After Death

After Death
Bab 164: Kebenaran yang Mengejutkan



Kharon menduga bahwa hilangnya Dante dari data kependudukan Anastasia Cato adalah ulah dari anak buah Bemius. Tapi ia tak memiliki bukti untuk menjelaskannya.


"Tunggu ayah, rasanya tidak mungkin jika raja dari negeri Shaman datang jauh jauh ke sini hanya untuk suatu kebohongan. Bisa saja data petugas kematian itu menghilang, bahkan seperti yang telah aku laporkan dulu, banyak terjadi perubahan data saldo rekening pahala para penduduk secara tiba tiba. Aku khawatir ini adalah bagian dari saboltase yang dilakukan seseorang di kota kita, ayah." kata Lucy membuat rombongan dari Shaman sedikit lega


"Maksudmu?" kepala distrik mengernyitkan dahi.


"Biar aku selidiki terlebih dahulu kasus ini ayah. Dan selama masa penyelidikan, Prameswari tidak boleh menerima hukuman apapun." tegas Lucy.


"Cobalah untuk mengecek di Kantor Registrasi Pascakematian. Aku sudah beberapa kali datang ke sana untuk bertemu Dante. Kalian bisa menanyakan kepada para pegawai apakah mereka mengenal Dante atau tidak." usul Kharon membuat Lucy dan Kepala Distrik mengangguk setuju.


Maka, tidak perlu waktu lama bagi Lucy untuk sampai di tempat Dante dulu bekerja. Ia pergi bersama Kharon, sedangkan Philemon juga Raja Ramadhana tetap diminta menunggu di kantor kepala distrik sebagai jaminan bahwa mereka tidak memiliki niat buruk terhadap kota Cato.


Saat sampai di kantor registrasi pasca kematian, baik Kharon maupun Lucy sekilas tidak melihat adanya hal aneh atau mencurigakan. Para pegawai sibuk dengan tugas mereka masing masing.


"Ibu Lucy." kata beberapa pegawai yang melihat Lucy memasuki kantor registrasi pasca kematian.


"Apa di sini ada pegawai yang bernama Dante?" tanya Lucy tanpa basa basi.


"Dante? Ada, Bu. Tapi dia sudah lama tidak masuk kantor. Katanya sedang cuti." jawab seorang pegawai membuat Lucy menoleh ke arah Kharon.


"Untuk apa dia cuti?" tanya Lucy lagi.


"Entahlah Bu. Dia mengatakan bahwa dia akan pergi jalan jalan. Tapi kami heran dari mana dia mendapatkan uang, sebab keuangannya sedang sangat terganggu hingga dia harus lembur untuk memenuhi kebutuhannya. Lalu secara tiba tiba dia mengambil cuti dan sampai sekarang belum kembali." kata pegawai yang lain menjelaskan.


Kharon lantas menyebutkan ciri ciri fisik Dante untuk memastikan bahwa Dante yang dimaksud oleh para pegawai itu adalah orang yang sama dengan yang dimaksud Kharon. Dan ternyata para pegawai itu mengangguk setuju atas semua yang disebutkan Kharon.


Lucy meninggalkan kantor itu dengan rasa bingung yang semakin besar. Ia tidak mengerti bagaimana bisa nama dan deskripsi soal Dante bisa hilang dari database kependudukan Cato.


"Kau tidak perlu bingung. Ini semua adalah ulah Bemius." ucap Kharon mencoba memberi jawaban atas pertanyaan yang ada di pikiran Lucy.


"Siapa itu Bemius?" tanya Lucy sambil mengernyitkan dahi.


"Dia raja dari jin dan siluman hitam yang mengincar Pram, seperti yang telah diceritakan Raja Ramadhana. Yang tidak lain adalah kakak dari tuan Philemon, putra pertama Raja Ramadhana sendiri." kata Kharon membuat Lucy membuka mulutnya karena saking terkejutnya.


"Jangan terkejut dulu. Kau akan sangat kaget bila tahu kondisi Shaman saat ini. Di sana sudah diambil alih oleh Bemius dan hanya menyisakan kesedihan serta penderitaan yang tidak berkesudahan. Dan...." Kharon ragu ragu untuk menuntaskan kalimatnya.


"Dan aku khawatir jika Bemius juga bermaksud untuk menguasai Anastasia. Dimulai dari tempat tinggal Pram, yakni Cato." kata Kharon serius sambil menatap tajam ke arah Lucy.


"Tidak mungkin." kata Lucy lirih sambil menggeleng. Ia berkata demikian bukan karena tidak percaya atas ucapan Kharon, melainkan tidak menginginkan hal itu terjadi.


