After Death

After Death
Bab 125: Ciuman Pertama Kharon



Philemon dan Raja Ramadhana telah berpamitan untuk segera tidur di kediaman mereka agar besok bisa memulai hari lebih awal, meninggalkan Pram bersama Kharon.


Hari sudah larut. Yang terdengar adalah suara burung hantu dan berbagai serangga. Lampu rumah juga sudah dipadamkan, hanya tersisa sebuah lampu neon kecil dengan sinar temaram sebagai pelita.


"Ron, apa kau sudah tidur?" kata Pram sambil bangun dari baringannya dan duduk memandang Kharon yang tidur di ranjang yang ada di depannya.


"Tidurlah, Pram." kata Kharon dengan suara berat karena kantuk.


Pram merasa dongkol karena khodamnya itu berbicara tanpa membalik badan atau sekadar menoleh. Ia tetap anteng dalam selimut.


"Dasar! Ron aku masih kangen. Ayo bangun dan ngobrol sebentar." Pram mengucapkan kata-katanya dengan berbisik.


"Apa Pram? Sudahlah tidur dulu ya, selamat malam." kini Kharon tidak hanya menyelimuti tubuhnya, tetapi juga membenamkan kepalanya ke dalam selimut. Membuat Pram semakin kesal.


"Hei, bangun! Kau yang ke sini atau aku yang ke sana?" bentak Pram.


Kriiik....kriiik...kriiiik.


Suara jangkrik terdengar sangat nyaring di kesunyian malam. Dan tidak ada satu pun sautan dari Kharon, ia benar-benar ingin menghabiskan waktu dengan tidur yang nyenyak. Sebagai ganti utang tidur yang sudah terganggu karena berada jauh dari Pram sebelumnya.


Ya, Kharon memang terbiasa tidur di dekat Pram. Jika mereka berjauhan, maka lelaki itu pasti begadang sepanjang malam karena tak bisa tidur. Jangankan berjauhan, Pram ada di sampingnya pun kadang ia tak lekas tidur karena terlalu mengkhawatirkan keselamatan perempuan itu.


Pram melompat dari tempat tidurnya dan menjatuhkan dirinya di tempat tidur Kharon. Dan khodamnya itu masih tak bangun juga.


Pram merebahkan diri tepat di depan Kharon yang tidur miring ke kanan. Ia mengamati wajah Kharon yang menawan. Lelaki itu terlihat sangat lelah. Pram tak tahu bahwa selama di pulau Amsleng Sufir Matdrakab, Kharon tidak pernah bisa tidur nyenyak karena terus memikirkan bagaimana kalau Philemon dan Raja Ramadhana tahu bahwa Pram adalah kekasihnya. Apakah mereka akan kecewa.


Pram mengelus kepala Kharon dengan lembut berulang kali. Ia terkadang juga memeluk Kharon erat. Dan Pram juga memberanikan diri mengecup kening Kharon. Tapi setelah semua yang ia lakukan, bahkan tubuh Kharon bergerak saja tidak. Pram kemudian mulai putus asa dan memutuskan untuk tidur saja di samping khodamnya itu. Ia melingkarkan tangannya ke perut Kharon dan mulai memejamkan mata.


Beberapa lama kemudian, Kharon merasa sangat haus dan ingin minum. Betapa kagetnya ia saat membuka mata. Perempuan yang ia kasihi tengah tertidur pulas di hadapannya sambil melingkarkan tangan ke perutnya. Kharon sungguh senang dan menirukan apa yang dilakukan Pram. Ia melingkarkan tangannya ke perut Pram. Lantas kembali memejamkan mata. Semua rasa hausnya seperti telah hilang.


"Apa kau bangun?" kata Pram sesaat setelah Kharon meletakkan tangannya di atas perut Pram.


"Heem, tidurlah Pram. Tadinya aku bangun untuk minum, tapi mata air dalam hidupku sudah ada di depan mataku, jadi aku sudah tidak haus lagi." kata Kharon setengah sadar.


