After Death

After Death
Bab 156: Memotong Kuku



Ketika prosesi penerawangan Shaman sudah selesai dan Raja Ramadhana telah tenang, Kharon bergegas mengajak Pram untuk pulang. Ia tahu bahwa sebagai seorang pemula, Pram akan menghabiskan banyak energi untuk melihat keadaan Shaman selama itu.


Sesampainya di rumah, Kharon tanpa basa basi menggendong Pram dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Apa kau kira aku ini sakit sampai harus digendong segala?" kata Pram agak kesal karena Kharon melakukan semua tanpa mengatakan apapun.


"Hei! Apa kau tak mendengarku!" Pram membentak Kharon yang tidak menjawabnya. Bahkan laki laki itu tidak melihatnya.


"Roooon! Ayolah, katakan sesuatu." kini Pram merengek. Tapi Kharon tak juga menyahut. Ia sibuk berkutat di dapur entah membuat apa.


"Baiklah, tetaplah diam sebagai orang bisu." Pram kini menutupi seluruh tubuh, termasuk kepalanya dengan selimut. Ia mendengus kesal sebab Kharon telah mengabaikannya.


Kharon berjalan mendekati Pram yang masih sembunyi di balik selimut menutupi kedongkolan. Lantas lelaki itu membuka selimut tanpa permisi, hingga membuat Pram terkejut.


"Bangun dan minumlah. Lalu tidur." kata Kharon membuat tangan Pram kini memegang gagang gelas besar berisi air kelapa muda. Lantas berlalu meninggalkan Pram menuju belakang rumah.


Pram langsung melompat dari tempat tidurnya. Tubuhnya sedikit oleng menjaga minuman yang dibuatkan Kharon agar tidak tumpah. Ia kemudian berlari mengikuti Kharon.


Sampainya di belakang rumah, Pram melihat Kharon telah duduk bersila dengan kedua tangan kanan dan kiri di atas lutut. Dua jari yaitu jempol tangan dan telunjuk bertemu di ujungnya. Siluman harimau putih itu juga memejamkan matanya.


"Ron, apa kau sedang semedi?" tanya Pram dengan suara yang sangat pelan, sangat berbeda dengan yang sebelumnya.


Kharon tak menyahut. Lelaki itu masih pada posisi yang sama tanpa bergerak sedikit pun.


"Ron, apa kau mendengarku?" Pram kembali bertanya dengan suara yang masih pelan.


"Ron! Katakanlah sesuatu!" Pram kembali dongkol dan mengeluarkan suaranya yang menggelegar.


"Diam dan pergilah." kata Kharon tenang. Membuat Pram memanyunkan bibirnya karena jengkel. Lantas kembali masuk ke dalam rumah setelah menghembuskan nafas panjang dan kuat.


Hanya sesaat Pram di dalam rumah, kini batang hidungnya sudah terlihat lagi di depan Kharon. Ia duduk di atas tikar yang digelar di hadapan Kharon. Air kelapa muda yang masih utuh di tangannya pun akhirnya ia seruput dengan cepat. Pram kini memainkan sedotan putih belang merah di tangannya.


Ia sesekali melihat Kharon. Pram berpikir bahwa luka yang ia timbulkan di wajah Kharon memang terlampau banyak. Ia yakin lelaki itu tentu merasakan sakit yang teramat sangat.


Pram memandangi kuku tangannya sesaat. Harusnya sejak awal ia sudah memotong kukunya seperti yang selalu dikatakan Kharon.


Maka, gadis itu pun berlari ke dalam rumah dan mengambil pemotong kuku di laci meja dekat tempat tidurnya. Dan dalam waktu sekejap saja Pram sudah kembali berada di hadapan Kharon yang terlihat masih enggan membuka mata.


Pram terlebih dahulu mengelus kuku kesayangannya. Walau bagaimanapun kuku kuku itu telah ia rawat dengan penuh kasih sayang, ia bersihkan setiap hari, dan tentu saja selalu ia pandangi sesaat sebelum tidur.


"Jadi, cukup sampai di sini saja." kata Pram sambil memejamkan mata selama tiga detik, lantas membuka mata dan memangkas kuku kukunya dengan cepat.


Dan setelah menyelesaikan kegiatan yang selalu ia hindari itu, Pram mengangkat kedua tangannya sejajar dengan muka. Lalu membuka jari jarinya sehingga kini mereka tampak saling berjauhan. Berulang kali Pram membolak balik tangannya, mengamati kukunya yang sudah gundul.


"Aku sungguh berduka atas keguguranmu. Tapi sekarang kita impas. Kau telah melukai kekasihku. Maka jangan harap aku akan membiarkanmu panjang walau sesenti." Pram mengoceh pada jarinya sendiri seperti orang tak waras.


