
Kharon tersenyum melihat tingkah Pram yang seperti kanak-kanak yang baru masuk sekolah, terus menggelendot karena takut ditinggal orang tuanya sendirian di sekolah. Namun, ia tak berkata apa-apa. Kharon membiarkan Pram menempel di punggungnya, dan ia membuat sebuah camilan pendamping teh, pisang karamel keju. Kharon membuat camilan itu dengan khusyuk dan cekatan. Ia tahu Pram sangat menyukai kudapan itu. Sedangkan Pram, yang ia lakukan ialah sesekali menengok ke arah masakan Kharon sambil menjijitkan kaki, masih dengan rangkulan erat di punggung kekasihnya itu.
Kharon menyiapkan pisang karamel di atas sebuah piring plos berwarna hijau, lalu memarut sebatang keju sehingga menjadi taburan toping di atasnya. Camilan itu terlihat begitu menggoda. Pram yang telah lapar karena tak sempat makan sebelum tidur dan terbangun di malam hari, mengeluarkan suara-suara yang menunjukkan keinginannya untuk segera menyantap kudapan tersebut. Dan bunyi-bunyian dari mulut Pram itu selalu berhasil membuat Kharon tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Hem, cobalah.” kata Kharon sambil menyodorkan sesendok pisang karamel keju ke arah belakang punggungnya, menuapi Pram yang sepertinya lengket di punggung lelaki itu.
“Woooow, ini sangat enak. Ini adalah makanan ternikmat yang pernah aku makan. Mulai dari baunya, teksturnya, perpaduan rasa manis dari karamel, asin gurih dari keju, dan asam-asam manis dari pisang. Oh, sungguh perpaduan yang luar biasa. Awesome. Bravo. Great job. Kau memang juru masak paling hebat Ron.” kata Pram sambil bertepuk tangan dan menggelengkan kepalanya, membuat Kharon tertawa geli.
“Kau ini, selalu berlebihan. Apa kau akan makan sendiri atau aku harus terus menyuapimu?” kata Kharon tanpa berhenti menyuapi Pram.
“Suapi aku sampai kenyang.” jawab Pram dengan nada memerintah.
“Baiklah, tuan puteri.” ucap Kharon sambil sedikit membungkuk seperti seseorang yang sedang memberikan penghormatan.
Pram terpingkal-pingkal dengan suara tertawa yang ditahan mendapati Kharon yang bertingkah tak kalah konyol darinya.
“Tapi Pram, menyuapimu dengan posisi seperti ini bisa membuat tanganku bengkok. Ini sedikit menyiksaku. Bisakah kita duduk dan makan dengan tenang damai sambil menyeruput secangkir teh serai yang harum dan menghangatkan?” Kharon turut membual.
“Baik pangeran. Hamba siap melayani.” kali ini Pram yang mencoba turut membungkuk seperti Kharon, tapi ia lantas memegangi dahi sebab kepalanya membentur punggung Kharon yang kekar.
Kedua orang yang sedang sama-sama saling menyayangi dan senantiasa ingin menjaga satu sama lain itu pun tertawa bersama. Keduanya sama-sama menutup mulut agar tak menimbulkan kebisingan dan juga memegangi perut yang rasanya seperti kram karena terus menahan tawa.
“Bisakah kau bawa semuanya ke meja yang berada di dekat jendela itu? Aku akan menunggumu di sini. Lakukan semua dengan cepat dan segera kembali. Ingat segera kembali karena aku selalu menunggumu.” Pram berkacak pinggang dan memerintah Kharon sambil menunjuk-nunjuk. Lalu berkata lirih untuk kalimat terakhirnya.
“Kau ini! Baik tuan puteri, semua perintah tuan puteri pasti akan hamba laksanakan dengan sebaik mungkin.” Kharon berkata dengan nada awal seperti sedang kesal lalu berubah menjadi nada bicara yang terdengar sangat manis.
“Bagus, hahahaha.” kali ini gadis itu tidak menahan tawanya sebab nyeri di perutnya baru saja reda.
Kharon melaksanakan semua yang dikatakan Pram. Ia begitu senang melihat Pram terus tertawa bahagia bersamanya. Dan soal bahagia bersama itu membuat Kharon kembali melamun. Ia tak lekas meletakkan dua cangkir yang ia pegang. Pikirannya terbang bersama segala pertanyaan yang ia ajukan untuk dirinya sendiri.