Pram cengar cengir mendengar ucapan Kharon. Ia begitu tersanjung dengan ucapan itu hingga membuat hatinya berbunga-bunga dan matanya tak ngantuk lagi. Ia kemudian memeluk erat khodamnya itu.


"Ron, apa kau rindu padaku? Aku sangat merindukanmu." kata Pram lirih sambil memejamkan mata, dan membuat Kharon membuka mata.


"Tentu saja. Aku rindu padamu, Pram. Sangat rindu." Kharon membalas pelukan Pram dengan pelukan erat.


Kini Pram terjaga. Ia memandang lekat-lekat mata Kharon yang juga tengah memandangnya.


"Mengapa kau pergi begitu lama? Kemana kau pergi sebenarnya? Apa kau baik-baik saja?" kata Pram masih dengan suara lirih.


Kharon tidak berkata apapun dan langsung mengecup bibir Pram. Gadis itu hanya diam karena terkejut. Ia membiarkan Kharon mencium bibirnya lama.


"Mengapa kau selalu banyak bicara?" kata Kharon kemudian.


Pram masih diam menatap Kharon. Ia sungguh tak menyangka kalau khodamnya itu akan mengecup bibir mungilnya. Dan Kharon mengulangi apa yang ia lakukan. Kali ini Pram tidak diam. Ia membalas ciuman itu.


"Mengapa kau menciumku?" tanya Pram tanpa ekspresi. Ia terlalu kaget dengan peristiwa menyenangkan yang selalu ia harapkan selama ini, yang terjadi begitu mendadak dan tiba-tiba.


"Apa kau tak suka?" tanya Kharon dengan rasa bersalah karena membiarkan dirinya mencium bibir Pram. Padahal ia telah bertekad akan melakukannya di malam pertama pernikahan.


"Aku, aku...." Pram tak mampu menjawab karena malu untuk berkata jujur.


"Kau senang?"


Pram mengangguk.


"Padahal itu hadiah malam pertama pernikahan kita nanti. Tapi aku sudah memberikannya malam ini. Haaah, semua memang salahmu. Mengapa kau sangat cantik?" Kharon duduk.


"Tssuuuuut! Kau ini, apa kau ingin tuan Philemon dan Raja Ramadhana tahu kalau aku baru saja mencium bibirmu?"


Pram menggeleng dan menutup mulutnya agar tidak tertawa.


"Apa ini ciuman pertamamu, Ron?" kata Pram mendekatkan wajahnya ke wajah Kharon.


Kharon berusaha menghindar dari wajah Pram. Tapi gadis itu terus saja muncul di hadapannya dengan senyum yang seolah meledek.


"Berhentilah, Pram. Tingkahmu sungguh mengganggu." Kharon mulai risih dengan Pram yang terus menggelendot padanya. Sebetulnya bukan risih, ia malah senang, tapi itu memang sedikit mengganggu.


"Jawablah, Ron. Tidak perlu malu. Iya kan? Itu ciuman pertamamu kan?" Pram memasang kembali senyum meledeknya.


"Duduklah. Dan kau akan mendengar jawaban dariku." Kharon menepuk sebuah kursi.


"Baiklah. Aku akan duduk sebagai gadis manis." Pram menatap Kharon lekat-lekat.


"Sebetulnya itu bukan ciuman pertamaku." kata Kharon sambil menunduk.


"Apa? Lalu pada siapa kau berikan ciuman pertamamu, hah?" Pram menghapus semua senyum manisnya.


"Mengapa kau terdengar marah?"


"Iyalah. Sudah pasti aku marah. Aku kan pacarmu!" suara Pram mulai meledak-ledak seperti biasanya.


"Tsuuuuut! Kau ini, mengapa sulit sekali berkata pelan? Kau bisa membangunkan mereka nanti." Kharon meletakkan telunjuk kanannya di bibir Pram.


"Lagian kau sungguh menjengkelkan. Kepada siapa ciuman pertamamu kau berikan?"  Pram mengulangi pertanyaannya. Kali ini Pram marah dengan nada berbisik.


