
Kharon adalah penghuni asli negeri
Shaman, indra penciumannya tajam dan instingnya kuat. Sebagai siluman yang
sudah berhasil melakukan pertapaan ratusan tahun dan menguasai banyak ilmu-ilmu ghaib, dia bisa merasakan getaran-getaran ilmu sejenis. Ada sebuah getaran ilmu ghaib yang berseliweran di area tubuh Dante, tapi sangat samar. Jika Kharon tak memusatkan pikiran secara penuh, getaran energy ghaib itu tak nampak, tapi jika Kharon mulai memusatkan pikiran, ia merasakan ada aura ilmu Ghaib dari golongan
jin hitam yang berseliweran.
Asumsi pertamanya adalah, ada jin
hitam yang memasang pusaka khusus di tubuh Dante, asumsi kedua, kemungkinan
juga Dante sedang terkena ilmu ilusi hitam di mana semua tingkah lakunya sedang
dikendalikan oleh jin hitam lain. Kemungkinan terakhir, Dante sedang dirasuki. Tapi jika ada yang merasuki Dante, bukankah Kharon akan dengan sangat mudah melihat makhluk atau jin apa yang merasukinya, kecuali jin atau makhluk yang merasuki Dante merupakan makhluk dengan kekuatan yang maha tinggi yang bisa menyamarkan kehadirannya di setiap kesempatan.
Kharon tak begitu yakin dengan asumsi-asumsinya, yang jelas ia benar-benar merasakan kehadiran hawa jahat yang menggelayuti tubuh Dante. Itulah mengapa ia tak begitu menyukai Dante. Kharon memaksa Dante untuk bersedia menggelayut di ekornya selama mereka melakukan perjalanan panjang sementara baik Dante maupun Pram, mereka menolak pernyataan Kharon.
“Dante tak pernah memiliki masalah denganmu, mengapa Kau selalu menjahatinya?” Pram mendengus kesal kepada Kharon.
“Bukan apa-apa, aku hanya risi jika tubuhku ditunggangi pria.”
“Baiklah aku bersedia.” Dengan
pasrah Dante menerima tawaran Kharon untuk menumpang di ekornya. Kharon
mengubah wujudnya menjadi Harimau Putih raksasa sebesar 10 meter panjangnya, ia melingkarkan ekornya dan memberi sebuah ruang agar Dante bisa duduk nyaman di sana. Tak lupa, Kharon telah memberi beberapa mantera pelindung di area ekornya agar beberapa hal penting yang akan disampaikan Kharon kepada Pram tidak akan terdengar oleh Dante. Kharon juga memantrai Dante agar segera tertidur lelap dalam waktu
yang cuku lama.
Setelah semua penumpang siap, Kharon berlari dengan kecepatan cahaya menuju ke pulau terdekat untuk singgah mencari makan dan menyusun rencana. Seperti saat seseorang naik pesawat, kecepatan lari Kharon terasa pelan dan stabil, ketika melihat sekeliling, Pram pusing karena pandangannya menunjukkan bahwa ia sedang melesat dengan begitu cepat. Tapi, jika ia melihat bulu-bulu halus Kharon, ia merasa seperti sedang terbang dengan lamban dan nyaman.
“Pram, aku mendapat pesan dari
kawananku yang menjaga pesisir negeri Shaman. Mereka mengabarkan bahwa negeri Shaman sedang mengalami kekisruhan selama beberapa minggu ini. Kabarnya, pengikut Bemius sekarang tak lagi sungkan membuat onar di pemukiman jin putih. Kabarnya lagi banyak dari Jin Putih yang menjadi korban penculikan anggota Bemius, korban-korban itu dijadikan kelinci percobaan di laboratorium Bemius.”
“Bukankah katamu dulu Shaman
memiliki raja yang sangat kuat dan ditakuti siapa saja di negeri Shaman?”
“Ya, Kau benar. Raja kami yang
bijaksana telah berusia entah berapa ribu tahun. Dia tak terkalahkan tapi sebuah insiden kecil membuat nyawanya terancam.”
“Insiden?”
“Ya, beberapa waktu lalu dikabarkan Raja Ramandha, raja kami, sedang berjalan-jalan di pesisir pantai selatan untuk melihat laut. Para pengawal merasa taka da yang aneh dengan laut selatan, tapi Raja kami berfirasat ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan benar saja, dia diserang oleh beberapa makhluk buas dari dalam laut, mereka bukan makhluk Bumi, bukan juga Makhluk Shaman. Desas-desus mengatakan bahwa kemungkinan mereka adalah makhluk
ciptaan Laboratorium Bemius yang sengaja dilepaskan di sepanjang pesisir Pantai
Selatan Shaman, sebab di sana merupakan gerbang utama menuju pemukiman para Jin Putih.”
“Lalu, Rajamu terluka oleh serangan makhluk-makhluk itu?”
“Bisa dibilang begitu, bisa dibilang
tidak. Raja kami sangat kuat dan berilmu tinggi. Hanya saja saat bertempur melawan binatang buas tersebut, ada salah satu binatang yang menyemprotkan bisanya dan mengenai tangan Raja Ramandha, Raja kami tidak merasa terluka tapi
ujung bumi. Jarak tersebut tak bisa ditempuh dengan cara teleportasi.”
“Kalau memang Raja tak merasa sakit, mengapa harus repot-repot melakukan penelitian? Bukankah ketenteraman warganya seharusnya lebih diprioritaskan?”
