
“Ayo kita melakukan Teleportasi ke
Rumah Sakit di mana tubuhmu ditidurkan.”
“Wah, jadi aku saat ini hanya
berwujud ruh, ya?”
“Memangnya Kau baru sadar?”
“Ya, kan sudah kubilang kalau aku
ini tak tahu apa-apa. Lagipula aku sudah tidak mau terlibat apa pun tentang konflik
yang terjadi di negerimu.”
“Aku akan memaksamu untuk terlibat! Karena
Kau memang wajib terlibat.”
“Aku tidak suka dipaksa. Camkan itu!”
“Aku juga tak suka memaksa. Camkan
itu!”
***
Kharon mengeluarkan sebuah ilmu semacam hipnotis kepada Prameswari untuk sejenak melupakan tragedy yang menimpa Dante. Kharon mengeluarkan banyak chakra demi memproduksi energy yang baik untuk Prameswari. Kharon
masih belum sadar jika ia tak bisa berlama-lama di Cato. Kekuatannya yang
tinggi membuatnya masih tetap bertahan dengan atmosfir Cato yang tak selaras
dengan unsur yang ada di tubuhnya. Ketidakselarasan antara atmosfir di Cato dan energy di tubuhnya sebenarnya memicu hawa negative berupa kemarahan dan emosi yang tak stabil.
“Nah, itu tubuhmu. Silakan kau
masuk!”
“Bagaimana caranya?”
“Ya, tinggal masuk saja.”
“Hei, aku tahu Kau cemburu karena aku lebih perhatian kepada Dante. Tapi bukan berarti kau lantas bisa bersikap
ketus begitu kepadaku!”
“Siapa bilang aku cemburu? Kau
terlalu percaya diri!”
“Aku tahu. Kau saja yang malu
mengakuinya. Cepat katakan bagaimana caranya biar aku bisa masuk ke tubuhku
sendiri?”
“Baiklah… Baiklah… Begini cara manualnya. Kecup keningmu dan tiup ubun-ubunmu tiga kali.
Lalu katakana, aku ingin pulang. Begitu.”
“Nah, gitu dong dari tadi!”
“Kukira hal remeh temeh begini Kau sudah tahu. Lagipula bagi yang sudah berilmu tinggi, mereka bisa keluar masuk jasad mereka dengan sangat gampang.”
“Sudah berapa kali kukatakan bahwa aku tak tahu apa-apa!”
“Harusnya bocah tujuh purnama tak begini. Dengan banyaknya mitos yang beredar tentang kehebatan bocah tujuh
purnama, aku kaget melihat kemampuanmu.”
“Kau mau memancing emosiku???”
“Tidak. Aku hanya berkata jujur!”
“Tidak. Kau sengaja membuatku kesal!”
“Untuk apa aku harus membuatmu kesal?”
“Karena Kau marah Kau tak
kuperhatikan di danau tadi!”
“Untuk apa aku harus marah untuk hal sepele seperti itu!”
“Tapi Kau marah! Dan itu bukan
salahku!”
“Baiklah terserah Kau saja!”
***
Kharon berubah wujud menjadi kupu-kupu
dan terbang ke luar lewat jendela rumah sakit. Prameswari yang masih dongkol
lantas mempraktekkan cara agar ia bisa masuk kembali ke jasadnya. Begitu ia
meniup ubun-ubunnya tiga kali, ia tersedot masuk dan ia pun terbatuk-batuk karena
Hatinya masih sangat dongkol, mendapati
Kharon yang berubah menjadi pria yang ketus dan cemberut. Yang tidak diketahui
Prameswari, hal tersebut juga disebabkan oleh atmosfir Cato yang tak selaras
dengan energy siluman semacam Kharon. Kharon sendiri juga kebingungan dengan
dirinya. Mengapa hal sepele semacam melihat orang yang disukainya lebih
memerhatikan orang lain membuatnya begitu dongkol dan emosi. Biasanya kondisi
mentalnya tak seburuk itu.
***
“Kharon. Kemarilah. Ada yang ingin
kutanyakan.”
Tiba-tiba
Prameswari yang terbaring di ranjang rumah sakit merasakan bahwa Kharon bisa
mendengar suaranya.
“Hei, Kau lumayan juga. Kukira Kau
tak bisa apa-apa.” Kharon menjawab panggilan Prameswari dari tempat yang tak
diketahui Prameswari.
“Ya, aku mencoba saja. Kalau sejak
di Bumi aku bisa bercakap-cakap seperti ini mungkin Ponselku sudah kubuang. Hehe…”
“Ini namanya telepati. Tapi
sebenarnya hanya orang-orang dengan kedekatan batin tertentu yang bisa melakukan
komunikasi. Apa itu artinya kau mengaitkan batinmu padaku?”
“Tidak juga. Mungkin karena aku ini
hebat jadi bisa melakukannya. Itu saja. Oh ya, kelihatannya Kau sudah tak
marah.”
“Ya. Kurasa begitu. Ternyata kemarahanku
dipicu oleh atmosfir alam ini. Ada partikel-partikel yang mengganggu energyku
dan membuat mentalku tidak stabil.”
“Jadi bukan karena cemburu ya?”
“Sepertinya bukan. Sudah kukatakan
bahwa hal remeh temen macam itu tak layak menjadi penyebab kemarahanku. Kau
kira aku ini siluman kelas apa?”
“Wah… Sepertinya aku memang terlalu
percaya diri.”
“Ya… Kurasa memang demikian. Oh ya, aku
harus segera kembali ke alamku. Dan sepertinya kau harus ikut.”
“Tidak! Kau bisa pulang sendiri. Aku
akan berada di sini saja. Eh sebentar, ada Dokter Musa. Sepertinya dia akan
memberiku obat.”
Kharon merasakan hawa jahat. Itu bukan
Dokter dari Negeri Cato. Dengan kecepatan cahaya, Kharon melejit menuju
keberadaan Prameswari dan menampakkan diri sebagai siluman harimau putih. Ia
menerkam Dokter Musa. Prameswari menjerit dan menghardik Kharon.
*********
Episode-episode
ini dibuat dengan agak ngawur dan kemungkikan besar akan segera saya revisi
besok. Terpaksa saya up demi memenuhi persyaratan keikutsertaan kontes
Noveltoon yang mewajibkan batas minimal Novel adalah 20 ribu kata. Sementara sampai
saat ini masih belum mencapai. Maka sepertinya chapter-chapter setelah ini aka
nada versi revisinya. Mohon map dan terima kasih…