebut ia boyong ke tempat makan dan di letakkan di atas meja, di samping kotak obat.


Kharon mulai mengelapi bagian tubuhnya yang sobek karena terkena cakaran Pram. Ia beberapa kali tampak meringis menahan sakit ketika ia memberikan sedikit tekanan pada lukanya yang mengeluarkan darah yang  telah mengering karena tetlalu lama dibiarkan. Sedangkan untuk luka memarnya yang juga membiru, ia membiarkan sapu tangannya melingkupi luka itu beberapa saat, untuk mengurangi ngilunya.


Kharon akhirnya telah menuntaskan proses pembersihan luka di sekujur tubuhnya dalam waktu yang sangat lama. Hingga Pram telah kembali tenang dan tidak menangis lagi. Gadis itu kemudian menghampiri Kharon yang meringis mengoleskan obat merah pada luka lukannya.


"Aduh...duh...duh." rintih Kharon sesekali lirih saja. Ia sangat khusyuk mengobati lukanya hingga tidak menyadari kehadiran Pram.


"Apa itu sangat sakit?" tanya Pram dengan suara sedikit serak akibat terlalu lama berteriak. Ia ragu ragu mendekati Kharon sebab ia tahu bahwa semua luka yang ada pada tubuh pacarnya itu adalah karena ulahnya yang memukuli dan mencakari kekasihnya sendiri dengan sangat membabi buta.


Kharon tak menjawab pertanyaan Pram. Ia hanya tersenyum dan kembali tenggelam pada luka lukanya.


"Bolehkah aku membantumu?" tanya Pram lirih. Ia sungguh menyesal telah berlaku sangat buruk pada Kharon.


Pram sendiri tak mengerti mengapa amarah dan emosinya bisa separah itu. Ia tak tahu mengapa ia seperti tidak bisa mengontrol diri. Yang ia pahami ketika kemarahan sedang menguasainya adalah ia sungguh ingin menuntaskan dendamnya dengan segera. Maka, Kharon yang terkesan ingin menghalang-halanginya menemui Bemius, menjadi sasaran pelampiasan amarah.


"Kau beristirahatlah saja, Pram. Tentu tubuhmu terasa lemas sekarang." jawab Kharon sambil tersenyum.


Apa yang dikatakan Kharon memang benar. Pram merasa tubuhnya sangat lelah dan lemas. Tapi ia tidak bisa diam saja menyaksikan kekasihnya kerepotan mengobati luka yang ia munculkan.


"Aku sudah baik. Sini biar aku bantu mengoleskan obat itu." Pram merebut obat luka dari tangan Kharon tanpa permisi. Dan Kharon, ia hanya diam dan tidak berkata apapun.


Beberapa kali tubuh Kharon refleks menjauh dari tangan Pram diikuti rintihan pelan dari mulutnya. Namun Kharon tidak berkata apapun pada Pram. Tentu saja hal itu membuat Pram merasa tak nyaman. Khodamnya itu biasanya pasti akan ngoceh dan berkata, "Apa kau ingin membuat lukaku semakin parah?". Tapi tidak dengan saat ini, Kharon hanya diam dan merintih saja.


Pram memelankan olesannya pada luka luka yang entah berapa banyak jumlahnya. Luka luka itu memang terlihat dalam bukan hanya luka gores. Pram lantas melihat kuku kukunya.


Panjang kuku Pram sekitar 5 cm. Ia memang suka memelihara kuku sejak kecil. Baginya kuku yang bersih dan indah memiliki estetika  dan daya tarik tersendiri yang sangat menyenangkan hati. Namun, mengingat apa yang telah dilakukan oleh kuku kuku itu pada Kharon, Pram menjadi tak ingat lagi soal nilai keindahannya. Ia kini bahkan sangat bernafsu untuk memangkasnya. Ia sangat menyesal karena selalu mengabaikan permintaan Kharon yang menyuruhnya untuk memotong kuku.


Bukan hanya terlihat dalam, luka sayatan kuku dari Pram juga menimbulkan aroma luka yang tercium persis dengan luka bekas tebasan pisau, pedang, ataupun benda tajam lainnya. Belum lagi wajah dan lengan Kharon yang juga membiru. Bekas pukulan dari Pram membuat beberapa bagian tubuh lelaki itu terlihat lebih besar.


Pram menitikan air mata sambil terus mengolesi luka Kharon dengan obat. Ia sangat sadar bahwa yang ia lakukan sangat jahat. Memangnya apa salah Kharon hingga ia mesti meluapkan emosinya pada khodamnya itu.


"Aku sudah mengatakan padamu untuk beristirahat saja. Tak perlu repot mengobatiku. Aku bisa melakukannya sendiri." kata Kharon dengan nada yang agak tinggi.


"Tapi aku sama sekali tak merasa direpotkan. Aku yang membuatmu terluka, jadi aku harus bertanggung jawab membantumu mengobati ini semua." kata Pram masih dengan menangis.


"Iya, aku tahu itu. Tapi sekarang batinmu itu belum stabil, jadi pergilah dulu untuk istirahat." ucap Kharon kini dengan nada yang lebih rendah.


"Marah? Mengapa aku harus marah padamu?" Kharon berkata tanpa melihat Pram. Ia yang baru saja meminta obat luka dari Pram, kini kembali mengolesi lukanya sendiri.


"Lalu mengapa kau seperti tak mau kalau aku membantumu mengobati luka luka itu?" tanya Pram semakin dongkol sebab Kharon tak melihatnya.


"Apa karena aku adalah orang yang membuatmu jadi terluka begini? Hingga kau bahkan sudah enggan untuk sekadar melihatku? Pram kembali merebut obat luka dari tangan Kharon, membuat kekasihnya itu jadi terkejut.


"Huuuuft. Aku hanya tidak ingin melihatmu menangis lagi. Aku tahu melihat luka luka ini pasti akan membuatmu menyesal dan menangisi semua rasa sakit yang aku rasakan." ucap Kharon setelah menghela nafas panjang.


Pram terdiam. Ia sungguh terharu sebab Kharon selalu memikirkan dirinya sampai sebegitunya. Pram terharu karena Kharon bahkan lebih mendahulukan perasaan Pram daripada kesakitannya sendiri. Dan hal itu telah dilakukan Kharon berulang kali.


"Jangan memelukku dulu. Atau kau akan membuat luka luka ini semakin menyiksaku." kata Kharon melihat gestur Pram yang terlihat hendak memeluknya.


Pram tersenyum lega mendengar kata kata kasar keluar dari mulut Kharon. Membuat Kharon juga turut tersenyum sebentar, lantas kembali meringis menahan sakit.


"Mengapa kau tak marah padaku meski aku sudah menghajarmu hingga begini?" kata Pram sambil memandang Kharon.


"Berhentilah membuang waktuku dengan pertanyaan klise seperti itu. Kau sudah tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Dan aku juga tahu kalau kau sangat mencintaiku. Kau bahkan tak bisa hidup tanpaku. Jadi apa mungkin kau akan membunuhku atau menyakitiku? Aku yakin, kau merasa sangat sakit melihatku menahan sakit." kata Kharon panjang lebar, lalu menutup obat luka di tangannya.


"Kau ini, selalu berbesar diri!" ucap Pram dengan senyum yang membenarkan. Ia bahkan merasa perlu mencipratkan air dalam baskom ke wajah Kharon dengan jari jarinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,


 


Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:


1.       Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.


2.       After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.


3.       Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.


4.       Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.


5.       Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)


 


Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^