After Death

After Death
Bagian 39: Jalan Menuju Cahaya



Pagi ini Pram, Kharon, dan Dante makan ikan bakar. Hasrat Kharon sebagai salah satu jenis kucing tidak dapat dipungkiri. Ia secara khusus meminta Pram untuk memanah ikan. Dan kemampuan Pram dalam memanah tidak mengenal medan, baik berburu di darat maupun di air, ia sangat mengagumkan.


"Ikan memang paling enak." ucap Kharon tanpa berhenti mengunyah. Sedetik kemudian ia menyesal karena merasa telah membenarkan perkataan Dante tempo hari yang mengejeknya sebagai seekor kucing.


"Itu karena kau seekor kucing." kata Dante dengan senyum kemenangan.


"Tapi ikan ini memang segar. Terasa gurih dan sedikit manis. Dari semua makanan yang kita makan selama di hutan ini, aku rasa ikan bakar ini yang paling nikmat." kata Pram membuat senyum Kharon merekah.


"Apa kau sudah siap untuk belajar, Pram?"


"Belajar apa?" sergah Dante.


"Jadi, mulai saat ini Kharon akan menjadi guruku, Dante. Aku rasa, aku memang perlu belajar untuk setidaknya melindungi diri jika dalam bahaya."


"Kau tak perlu risau Pram, selama aku ada di sisimu, aku pasti akan menjagamu. Jadi, tak perlulah belajar ilmu ini itu. Yang terpenting sekarang, kita harus mencari tahu cara untuk kembali ke Cato. Jika sudah kembali ke sana, semua pasti akan baik-baik saja. Kita bisa hidup lebih damai, memulai hidup baru yang lebih baik."


"Masalahnya tidak segampang itu. Percayalah, baik di sini, di negeri Shaman, ataupun di Cato, Pram tidak akan pernah aman jika Bemius dan pengikutnya menyerang. Kekuatan dan kelicikan Bemius akan membuat kita sangat kesusahan."


"Jadi, akan belajar apa aku sekarang?"


Kharon meletakkan ekor ikan yang dipegangnya. Dan fokus pada murid barunya. Sementara Dante memandang Kharon dengan kesal karena jika Pram menjadi murid siluman itu, berarti akan lebih banyak waktu dan kesempatan bagi keduanya untuk bersama-sama.


"Ilmu ilusi. Dengan ilmu itu, kau mampu membuat orang lain berhalusinasi sesuai dengan skenario yang kau buat. Misal, saat pengikut Bemius mengejar, kau menggunakan ilusi untuk membuat mereka seolah-olah sedang melihatmu bersembunyi di suatu tempat. Padahal di waktu yang sama kau sedang melarikan diri."


"Hanya begitu?" tanya Dante sinis.


"Jika sudah ahli, kau bahkan bisa membuat Dante berhalusinasi sedang hidup bahagia dengan seorang perempuan cantik selama bertahun-tahun. Padahal kenyataannya, dia hanya sedang bersama seekor katak."


"Ha ha ha." Pram terbahak, membuat muka Dante masam. Sementara Kharon tersenyum puas.


Menyadari idaman hatinya itu sedang kesal, Pram berusaha untuk menghiburnya.


"Apa aku juga bisa membuat diriku sendiri berhalusinasi dicintai dan disayangi Dante?"


Pram menelan ludah mendengar penjelasan Kharon. Tentu saja ia tak mau mengambil resiko menjadi gila. Tapi ia tak punya pilihan lain.


"Tapi kau jangan risau. Jika kau gagal, aku akan segera membawamu kembali. Dan kau bisa mengulanginya lagi jika sudah siap. Saat kita sudah memulai pelajaran ini, dengarkan dan ikutilah arahanku."


Pram bersiap. Ia memusatkan pikiran dan batinnya. Sesuai arahan Kharon, Pram bersila dengan kedua tangan diletakkan di atas lutut. Ia menutup matanya dan menarik napas panjang.


Kharon pun melakukan hal yang sama. Lalu, batin keduanya bersautan. Mereka berkomunikasi tanpa membuka mulut.


"Apa kau mendengarku, Pram?"


"Iya."


"Bagus. Sekarang, ikutilah mantera yang kuucapkan."


Kharon mengucapkan sebuah mantera pendek. Pram mengikutinya dengan sempurna.


Mantera itu mengantarkan Pram pada suatu tempat yang sangat gelap, lembab, dan terdengar suara tetesan air jatuh. Tak ada cahaya apapun. Saat Pram membuka dan menutup matanya semua sama, tak ada satu pun yang terlihat. Ia berusaha tenang, sesuai pesan Kharon, ia tidak boleh takut.


"Pram, meski gelap, cobalah untuk melangkahkan kakimu hingga tampak seberkas cahaya. Jangan menjerit atau mengeluarkan satu pun suara, meski kau merasakan ada sesuatu yang aneh di sekitarmu. Jangan pernah berhenti berjalan hingga kau melihat cahaya."


Pram menghela napas panjang. Ya, Pram membutuhkan lebih banyak oksigen untuk melangkahkan kakinya.


Pram menahan jeritannya. Ia merasa kakinya tengah dililiti sesuatu. Ada pula hewan berkaki banyak yang melata di wajahnya. Hewan itu menyemburkan suatu cairan busuk seperti nanah. Mulanya hanya satu, lalu terus bertambah hingga memenuhi seluruh tubuhnya. Ia hampir-hampir mengibas tangannya karena sudah tak kuat menahan bau dan jijik. Tapi lagi-lagi ia mengingat pesan Kharon untuk fokus dan mengabaikan apapun serta tidak melakukan gerakan apapun selain berjalan saja.


Pram hampir berhenti karena ia rasa hewan yang melilit kakinya membesar. Membuat langkahnya berat, bahkan terasa putus otot-ototnya. Sementara cairan yang dikeluarkan hewan-hewan melata itu telah membuat seluruh tubuhnya kuyup dan bau.


Buck! Pram terjatuh. Kini kakinya terasa telah putus dan mengeluarkan banyak sekali darah. Hewan yang melilitinya pergi membawa kakinya yang putus. Ia sudah tak mampu berdiri. Tapi ia mengingat pesan Kharon untuk tidak berhenti hingga melihat cahaya. Maka, Pram pun terus berjalan dengan merangkak. Ia merasa ada sesuatu di atas punggungnya. Besar, berat, berekor, dan bergigi tajam. Sesuatu itu menarik rambutnya dengan gigi lantas mengunyahnya. Pram merasa rambut panjangnya seperti dicabut sedikit-sedikit hingga kulit kepalanya terasa akan lepas.


Saat ia hampir menyerah, Pram melihat setitik cahaya di depan matanya. Lantas Pram menghela napas untuk menguatkan diri dan mencoba merangkak lebih cepat.


Akhirnya, Pram telah sampai. Ia memasuki lubang cahaya itu. Senyumnya merekah mendapati tubuhnya masih utuh dan tak ada satu pun hewan atau apapun yang mengganggunya tadi. Kini, yang ada di hadapannya sangat berbeda dengan tempat yang tadi ia lewati, sangat indah seperti taman besar di pusat kota, aromanya semerbak wangi, dan banyak sekali burung serta kupu-kupu. Juga terdapat banyak pohon yang sepertinya sejenis. Pohon-pohon itu berbaris rapi dengan jarak masing-masing sekitar satu meter.