After Death

After Death
​Bagian 24 : Percakapan – Percakapan



  “Ayo kita melakukan Teleportasi ke


Rumah Sakit di mana tubuhmu ditidurkan.”


            “Wah, jadi aku saat ini hanya


berwujud ruh, ya?”


            “Memangnya Kau baru sadar?”


            “Ya, kan sudah kubilang kalau aku


ini tak tahu apa-apa. Lagipula aku sudah tidak mau terlibat apa pun tentang konflik


yang terjadi di negerimu.”


            “Aku akan memaksamu untuk terlibat! Karena


Kau memang wajib terlibat.”


            “Aku tidak suka dipaksa. Camkan itu!”


            “Aku juga tak suka memaksa. Camkan


itu!”


***


            Kharon mengeluarkan sebuah ilmu semacam hipnotis kepada Prameswari untuk sejenak melupakan tragedy yang menimpa Dante. Kharon mengeluarkan banyak chakra demi memproduksi energy yang baik untuk Prameswari. Kharon


masih belum sadar jika ia tak bisa berlama-lama di Cato. Kekuatannya yang


tinggi membuatnya masih tetap bertahan dengan atmosfir Cato yang tak selaras


dengan unsur yang ada di tubuhnya. Ketidakselarasan antara atmosfir di Cato dan energy di tubuhnya sebenarnya memicu hawa negative berupa kemarahan dan emosi yang tak stabil.


            “Nah, itu tubuhmu. Silakan kau


masuk!”


            “Bagaimana caranya?”


            “Ya, tinggal masuk saja.”


            “Hei, aku tahu Kau cemburu karena aku lebih perhatian kepada Dante. Tapi bukan berarti kau lantas bisa bersikap


ketus begitu kepadaku!”


            “Siapa bilang aku cemburu? Kau


terlalu percaya diri!”


            “Aku tahu. Kau saja yang malu


mengakuinya. Cepat katakan bagaimana caranya biar aku bisa masuk ke tubuhku


sendiri?”


“Baiklah… Baiklah… Begini cara manualnya. Kecup keningmu dan tiup ubun-ubunmu tiga kali.


Lalu katakana, aku ingin pulang. Begitu.”


            “Nah, gitu dong dari tadi!”


            “Kukira hal remeh temeh begini Kau sudah tahu. Lagipula bagi yang sudah berilmu tinggi, mereka bisa keluar masuk jasad mereka dengan sangat gampang.”


            “Sudah berapa kali kukatakan bahwa aku tak tahu apa-apa!”


            “Harusnya bocah tujuh purnama tak begini. Dengan banyaknya mitos yang beredar tentang kehebatan bocah tujuh


purnama, aku kaget melihat kemampuanmu.”


            “Kau mau memancing emosiku???”


            “Tidak. Aku hanya berkata jujur!”


            “Tidak. Kau sengaja membuatku kesal!”


            “Untuk apa aku harus membuatmu kesal?”


            “Karena Kau marah Kau tak


kuperhatikan di danau tadi!”


            “Untuk apa aku harus marah untuk hal sepele seperti itu!”


            “Tapi Kau marah! Dan itu bukan


salahku!”


            “Baiklah terserah Kau saja!”


            ***


            Kharon berubah wujud menjadi kupu-kupu


dan terbang ke luar lewat jendela rumah sakit. Prameswari yang masih dongkol


lantas mempraktekkan cara agar ia bisa masuk kembali ke jasadnya. Begitu ia


meniup ubun-ubunnya tiga kali, ia tersedot masuk dan ia pun terbatuk-batuk karena


            Hatinya masih sangat dongkol, mendapati


Kharon yang berubah menjadi pria yang ketus dan cemberut. Yang tidak diketahui


Prameswari, hal tersebut juga disebabkan oleh atmosfir Cato yang tak selaras


dengan energy siluman semacam Kharon. Kharon sendiri juga kebingungan dengan


dirinya. Mengapa hal sepele semacam melihat orang yang disukainya lebih


memerhatikan orang lain membuatnya begitu dongkol dan emosi. Biasanya kondisi


mentalnya tak seburuk itu.


***


            “Kharon. Kemarilah. Ada yang ingin


kutanyakan.”


Tiba-tiba


Prameswari yang terbaring di ranjang rumah sakit merasakan bahwa Kharon bisa


mendengar suaranya.


            “Hei, Kau lumayan juga. Kukira Kau


tak bisa apa-apa.” Kharon menjawab panggilan Prameswari dari tempat yang tak


diketahui Prameswari.


            “Ya, aku mencoba saja. Kalau sejak


di Bumi aku bisa bercakap-cakap seperti ini mungkin Ponselku sudah kubuang. Hehe…”


            “Ini namanya telepati. Tapi


sebenarnya hanya orang-orang dengan kedekatan batin tertentu yang bisa melakukan


komunikasi. Apa itu artinya kau mengaitkan batinmu padaku?”


            “Tidak juga. Mungkin karena aku ini


hebat jadi bisa melakukannya. Itu saja. Oh ya, kelihatannya Kau sudah tak


marah.”


            “Ya. Kurasa begitu. Ternyata kemarahanku


dipicu oleh atmosfir alam ini. Ada partikel-partikel yang mengganggu energyku


dan membuat mentalku tidak stabil.”


            “Jadi bukan karena cemburu ya?”


            “Sepertinya bukan. Sudah kukatakan


bahwa hal remeh temen macam itu tak layak menjadi penyebab kemarahanku. Kau


kira aku ini siluman kelas apa?”


            “Wah… Sepertinya aku memang terlalu


percaya diri.”


            “Ya… Kurasa memang demikian. Oh ya, aku


harus segera kembali ke alamku. Dan sepertinya kau harus ikut.”


            “Tidak! Kau bisa pulang sendiri. Aku


akan berada di sini saja. Eh sebentar, ada Dokter Musa. Sepertinya dia akan


memberiku obat.”


            Kharon merasakan hawa jahat. Itu bukan


Dokter dari Negeri Cato. Dengan kecepatan cahaya, Kharon melejit menuju


keberadaan Prameswari dan menampakkan diri sebagai siluman harimau putih. Ia


menerkam Dokter Musa. Prameswari menjerit dan menghardik Kharon.


*********


Episode-episode


ini dibuat dengan agak ngawur dan kemungkikan besar akan segera saya revisi


besok. Terpaksa saya up demi memenuhi persyaratan keikutsertaan kontes


Noveltoon yang mewajibkan batas minimal Novel adalah 20 ribu kata. Sementara sampai


saat ini masih belum mencapai. Maka sepertinya chapter-chapter setelah ini aka


nada versi revisinya. Mohon map dan terima kasih…