
Sementara itu di tempat lain, seorang peri hutan menghampiri Dante dan meniupkan semacam serbuk kayu ke wajahnya, membuat Dante bersin dan terbangun.
Saat Dante membuka mata, ia dikejutkan oleh seorang peri hutan yang mengenakan baju merah dengan bola mata hitam keseluruhan. Dante terus menggeser pantatnya mundur karena peri itu terus meneteskan darah dari tubuhnya dan semakin mendekati Dante. Dante yang tak mampu lagi menjauh karena tubuhnya telah membentur garis perlindungan yang dibuat Kharon, akhirnya menjerit dengan sangat keras.
Kharon dan Pram mendengar jeritan itu. Eliztanu yang seperti tengah menahan sesuatu meminta mereka bergegas pergi meninggalkan hutan dan kembali ke Cato.
"Bulu sayapku ini akan membantu kalian berteleportasi. Maaf aku hanya memberimu tiga helai saja karena kekuatanku terletak pada bulu-buluku. Saat ini sedang ada upaya pendobrakan yang dilakukan para jin jahat untuk menembus pertahananku. Cepatlah bawa anak ini pergi. Dan kembalilah besok saat matahari di Cato mulai terbenam."
"Apa kau yakin aku harus meninggalkanmu dalam keadaan begini?" sejujurnya Kharon sangat ingin tinggal dan membantu Eliztanu menghalau jin-jin itu.
"Ayo pergi!" bentak Eliztanu.
Kharon berdiri dan berubah menjadi seekor harimau putih. Ia meminta Pram untuk naik ke punggungnya segera. Pram tidak tahu apa yang terjadi. Namun, goncangan di hutan terasa semakin besar dan kecemasan sungguh sangat tampak di wajah Kharon.
Saat tiba di tempat peristirahatan mereka, tampak Dante masih tertidur namun dengan posisi tangan melingkar di lutut.
Kharon membuka garis pelindungannya dan meminta Pram untuk membangunkan Dante. Namun, saat Pram memegang tangan Dante, terasa sangat panas. Demam yang dialami Dante di luar wajar bahkan hingga membuatnya pingsan. Pram lantas membopong Dante ke atas punggung Kharon.
Sesuatu berkecamuk di pikiran Kharon. Penyergapan ini seharusanya tak bisa terjadi di hutan Białowieża. Kharon mengingat-ingat apakah ia atau Pram atau Dante masih memiliki benda-benda mistik yang bisa membuat aroma mereka tercium oleh pasukan Bemius. Sepanjang ingatannya, tak ada satu benda mistis pun yang mereka bawa yang bisa berpotensi membuat lokasi mereka terlacak.
Belum usai Kharon memikirkan tentang bagaimana pasukan Bemius mampu menerjang hutan Białowieża, ia segera teringat kembali akan bola-bola api yang barusan ia lihat. Ia ingin kembali untuk memberi pertolongan pada peri hutan. Tetapi melihat ekspresi Eliztanu yang begitui serius, tentu Eliztanu bisa mengukur kekuatan musuh yang menyerang.
Jika Eliztanu mencemaskan keselanatan Pramsewari, tentu kekuatan yang datang pastilah mengerikan. Kharon bergidik sejenak. Dalam proses teleportasi pun, pikiran Kharon masih belum beranjak dari Hutan Białowieża. Ia sangat mencemaskan Eliztanu dan seluruh penghuni hutan lainnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Karena telah dikontrak oleh pihak Mangatoon/Noveltoon, penulis bertekat untuk merevisi novel ini agar menjadi karya yang lebih bagus dan berbobot.
Sementara ini chapter-chapter awal masih belum tersentuh revisi karena penulis masih fokus untuk menambah episode sebanyak mungkin. Setelah episode yang terupload sudah banyak, penulis akan rehat sebentar dan melakukan revisi di bagian-bagian awal cerita.
Satu lagi, penulis akan sangat berterima kasih jika kakak-kakak pembaca sekalian berkenan meninggalkan Like dan Komentar di setiap akhir chapter untuk menungkatkan performa novel ini.
Terima kasih sebelumnya....