Apa iya Pram akan semakin bahagia jika bersama Philemon? Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika kepergianku justru akan membuat Pram sedih terus menerus? Bagaimana jika Pram tidak bisa melupakanku dan tidak bisa hidup bersama Philemon sebagai penggantiku? Bukankah itu artinya baik Pram maupun tuan Philemon akan menderita? Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang menyita pikiran Kharon hingga kini tanpa sadar lelaki itu telah mematung.
“Ron, ayo letakkan cangkir itu dan segeralah kemari. Di sini sangat panas. Apa kau tak lihat kulitku hampir terbakar karena terkena sinar matahari?” Pram memulai bualannya lagi dengan gaya yang sangat meyakinkan.
Kharon tersenyum konyol menyadari imajinasi Pram yang terkadang sangat berlebihan. Matahari di malam hari? Pram, Pram, kau memang sudah gila, batin Kharon.
“Apa yang harus hamba lakukan sekarang?” Kharon berkata manis dengan memasang wajah kesal dan malas. Membuat Pram lagi-lagi tertawa cekikikan.
“Kau memang payah. Sebagai hukumannya, cepat kau gendong aku. Antarkan aku ke sana. Aku sudah sangat lapar menunggumu yang terlalu lama dalam memasak.” Pram menunjuk ke arah meja yang berada di samping jendela yang terbuka yang di atas meja itu telah menunggu sepiring pisang karamel keju dan teh serai untuk disantap.
“Mengapa kau suka sekali digendong? Sebelumnya kau digendong tuan Philemon dari pantai sampai rumah, dan sekarang kau minta aku gendong?” nada bicara Kharon berubah. Ia tak lagi memanis-maniskan suaranya ataupun memasang wajah dongkol. Wajah dan suara Kharon sangat datar saat mengucapkan kalimat itu.
Ucapan Kharon itu pun telah menghapus senyum dan tawa dari wajah Pram. Perempuan itu tercenung dengan wajah yang terlihat sedikit terkejut. Entah mengapa ucapan Kharon barusan terdengar seperti seorang yang sedang marah, meski dituturkan dengan nada datar. Pram sadar benar bahwa Kharon memang berhak marah, dan semuanya adalah karena kesalahan dan kelalaiannya.
Kharon dengan cepat menangkap raut muka bersalah dan tak enak hati dari Pram. Ia pun begitu menyesal telah mengucapan kata-kata tersebut. Ia juga tak mengerti mengapa ia mengatakan kalimat yang sangat rasis itu. Lagi-lagi mulutnya seperti sedang berkata sendiri sesuai isi hatinya, tak terkendali.
“Hei, perempuan sinting, ayo cepat naik! Kudamu sudah lama menunggu ini.” suara Kharon terdengar jauh lebih ceria. Membuat Pram tersenyum, namun itu bukan senyuman kebahagiaan.
“Tadi kau memanggilku tuan puteri dan kini kau juluki aku perempuan sinting? Tunggu sampai seluruh pasukanku akan menggelitikimu nanti.” Pram berusaha keras menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Ia pun naik ke punggung Kharon. Lantas mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
Kharon menggedong Pram masih dengan perasaan bersalah sekaligus bercampur dengan kesal setiap kali mengingat Pilemon menggendong Pram. Tapi Kharon berusaha menguasai diri dan menahan kekesalannya. Sebab sebenarnya ia tak memiliki sasaran individu yang pantas menampung kedongkolannya itu. Kharon tahu Pram tidak memiliki niat sedikit pun untuk menyakitinya. Sedangkan Philemon, jika tuan muda yang ia hormati itu tahu bahwa Pram adalah kekasihnya, ia yakin putra raja Shaman itu tidak akan berani menggendong Pram. Jadi yang pantas menerima kekesalannya adalah dirinya sendiri yang terlalu emosional dan naif.
Pram duduk di kursi yang telah ditata Kharon. Demikian juga Kharon, duduk di samping Pram sambil memandang keluar jendela. Memandangi sinar rembulan yang kali ini tak seterang biasanya. Seperti menggambarkan suasana hatinya yang sedikit kelabu.
“Minumlah, Pram. Kata tuan Philemon teh buatanku adalah yang terbaik.” kata Kharon lirih sambil tersenyum.
Pram yang telah mengangkat cangkir tiba-tiba meletakkan kembali cangkir teh yang barusan telah berada di depan mulutnya.
“Kenapa, Pram?” tanya Kharon heran. Ia pun tak jadi meminum teh di tangannya. Sama seperti yang dilakukan Pram, Kharon pun meletakkan kembali cangkir tersebut di atas meja.
“Bisakah kau berhenti berbicara soal Phil?” ucap Pram dengan senyum sesaat saja. Kharon tahu itu adalah senyuman getir.