“Selama hidupnya, Raja kami hampir tak pernah bisa dilukai oleh sihir atau kekuatan ghaib atau pusaka apa pun! Itu yang membuat negeri Shaman selalu tenteram karena jin hitam tak ada yang bisa
menandingi kekuatan raja kami. Sayangnya hal tersebut juga menjadi petaka, generasi-generasi baru jin putih hampir 80% tidak memiliki kekuatan ghaib karena mereka taka da yang berlatih. Tak seperti sebelum kepemimpinan Raja Ramandha, para Jin Putih sangat aktif melatih kekuatan mereka untuk berjaga-jaga dari serangan jin hitam. Setidaknya, 200an tahun ini kami sudah kehilangan banyak dari anggota-anggota jin putih yang berkekuatan tinggi. Digantikan dengan generasi baru, yang tak kenal ilmu-ilmu ghaib, yang mereka semua lebih berfokus pada kehidupan sehari-hari seperti berdagang, bercocok tanam, sekolah, dan menjalani hari-hari dengan penuh ketenangan. Karena mereka semua telah merasa aman dengan dilindungi oleh Raja Ramandha. Sebaliknya, Bemius beserta pengikutnya, mereka berlatih setiap hari, melakukan penelitian-penelitian, memburu banyak siluman, dan terus mengembangkan kekuatan mereka demi cita-cita menggulingkan Raja Ramandha.”
“Jadi karena Raja Ramandha adalah satu-satunya jin yang memiliki kekuatan sehingga keselamatan beliau lebih diperhitungkan, begitu?”
“Ya, jika terjadi hal-hal yang tak
diinginkan pada Raja Kami, mayoritas jin putih bisa lenyap dengan segera. Jin-Jin
hebat dari golongan jin putih hanya bisa dihitung dengan jari, dan mereka
disebar di berbagai wilayah untuk melindungi rakyat biasa.”
“Lalu, apa yang bisa kita perbuat?”
“Belum ada. Setidaknya, Kau belum siap menghadapi semuanya. Kau membutuhkan guru. Dan saat ini keberadaan sesepuh yang bisa dijadikan guru sangatlah langka.”
“Bukankah usiamu juga sudah sangat tua? Kau juga berilmu tinggi, mengapa tak Kau saja yang menjadi guruku?”
“Aku? Tua? Hei, di negeriku usiaku masih bisa dikatakan usia dewasa muda kalau di negerimu! Lagipula aku tak tahu bagaimana cara mengajar yang baik.” Kharon terbiasa menjadi pengikut atau budak dari Jin yang berilmu tinggi, meski pun ilmu Kharon juga cukup tinggi, ia lebih sering merasa minder dan rendah diri.
“Aku akan memaksamu!” Prameswari menekankan kata-katanya dan kemudian menguap lalu tertidur. Kharon berlari seperti seorang driver yang ditinggal tidur para penumpangnya. Ia tak mengatakan pada Prameswari bahwa sedari tadi saat mereka mengobrol sebenarnya ada beberapa serangan yang menghampiri mereka. Beberapa siluman dan Jin Hitam rendahan yang tak tahu malu sedang mencoba menculik Prameswari yang duduk santai di punggung Kharon.
Kharon hanya mengeluarkan sedikit trik ilusi dengan melepas beberapa bulunya
dan membuat bulu itu seolah menjadi tombak yang menyerang para pengganggu.
Ada beberapa keahlian ilmu yang
dikuasai Kharon yaitu ilmu ilusi yang bisa membuat lawannya berhalusinasi
sesuai dengan kehendaknya. Ilmu mantera yaitu ilmu yang memfokuskan energy
kepada ucapan-ucapan yang dapat memberi efek nyata bagi penerimanya. Ilmu mantera membutuhkan konsentrasi penuh dan hanya jin berilmu tinggi yang bisa memantrai lawannya dengan hanya lewat mantera batin. Jin-jin amatir harus melafalkan mantera selagi melakukan beberapa gerakan untuk membuat sebuah serangan mantera, tapi Kharon telah menguasai ilmu mantera sepenuhnya sehingga ia bisa melafalkan manteranya hanya dengan membatin. Ilmu Pancasona yaitu ilmu bertahan, ilmu ini merupakan ilmu melindungi diri sendiri dari segala serangan
musuh. Ilmu kekelan energy yaitu ilmu dasar semua makhluk Shaman, ilmu ini
sangat luas dan masih menjadi misteri tentang seberaba banyak jenis dan penggunaannya. Ilmu kekekalan energy adalah kemampuan Jin mengubah suatu energy ke bentuk energy lain yang bisa dipakai untuk menyerang, bertahan, lari, bersembunyi, atau melakukan teleportasi.
Sebagai Khodam dari beberapa Jin
berilmu tinggi, Kharon telah memiliki banyak pengalaman dan mampu menguasai berbagai ilmu ghaib. Kekuatannya bisa dibilang menyaingi para petinggi-petinggi Jin Putih yang tersisa, hanya saja karena ia terlahir sebagai siluman dalam wujud binatang, ia kerap dipandang sebelah mata.
“Tuan Puteri, Bangun… Kita sudah
sampai di sebuah Pulau tak berpenghuni. Saat ini kita sedang di Bumi, jadi silakan cari makanan sebanyak yang Kau bisa untuk bekal kita seminggu ke depan.
Oh ya, sepertinya Dante masih akan tidur selama satu hari lagi.”