Ia kemudian memunguti potongan kuku yang terjatuh di atas tikar. Entah mengapa gadis itu merasa perlu untuk menangis. Ia sedikit menahan isakannya agar Kharon tak mendengar. Lalu membuang semua kuku panjangnya ke tempat sampah.


Ketika Pram berjalan kembali menuju tikar di hadapan Kharon, ia dikejutkan oleh kehadiran Kharon yang telah tanpa sengaja ia tabrak. Pram tak menyadari kedatangan Kharon sebab ia berjalan sambil menunduk.


"Apa kau tadi menangis?" tanya Kharon sebab dalam semedinya tadi ia mendengar suara tangisan Pram.


Pram hanya diam dan berusaha tersenyum lebar.


"Ada apa dengan jarimu sampai kau sangat serius mengamatinya hingga tak melihat aku di depanmu?" Kharon bertanya dengan nada datar. Sebetulnya ia masih khawatir pada Pram. Kharon selalu khawatir pada Pram setiap kali gadis itu sedang atau telah menggunakan jurus pemanggil roh dewi pencabut nyawa.


Pram kini meletakkan kedua tangannya di belakang pinggang. Ia berusaha keras menghalangi Kharon untuk melihat jari jarinya.


Gadis itu langsung mengangkat tangan dan membiarkan punggung tangannya menghadap ke arah Kharon sehingga jari jemarinya lebih jelas terlihat.


"Kemana kuku kukumu?" tanya Kharon dengan nada yang terdengar cemas.


"Aku sudah memotong mereka." kata Pram lirih masih menahan sedih


Kharon terkejut dan mengernyitkan dahinya. "Mengapa kau memotongnya?" Kharon bertanya dengan nada suara yang agak tinggi.


"Karena kau."


"Aku?"


"Ya, bukankah kau selalu menyuruhku untuk memotong kuku dan tidak membiarkannya panjang?" kata Pram agak kesal karena Kharon bersikap seolah tak ikut andil menjadi penyebab pemotongan kuku.


"Bukankah kau selama ini selalu menolak permintaanku untuk memotong kuku?" Kharon menjawab pertanyaan Pram dengan pertanyaan pula. Membuat Pram berhenti sejenak tak berkata apa apa.


"Sebab aku sayang, jadi aku membiarkannya panjang. Tapi kau, kau selalu ngoceh soal kuku. Aku lelah mendengarnya."


"Kalau kau sayang mengapa kau memotongnya?"


"Sudah kubilang aku capek mendengar ocehanmu."


"Kalau capek kau kan biasanya menutup telinga."


Baik Pram maupun Kharon kini diam. Tidak terdengar kata apapun dari keduanya. Mendatangkan keheningan yang menimbulkan rasa tak nyaman untuk keduanya. Tapi kedua orang itu sedang saling menunggu lawan bicara mengucapkan kata kata.


"Apa kau tadi menangisi kuku kukumu?" tanya Kharon dengan nada lirih sambil mengelus lembut jari jari Pram.


"Kalau kau memang tak suka dengan apa yang aku minta, jangan lakukan. Meski aku tak suka kalau kau berkuku panjang, aku lebih tak suka melihatmu bersedih. Apa kau mengerti?"


"Aku memotong mereka karena telah melukaimu." kata Pram lirih juga sambil mengusap air matanya


"Luka di tubuhku akan dengan cepat sembuh. Tapi bagaimana dengan luka hatimu? Apa kau bisa menahan sedih setiap kali melihat kukumu yang biasanya panjang menjadi gundul begitu?"


Pram menangis keras. Jauh di dasar hatinya, ia begitu menyayangi kuku kuku itu. Meski panjang kuku Pram memang terlihat putih bersih sebab ia merawatnya dengan sungguh-sungguh.


Kharon memeluk Pram untuk menenangkan. Lelaki itu sebenarnya terharu mendapati Pram memotong kukunya hanya demi dirinya. Sebab selama ini Pram selalu menolak untuk memotong kuku.


"Sudahlah. Mereka bisa tumbuh lagi." Kharon mengelus rambut Pram


"Lagi pula jari jarimu tampak lebih indah dengan kuku pendek begitu." lanjut Kharon.


 


"Apa kau serius?"


"Apa aku pernah bohong padamu?" tanya Kharon membuat Pram tersenyum.


Kharon lantas melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak Pram. Ia menatap Pram dengan sangat serius.


"Pram ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu." Kharon berhenti sejenak berharap Pram mengatakan sesuatu. Tapi Pram hanya diam melihatnya. Wajah Pram menunjukkan bahwa ia ingin mendengar dengan segera pertanyaan yang ingin diajukan Kharon.


"Bagaimana jika Raja Ramadhana ingin pergi ke Shaman mencoba menyelamatkan rakyatnya? Apa kau akan ikut? Bila memang ikut, apa kau sudah siap menghadapi Bemius?" Kharon mengajukan rentetan pertanyaan yang telah membuatnya gusar.