
Dari jauh Raja Ramadhana tampak sebagai pria yang sangat menyedihkan. Ia masih begitu menderita di usianya yang sudah terbilang tua. Meskipun wajahnya tetap terlihat muda dengan yubuh yang masih gagah, tampak seperti kakak bagi Philemon, tapi tetap saja ia adalah seorang pria tua.
Apa yang lebih menyedihkan ketimbang menjadi pria tua yang duduk sendirian di malam buta tanpa kekasih, dan ditemani sepi, dengan rasa gagal sebagai apapun. Gagal sebagai seorang raja, ayah yang gagal, suami gagal, paman yang gagal, dan bahkan gagal juga sebagai seorang pria. Seorang pria tidak layak disebut pria jika terbesit dalam pikirannya untuk bunuh diri, berharap akan mengakhiri segala penderitaan, kata sang raja dalam batin.
"Ayah, apa yang ayah lakukan di sini?" suara Philemon mengagetkan Raja Ramadhana.
Sang raja yang memegangi syalnya langsung refleks menginjak tetesan darah di lantai yang berwarna putih. Namun, karena tetesan darah itu terlalu banyak, tetap saja tidak bisa tertutupi seluruhnya.
"Ayah, apa yang ayah injak itu? Apa itu darah? Dan syal ayah? Mengapa ayah memakainya di tangan?" Philemon panik melihat ada banyak tetesan darah di bawah kaki ayahnya.
"Eem, ini...ini...ini cuma..." Raja Ramadhana memegangi syalnya.
"Biar aku lihat tangan ayah." kata Philemon sambil memegang tangan ayahnya yang terbungkus syal.
Raja Ramadhana tak mampu berkutik. Ia pasrah saja saat Philemon membuka syal yang meliliti tangannya. Dan wajah cemas Philemon semakin kentara ketika mendapati tangan ayahnya berdarah. Tanpa bertanya atau berkata apapun, Philemon lari ke dalam rumah dan dengan cepat keluar lagi dengan membawa kotak obat. Terlihat air mata mengalir di pipi Philemon yang keluar tanpa isakan.
Philemon membersihkan tangan ayahnya dengan perlahan. Meski begitu, sang raja tetap meringis kesakitan sebab luka itu memang cukup dalam. Lantas memberikan semacam obat oles lalu membebatnya dengan perban. Ia kemudian juga membersihkan darah ayahnya yang telah berjatuhan di lantai. Philemon melakukan semuanya tanpa berkata sesuatu apapun.
"Mari ayah, kita masuk ke dalam. Hari masih terlalu gelap untuk bangun. Ayah harus beristirahat dulu." kata Philemon dengan senyum. Philemon memang sedang berusaha keras untuk menguasai dirinya sendiri agat tak terlihat cemas ataupun sedihbdi depan ayahnya.
Raja Ramadhana pun menuruti apa kata putranya untuk masuk ke rumah saja. Philemon memandu ayahnya untuk merebahkan diri di atas tempat tidur. Ia kemudian juga menyelimuti ayahnya.
"Phil, maafkan ayah karena telah bertidak bodoh. Ayah sangat..." kata sang raja lirih dengan penuh sesal.
"Tsuuut. Sudah ayah. Tidak perlu lagi mengatakan apapun. Aku mengerti semuanya. Sekarang ayah lekaslah tidur. Aku akan duduk di sini menemani ayah hingga ayah tidur." sahut Philemon memotong dialog ayahnya masih dengan senyum lebar.
Jantung Philemon sebenarnya serasa hendak copot ketika melihat ayahnya yang sempat berusaha untuk bunuh diri. Namun, ia tidak ingin ayahnya semakin sedih atas semua tanda tanya yang ia ajukan. Maka, Philemon memilih untuk bersikap tenang dan hanya diam. Semua yang terjadi memang begitu melelahkan hingga terkadang muncul rasa tidak sanggup lagi. Ia sungguh mengerti perasaan ayahnya.
Philemon mengelus punggung tangan ayahnya yang terluka perlahan-lahan sambil mengalirkan energi positif dari dalam tubuhnya agar luka ayahnya lekas mengering. Ia duduk manis di samping kanan ayahnya tanpa menggeser sedikit pun senyum dari wajahnya. Philemon belajar menahan semua rasa sedih dari Pram.
***
Kharon pagi ini hanya memasak telur dadar dan sambal terasi untuk dirinya sendiri. Ia memakan hidangan yang ia siapkan sendiri dengan sangat lahap. Juga ketika menyantap lalapan terong mentah. Kharon memamahnya tanpa ampun.
Entah apa yang merasuki lelaki itu. Bangun tidur langsung mandi dan berpakaian rapi sekali. Ia juga tidak lupa memakai parfum yang aromanya sungguh mampu mengusir apek dari seisi rumah, sangat wangi.
Bahkan Pram hampir bangun ketika khodam sekaligus kekasihnya itu menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya. Namun, ia kembali terlelap setelah melakukan gerakan peralihan posisi tidur, dari miring ke kiri menjadi miring ke kanan.
Tidak hanya menjadikan dirinya super bersih, rapi, dan wangi, Kharon juga telah melakukan pembersihan rumah sebelumnya. Ia juga merasa perlu untuk mengganti sprei, mengganti gorden, mengganti bunga dan air dalam vas, serta lain sebagainya. Ia membaui satu per satu bunga mawar biru sebelum memasukkannya ke dalam botol.
Kharon memang sengaja melakukan semua. Ia ingin Pram bangun menjadi pribadi yang berbeda dari dirinya yang kemarin. Kharon ingin Pram menjadi lebih ceria dan bersemangat.
