
Kabar hadirnya seorang mata-mata yang menjelma menjadi seekor merpati putih di negeri Shaman segera sampai di telinga Bemius. Raja dari kerajaan Anathemus itu menanggapi kabar tersebut dengan sangat santai. Saat para prajuritnya bingung menerka siapa sebenarnya yang menjelma menjadi burung merpati itu, Bemius bahkan telah menduga bahwa burung itu adalah jelmaan dari adik kandungnya, Philemon. Adik tersayang yang selalu ingin ia lenyapkan.
Bemius tahu benar bahwa ayahnya tidak akan pernah hidup tenang meninggalkan Shaman. Pasti ayahnya sangat mengkhawatirkan para rakyatnya. Tapi ia juga paham bahwa luka yang diderita ayahnya karena serangan yang ia luncurkan tentu sangat parah, jadi tidak akan mungkin kalau sang raja yang berkunjung. Lalu, siapa lagi yang datang kalau bukan saudaranya terkasih, Philemon.
“Tidak apa, kalian tidak perlu panik. Itu hanya kunjungan biasa. Kalian fokus saja pada tugas kalian masing-masing. Biar aku yang menyelesaikan kunjungan sembunyi-sembunyi itu.”
Para jin dan siluman yang turut datang melaporkan kejadian yang baru saja terjadi di ruang pertemuan istana itupun kembali ke tempat tugas masing-masing. Mereka sangat segan pada rajanya yang berwibawa itu. Juga cara sang raja dalam menanggapi persoalan yang terjadi.
“Panggil Panglima III.” seru Bemius membuat seorang prajurit bergegas keluar meninggalkan ruangannya.
Bemius sendiri memilih untuk tinggal di Anathemus dan menyerahkan kendali negeri Shaman kepada para panglimanya. Ia hanya sesekali bertandang ke Shaman, utamanya untuk menyaksikan keadaan para petinggi kerajaan dan jin-jin sakti Shaman yang terkurung di penjara kotak. Juga menyapa para pengikut barunya di penjara lapang.
Ruang kerja Bemius di Anathemus terbilang sempit. Ia sendiri yang memilih dan mendesain tempat itu. Tidak ada yang istimewa untuk ukuran raja dari kerajaan yang sangat besar. Seluruh dinding di ruangan itu berwarna putih, berbeda dengan warna istana Anathemus secara keseluruhan yang didomiasi hitam dan abu-abu. Di dalam ruangan yang hanya berukuran 3x3 meter itu terdapat sebuah meja kecil dengan kursi kayu yang sama-sama berwarna putih, sangat sederhana. Di atas meja itu terdapat vas putih berisi setangkai bunga mawar biru. Itu adalah bunga kesayangan ibunya. Tepat di samping bunga tersebut terpajang sebuah foto dengan bingkai berukuran 10x10 cm. Jelas terpampang senyum Bemius kecil dalam pangkuan ibunya. Dan jika menengok ke arah dinding ruangan, terlihat beberapa lukisan tergantung dengan sangat apik.
Lukisan pertama adalah lukisan pohon cendana yang banyak tumbuh di sekitar kerajaan Shaman. Bemius meminta seorang seniman hebat di Anathemus untuk melukis pohon tersebut demi mengenang masa kecil bersama ibunya. Dulu Tri Laksmini sering mengajak Bemius kecil tidur-tiduran di bawah pohon cendana. Ibunya selalu suka dengan aroma cendana yang mendamaikan. Ia membiarkan Bemius kecil meletakkan kepala di pangkuannya, lantas mengusapnya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan seraya melantunkan nyanyian yang menyejukkan.
Lukisan kedua adalah wajah Tri Laksmini yang tengah mengenakan sebuah topi oranye dan tersenyum manis. Llukisan itu meniru potret foto yang diambil saat menjelang malam, ketika ibunya mengajaknya ke padang ilalang untuk bermain petak umpet. Bemius selalu suka melihat ibunya memakai topi itu. Bahkan ia sering pergi diam-diam ke kamar ibunya saat semua orang telah terlelap hanya untuk meletakkan topi itu di atas kepala ibunya yang juga sedang tertidur pulas.
Dan lukisan ketiga adalah potret ibunya yang tengah bersedih mengantar kepergiannya ke pengasingan. Ia mendapatkan foto itu dari seorang jin hitam yang sengaja ia minta untuk memotret wajah ibunya di detik-detik terakhir. Ketika itu Bemius sengaja tidak menoleh ke arah ibunya. Ia tak cukup kuat untuk menyaksikan ibunya menangis sesenggukan.
Bemius sering mengusap lembut setiap lukisan yang ada di ruangannya. Dari tempat kerjanya terlihat jelas bahwa di balik kekejamannya, Bemius begitu menyayangi ibunya, melebihi siapapun.
Kepribadiannya saat bersama ibunya, sungguh sangat berbeda. Ia selalu menjadi anak yang patuh, sederhana, dewasa, dan penyayang. Bemius sendiri terkadang heran pada dirinya yang tak berperasaan, sedang sebetulnya ia adalah seorang yang lembut dan penuh kasih. Ia sendiri tak mengerti mengapa dirinya menjadi begitu sadis pada orang lain. Termasuk pada ayahnya, yang baginya adalah orang lain juga.