"Apa kau kira data Dante bisa hilang begitu saja? Juga perubahan yang signifikan jumlah saldo rekening beberapa penduduk? Apa itu hanya kebetulan, atau karena sistem rusak? Jika memang kebetulan, mengapa kejadiannya begitu pas dan beruntun? Jika memang sistem yang rusak, pertanyaannya siapa yang merusak? Kalau memang rusak sendiri, pastinya tidak hanya data orang tertentu yang berubah dan atau hilang." kata Kharon panjang lebar membuat Lucy semakin gelisah dan takut.


Sebenarnya Kharon sama sekali tidak bermaksud untuk menakut-nakuti Lucy. Ia hanya ingin membuat Lucy sadar akan kejahatan Bemius dan para pengikutnya yang sangat berbahaya bagi kota bahkan negerinya, sehingga segera melakukan tindakan penanggulangan sebelum semuanya terlambat dan Cato menjadi seperti kerajaan Shaman.


"Jika kau masih belum percaya, coba sekarang pergi ke bank pusat untuk mengecek data saldo rekening pahala penduduk. Dan lihatlah besaran saldo yang masuk ke dalam rekening pahala milik Ketua Peradilan perempuan yang berkaca mata dan tegas."


"Nyonya Rui Paloh?" tanya Lucy.


"Aku tidak tahu namanya. Yang jelas suaranya lantang, berkaca mata, rambutnya bergelombang, dan warna kulitnya agak gelap." ucap Kharon menyebutkan ciri ciri Ketua Peradilan yang menjatuhi hukuman mati kepada Pram.


"Ya, itu Nyonya Rui Paloh. Hanya ada satu ketua peradilan yang berjenis kelamin perempuan." kata Lucy menjelaskan.


"Ya, tunggu apa lagi. Ayo segera kita meluncur. Aku yakin kau akan terkejut jika melihat saldo yang masuk ke rekeningnya, pasti sangat besar, sebab ia baru saja menyelesaikan perjanjiannya dengan Bemius."


Lucy pun menuruti perkataan Kharon. Ia bergegas pergi bank pusat untuk memeriksa data saldo rekening milik nyonya Rui Paloh sebagai dewan pengawas kota. Dengan tergesa gesa Lucy meminta seorang admin bank untuk melakukannya. Dan benar, tebakan Kharon sama sekali tidak meleset. Saldo nyonya Rui Paloh bertambah sangat banyak di hari itu.


"Terima kasih." ucap Lucy pada pegawai bank. Lantas pergi meninggalkan bank untuk kembali ke kantor ayahnya.


Di dalam mobil Lucy tampak masih sangat terkejut atas temuannya. Pandangannya menerawang jauh dengan pikiran yang sangat kusut. Kharon tak berani mengusik Lucy. Ia hanya diam membiarkan Lucy memikirkan dan merenungi fakta fakta yang telah ia temui hari ini.


"Bagaimana kau tahu jika nyonya Rui Paloh melakukan perjanjian dengan Bemius?" tanya Lucy setelah cukup lama keheningan menyelimuti mobil.


"Em soal itu, aku menyaksikan sendiri bagaimana nyonya Rui Paloh memimpin jalannya peradilan pada kasus sebelum Prameswari, dan itu sungguh adil dan bijak. Namun, saat peradilan Pram, ia sama sekali tidak bersikap adil. Pram menerima hukuman bahkan tanpa diberi kesempatan untuk melakukan pembelaan terlebih dahulu. Itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi bukti." kata Kharon menjelaskan.


Lucy kembali diam. Sebenarnya ia sedikit bingung tentang bagaimana ia akan menjelaskan semuanya kepada kepala distrik, ayahnya. Sebagai kepala pengawas Cato Lucy merasa telah gagal karena tidak bisa mendeteksi ketidakberesan di Cato sebagai upaya penjajahan. Ya, Lucy merasa sangat menyesal karena telah lalai dan membuat kotanya terjajah, meski belum menyeluruh.


"Kau tahu Lucy, Dante meninggal tepat di depan kami, di semak bambu kuning dekat taman kota, tepat sesaat setelah kami berteleportasi dari Bumi. Ia meninggal seperti seorang yang tercekik dengan kondisi mayat yang mengerikan. Dante meninggal karena mengingkari perjanjiannya dengan Bemius. Dia tidak bisa lagi hidup dan muncul di loket registrasi pasca kematian. Sebab seseorang yang meninggal dalam keadaan terikat janji dengan Bemius, rohnya akan terkurung di penjara Bemius di Anathemus dan menjadi budak pekerja di sana."


Penjelasan Kharon kembali mengejutkan Lucy dan membuat perempuan itu terdiam.