"Sebentar, sebelum aku menjawabnya, jawab dulu pertanyaanku. Apa itu ciuman pertamamu? Tidak kan? Kau bahkan sudah pernah bercinta dengan pacarmu di bumi dulu! Lalu mengapa kau sewot padaku saat kubilang bahwa yang barusan bukan ciuman pertamaku? Ayo jawab!" Kharon terus mendekatkan wajahnya ke wajah Pram. Membuat gadis itu terus menggeser mundur kursi yang diduduki.


"Aku, aku...." kata Pram saat kursi yang ia duduki telah tak membentur dinding, tidak bisa mundur lagi.


"Tapi kau ingin tahu pada siapa ciuman pertamaku kuberikan? Begitu?" Kharon tidak berhenti menghujani Pram dengan tatapan tajam, meski gadis itu sudah tak kuat menatapnya dan berusaha membuang pandangan ke segala arah.


"Aku berikan ciuman pertamaku pada orang yang sedang ada di hadapanku." kata Kharon sambil tersenyum.


Pram seketika itu pula berdiri dan berkacak pinggang.


"Maksudmu kau berbohong? Katamu yang barusan tadi bukan ciuman pertamamu. Aku sudah menduga, kau pasti bohong. Kau masih sangat amatir, Ron! Itu tidak bisa ditutup-tutupi. Melihat perangaimu yang kasar dan tidak tahu sopan santun, mana ada perempuan yang mau bersanding denganmu. Heeeh, hidup ratusan tahun dan baru ciuman satu kali, sulit dipercaya. Itu sangat menyedihkan." Pram menyelangi setiap ucapannya dengan tawa kecil penuh penghinaan. Ia benar-benar merasa menang telak.


Kharon sengaja diam membiarkan gadis pujaan hatinya itu senang. Ia tersenyum menyaksikan tingkah lucu Pram. Gadis ini memang tidak pernah berubah, benaknya.


"Tunggu, tapi kau tidak bisa berbohong. Atau saat kau tak kunjung menemuiku setelah aku pingsan, ada seseorang yang mencabut diadem di kepalamu?" tanya Pram menelisik. Lagi-lagi Kharon hanya tersenyum.


"Tapi katamu, diadem itu hanya bisa dilepas oleh orang yang memasangnya. Sedangkan kakek buyutku tidak mungkin datang ke sini." Pram memegangi kepalanya. Ia mulai pening memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Duduklah." Kharon membantu Pram duduk kembali di kursi itu.


"Kau ini tidak pernah berubah. Kurangilah kebiasaan spontanmu itu sedikit saja, maka kau akan hidup lebih damai." Kharon mengacak-acak rambut Pram. Membuat Pram kini sibuk merapikannya.


"Ciuman pertamaku telah terjadi saat aku memberikan nafas buatan padamu. Waktu itu tuan Philemon berulang kali menekan perutmu, tapi hanya sedikit saja air yang keluar dan kau tetap tak sadarkan diri. Jadi, karena aku panik, aku langsung refleks menciummu. Maafkan aku karena melakukan itu tanpa sepengetahuanmu, Pram." suara Kharon semakin lirih. Ia memang merasa sedikit bersalah karena telah lancang mencium bibir Pram tanpa izin, meski ia sama sekali tak berniat begitu.


"Haaah, apa? Kau menciumku di depan Philemon?" Pram melotot dengan wajah seolah tak percaya.


"Iya, maafkan aku Pram. Sungguh aku hanya berniat untuk menolongmu, tidak ada niatan lainnya." Kharon tampak cemas. Ia khawatir Pram akan marah karena ia secara tidak langsung telah mencium gadis itu di hadapan orang lain. Kharon takut kalau hal itu akan membuat Pram malu pada Philemon.


Pram langsung memeluk lelaki itu erat. Dan sama sekali tak menyahut saat Kharon berulangkali memanggilnya.


Pram sama sekali tak marah. Sebaliknya, ia justru tersenyum lebar. Tapi pipi kanannya menempel erat pada dada Kharon, membuat khodamnya itu kesulitan untuk melihat wajahnya.