“Hamba paduka.” suara Panglima III yang datang membuat Bemius memutar kursi kayunya.
“Duduklah.”
Panglima III duduk di hadapan rajanya.
“Coba kau cari kembali keberadaan anak purnama ketujuh itu. Lalu kau temui mata-mata eksklusif kita dan berikan penawaran yang menggiurkan. Minta dia untuk menghampiri gadis itu dan mengajaknya kembali ke asalnya.” kata Bemius dengan lembut.
“Baik, paduka. Ada lagi yang harus hamba lakukan?”
“Bagikan makanan yang nikmat kepada seluruh penduduk Anathemus, tanpa terkecuali, selama tiga hari berturut-turut.”
“Apakah paduka sedang merayakan sesuatu?” kata Panglima III dengan senyum sumringah.
“Anggap saja itu sebagai perayaan menyambut kematian Raja Shaman. Aku ingin seluruh rakyatku merasakan kebahagiaan yang sedang aku rasakan.” Bemius membalas senyum panglimanya dengan senyum sumringah pula.
“Baik, paduka. Apakah ada yang lain lagi, paduka?”
“Baik, paduka.” kata panglima sambil beranjak dari kursi.
“Terima kasih Panglima.” senyum Bemius kembali terkembang mengantar kepergian panglimanya.
Bemius selalu memperlakukan para pengikutnya dengan sangat sopan dan baik, asalkan mereka tidak melakukan kesalahan. Ia juga selalu mengapresiasi kinerja para panglimanya. Bemius sering memberikan hadiah pada mereka. Selain itu, di kerajaannya, Bemius rajin memberi santunan pada penduduknya yang menjadi minoritas. Itu sebabnya seluruh rakyat Anathemus hidup dengan tingkat kesejahteraan di atas rata-rata, bahkan tidak ada kaum proletar di sana.
“Panggilkan aku, Penasihat Tiedor.”
Bemius mencorat-coret kertas di hadapannya. Ia terlihat sedang menggambar sesuatu sembari menunggu sang penasihat kerajaan datang. Wajah Bemius terlihat sangat fokus. Beberapa kali ia menghapus coretannya dengan sangat hati-hati.
“Hamba paduka.” kata sang penasihat lembut.
“Duduklah.”
Bemius menunggu penasihatnya hingga duduk, baru kemudian melanjutkan pembicaraan.
“Hari ini adikku Philemon datang berkunjung di kerajaan Shaman. Aku tidak mau menjadi tuan rumah yang buruk. Aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat datang padanya. Oleh sebab itu, aku minta padamu untuk mencari keberadaannya, secepat yang kamu bisa. Saat sudah kau temukan dimana dia bersembunyi, kau tidak perlu melakukan apapun. Cukup kau beritahu saja aku.”
“Baik, paduka. Hamba akan segera menemukan tuan Philemon.”
“Bagus. O, iya, dia juga membawa serta ayahku dalam pelariannya. Saat sudah menemukan mereka, perhatikan kondisi ayahku. Apakah dia sudah membaik atau masih terluka. Aku sangat memikirkan keadaannya.”
“Baik, paduka raja.”
“Kau boleh pergi, terima kasih.”
Kini Bemius kembali sendiri. Ia melanjutkan kegiatan menggambarnya. Masih dengan sangat serius. Dan beberapa saat kemudian gambarnya telah siap. Itu adalah potret dari Raja Ramadhana, ayahnya. Bemius sengaja melukis wajah ayahnya karena ia sama sekali tak menyimpan foto ayahnya. Dalam gambar yang ia buat, Raja Ramadhana terlihat gagah dengan senyum manis yang terkembang. Bemius menggambarnya dengan sangat detail. Ia bahkan tidak melewatkan sebuah *** lalat kecil yang menghiasi pojok kanan bawah mata ayahnya sebelah kiri.
“Panggilkan aku pelukis tua Jazino.”
Bemius menginginkan gambar itu dilukis dengan lebih indah oleh pelukis yang sama yang membuat ketiga lukisan yang ada di ruang kerjanya. Beberapa menit kemudian pelukis itu telah ada di ruangannya.
Bemius meminta pelukis tua itu untuk melukis potret ayahnya sama persis dengan gambar sketsa yang telah ia buat. Bemius juga menambahkan agar sang pelukis tua membubuhi tulisan di bawah potret itu, yakni “Ayahku Tersayang”. Setelah mengerti semua yang harus ia lakukan, pelukis Jazino pun berlalu pergi.
Bemius telah mengurungkan niatnya untuk memakan mentah jantung ayahnya. Ia menyadari tindakan itu terlalu keji. Ia juga tidak ingin melupakan sosok ayahnya begitu saja. Maka dari itu, ia meminta pelukis tua Jazino untuk melukis wajah ayahnya di atas kanvas yang paling bagus. Lukisan itu akan ia pajang di dalam ruang kerjanya bersama dengan jantung ayahnya yang telah diawetkan. Dengan begitu ia akan mengenang kematian ayahnya dengan lebih baik.
“Aku tidak akan pernah melupakanmua ayah, orang yang selalu menginginkan kematianku. Wajahmu akan aku pandang setiap hari. Potretmu akan abadi di sini, menemaniku menghabiskan waktu.”