After Death

After Death
Bab 102: Roh yang Terkurung



Batin Pram masih terlalu sesak menerima semua kenyataan pahit yang menimpa dirinya dan keluarga. Namun, ia ingin menuntaskan semua yang mengganjal di hati dan pikirannya. Maka, ia pun mengajukan kembali pertanyaan kepada Raja Ramadhana.


“Raja, ayahku kini juga tengah sakit. Sebagian tubuhnya sudah tidak berfungsi. Apa itu berarti ayahku adalah tumbal berikutnya?” kata Pram sambil terus mengusap air matanya yang tidak mau dihentikan.


“Pram, ayahmu adalah orang yang melakukan kesepakatan dengan jin hitam. Dia tidak akan menjadi tumbal. Seandainya pun Bemius menginginkan nyawanya, pasti akan diambil ketika semua anggota keluarga telah meninggal. Tapi bisa juga ayahmu menjadi demikian sengsara hidupnya karena dia membangkang atau menolak permintaan jin hitam, hingga dia mendapat hukuman ketidakpatuhan.”


“Hah? Sangat kejam. Apa mungkin itu semua karena ayahku melarang mereka untuk mengambil nyawa kakak pertamaku Ghozie sebagai tumbal berikutnya? Karena hanya Ghozie yang terlihat sehat tak sakit satu apapun.”


“Bisa jadi begitu. Karena ayahmu telah berani mendekte mereka. Jin hitam itu membuat ayahmu menderita dengan maksud agar ayahmu menyesal dan semakin takut pada mereka. Saat sudah terjadi perjanjian itu, semua kendali dipegang oleh para jin. Mereka bisa bertindak seenaknya, mengubah kesepakatan semaunya, sedangkan manusia tidak punya pilihan selain menerimanya.”


Pram mulai menyadari bahwa sesungguhnya dari kesemua anaknya, ayahnya paling menyayangi kakak laki-lakinya, yang selalu mendapat omelan, pukulan, dan celaan dari ayahnya.


“Apa ayahku akan meninggal juga, raja?” tanya Pram masih dengan nada kesedihan.


“Aku tak tahu Pram. Setiap orang sudah punya suratan takdir masing-masing.”


“Lalu, apakah kakakku Ghozie bisa selamat, maksudku lolos dari pertumbalan itu?”


“Bisa saja asal dia memiliki pelindung yang lebih kuat dari Bemius.”


“Kau tahu Pram, penjara yang dibuat oleh para ilmuwan Bemius itu tidak seperti penjara pada umumnya. Penjara itu memiliki fisik bangunan seperti gedung-gedung tinggi dan megah. Betingkat-tingkat lantainya, kalau tidak salah ada 5 lantai. Semakin tinggi lantainya, semakin berat tugas yang harus diselesaikan. Seperti yang aku katakan padamu, para roh tumbal perjanjian itu dipekerjakan secara paksa oleh Bemius.


Dan di setiap lantai gedung, kau akan menjumpai banyak sekali buntelan-buntelan yang tergantung di atap. Buntelan itu seperti kepompong. Dan di dalam buntelan itulah para roh tumbal dimasukkan kembali untuk tinggal setelah mereka dipekerjakan. Jika ingin menyelamatkan roh-roh itu, kepompong roh itu harus dipotong hingga terputus. Jika ayahmu meninggal masih dalam keadaan terikat dengan perjanjian itu, dia akan tinggal di lantai paling atas, yang selalu dipekerjakan siang dan malam tanpa jeda.”


Pram membayangkan perkataan Raja Ramadhana. Ia sangat ingin memutus semua perjanjian itu. Tapi ia tak tahu bagaimana caranya. Raja Ramadhana pun tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena perjanjian antara manusia dengan jin hitam memiliki SOP dan MOU tersendiri yang tidak dimiliki kerajaan Shaman, sebab para jin putih tidak pernah memiliki ikatan perjanjian mutlak dengan manusia. Hubungan jin putih dengan manusia adalah hubungan sukarela, tanpa paksaan.


“Apa aku bisa memutus kepompong itu dan membebaskan roh ibu dan kakakku?”


“Tentu saja, asalkan kau telah menguasai llmunya. Karena di penjara itu, penjagaannya juga sangat ketat.”


Pram terdiam, rasanya tekad untuk membebaskan roh ibu dan saudara perempuannya itu semakin besar. Ia tak tega membayangkan betapa menderitanya roh ibunya selama ini. Bertaun-tahun terkurung dan bekerja keras mengabdi pada Bemius yang keji.


“Terima kasih Raja, informasi dari Anda sangat membantuku. Jika aku telah siap dan ada kesempatan yang baik, aku akan pergi ke sana membebaskan roh ibu dan kakakku.”


Kharon menyodorkan seekor ikan bakar raksasa ke wajah Pram degan tiba-tiba. Gadis itu langsung berteriak dan tangannya secara otomatis bergerak menjambak rambut Kharon. Suasana dalam gubuk yang semula penuh duka itupun berubah penuh tawa, dan pastinya ocehan Prameswari yang meluncurkan amarah ke khodamnya


Sedangkan Kharon, hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia menelan semua ocehan itu dengan legowo. Ia bahkan senang karena tujuannya mengusir sedih dari diri tuan puterinya telah berhasil.