"Ron!" teriak Pram dari atas tempat tidurnya, seperti seorang bayi yang merengek mencari ibunya ketika bangun dari tidurnya.
"Ya. Kau sudah bangun." sahut Kharon sambil berjalan mendekat ke arah Pram.
Pram belum sempat berkata apapun lagi. Tapi ia tercenung sebab khodamnya itu tiba tiba langsung memeluknya erat. Juga mengelus rambutnya.
"Apa kau baik baik saja, Ron?" tanya Pram terkejut. Biasanya pagi hari di rumah itu tidak akan terlewat tanpa ocehan Kharon soal ini dan itu. Sedangkan Pram, ia biasanya akan menimpali ocehan Kharon dengan ocehan yang keluar dengan nada yang tak kalah tinggi untuk membela diri.
"Makanlah, Pram. Aku tadi memasak sop buntut hanya untukmu. Kalau aku, aku sudah makan duluan tadi, tak tahan lagi karena kelaparan." kata Kharon sambil menggendong Pram menuju meja makan.
Kharon membuat Pram telah duduk di atas kursi kayu putih di tempat makan. Pram langsung tergoda dengan apa yang ada di hadapannya ketika Kharon membuka tudung saji. Satu mangkuk sop buntut dengan aroma yang sangat sedap dan tampilan yang menggugah selera. Pram pun bersiap untuk makan.
"Tok....tok...tok...." suara seseorang mengetuk pintu rumah Pram dan Kharon.
"Kau lanjutkan saja makannya, aku akan melihatnya." Kharon berjalan menuju pintu dan meninggalkan Pram yang terlihat lahap menyantap masakan Kharon.
Ketika Kharon membuka pintu, tampak Philemon di hadapannya yang berdiri dengan wajah yang sangat gusar. Kharon mempersilakan Philemon untuk masuk dan berdialog di dalam, namun lelaki itu menolak dan lebih memilih untuk duduk di teras saja.
"Kharon, aku atas nama keluargaku, terutama atas nama Bemius, memohon maaf atas semua perlakuan buruk yang telah terjadi." Philemon tertunduk sedih memandangi kedua pahanya.
"Sudahlah tuan. Semua yang terjadi ini di luar kendali dan keinginan tuan. Aku mengerti. Justru aku yang minta maaf sebab Pram sempat ingin menyerang paduka raja semalam. Percayalah tuan bahwa Pram sedang dalam pengaruh roh dewi pencabut nyawa. Dia tidak sungguh sungguh ingin menyerang Raja Ramadhana. Tuan Philemon tentu sudah tahu bahwa Pram bahkan telah menganggap paduka sebagai ayahnya sendiri." kata Kharon membela kekasihnya.
"Tidak apa, Ron. Apa yang dilakukan Pram itu sungguh sangat wajar. Sekarang ada masalah yang sedikit rumit yang ingin aku ceritakan padamu, Ron. Jujur saja aku sangay bingung." ucap Philemon dengan nada dan mimik muka yang sangat serius.
Kharon tak berkata apapun. Namun raut wajahnya juga turut serius mendengar perkataan Philemon. Kini ia sedang menunggu putra kedua raja Shaman itu untuk bercerita.
"Semalam ayah mencoba bunuh diri. Ia bahkan sudah sempat melukai pergelangan tangannya hingga mengeluarkan cukup banyak darah. Untunglah urat nadinya tidak terputus. Aku tak tahu pasti kapan peristiwa itu terjadi. Ketika itu aku sedang berbaring di atas tempat tidur dan ayah berada di teras rumah. Syukurlah ayah telah menyadari perbuatannya itu sebagai suatu kesalahan saat kejadian itu berlangsung, sehingga ia langsung menghentikan semuanya dan melilitkan syal milik ibuku ke tangannya yang terluka." cerita Philemon dengan wajah panik. Ia menghentikan ceritanya untuk mengatur sebentar nafasnya yang tersengal.
Kharon pun turut mengambil nafas panjang. Apa yang ia dengar sebenarnya adalah hal yang mendekati mustahil. Ia tahu benar bahwa Raja Ramadhana adalah seorang yang tangguh dan luas pikirnya. Rasa rasanya tidak mungkin jika lelaki sebijak itu menjadi pendek akal hingga memilih bunuh diri sebagai jalan keluar satu satunya.
"Ayah mungkin diliputi rasa bersalah yang sangat besar kepada Pram. Ia juga meminta maaf padaku karena menganggap dirinya telah gagal sebagai seorang ayah. Dan dari semua cerita ayah, aku menyimpulkan bahqa ayah sedang dalam keadaan menyalahkan dirinya sendiri. Aku khawatir ayah akan mengulangi perbuatannya. Namun hal yang paling aku khawatirkan adalah jika ayah meminta Pram untuk menerawang kerajaan Shaman. Aku yakin ketika ayah mengetahui semua dengan melihat langsung apa yang terjadi, pasti ia akan memintaku mengantarnya kembali ke istana." Philemon kembali meneruskan ceritanya.
"Siapa yang datang, Ron? Mengapa kau, tak...menyilakannya...un..tuk masuk saja?" tanya Pram yang tiba tiba menyembul dari balik pintu dengan tempo yang melambat.
Gadis itu terkejut mendapati Philemon duduk manis di samping Kharon dan tersenyum padanya.
"Phil, apa yang kau lakukan di sini? Mengapa tak masuk dan ngobrol saja di dalam? Lalu, dimana paman Ramadhana?" Pram memulai lagi kebiasaan lamanya, memberondongi lawan bicaranya dengan banyak pertanyaan yang tentu saja disampaikan tanpa jeda. Gadis itu juga celingukan mencari sang raja yang tak terlihat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,
Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:
1. Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.
2. After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.
3. Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.
4. Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.
5. Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)
Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^