After Death

After Death
Bab 148: Jago Putih Langka II



Kharon meminta tisu basah pada pohon logistik. Dan dalam sekejap benda yang ia minta itu segera menyembul di depannya.


"Paman, katakan padaku, apakah merah di sekitar mulutku ini adalah darah?" Pram mengulangi pertanyaannya.


"Kemarilah Pram, aku akan membantumu membersihkan noda itu." kata Kharon sambil membuka bungkus tisu basah.


"Kau diamlah dulu dan jangan banyak bicara agar lekas pulih. Paduka raja kan telah berjanji padamu akan menceritakan semuanya. Jadi kau tidak perlu menghabiskan tenaga untuk bertanya. Cukup diam dan mendengarkan saja. Mengerti?" kata Kharon sambil mengelap darah dari wajah Pram.


Pram pun mengangguk atas perkataan Kharon. Dan hal itu membuat sang raja sedikit lega. Setidaknya ia memiliki waktu untuk menyiapkan kata kata yang enak didengar dalam bercerita sehingga Pram tidak akan marah padanya karena telah membuat gadis itu memakan jago mentah.


Beberapa saat kemudian Pram telah bebas dari segala darah siluman jago putih. Ia kini tersenyum senang sebab bau anyir yang sedari tadi ia cium, sudah tidak ada lagi. Kharon memintanya untuk minum air suci lagi. Dan kini Pram tampak jauh lebih segar dan sudah tidak lemas lagi. Seluruh badannya yang tadi terasa remuk juga sudah lebih baik.


"Apa kau ingat, bahwa kau tadi memakan jago putih hidup hidup?" tanya Kharon memecah keheningan.


"Apa? Aku makan jago mentah? Tidak mungkin! Membayangkannya saja aku sudah jijik." kata Pram sambil menjulur-julurkan lidahnya beberapa kali.


"Tapi kenyataannya tadi kau sangat bernafsu menghabiskan jago putih itu tanpa sisa. Kau bahkan menjilati jemarimu yang dilumuri darah." kata Kharon dengan nada datar. Ia sebenarnya masih kesal pada Pram yang kekeh ingin menguasai jurus pemanggil roh dewi pencabut nyawa yang sangat berbahaya itu.


"Jadi Pram, hal yang membuatmu gagal menguasai jurus pemanggil roh dewi pencabut nyawa, selain karena cakra cakramu yang belum seimbang, adalah tidak adanya sesaji yang tersedia." sang raja mulai bercerita.


"Sesaji?" tanya Pram memastikan.


"Ya, sesaji. Dari hasil semedi yang aku lakukan, aku mendapat petunjuk bahwa orang yang ingin dirasuki roh dewi pencabut nyawa harus menyediakan sesaji langka pada prosesi pertama." kata Raja Ramadhana melanjutkan.


"Sesaji apa?" Pram mengernyitkan dahi mulai curiga.


"Sesaji apapun yang penting mengandung darah langka." kata sang raja ragu ragu.


"Apa? Darah? Jadi benar merah di wajahku itu adalah darah? Dan haaah jangan bilang kalau rasa aneh di lidahku juga darah!" Pram berkata dengan suara tingginya.


"Kalau kau sudah mulai bersuara tinggi, berarti sudah pulih. Aku kan tadi sudah mengatakan padamu kalau kau tadi memakan jago hidup hidup dengan begitu lahap. Apa kau lupa kalau aku tak bisa bohong?" Kharon mencoba meredam emosi Pram dengan menunjukkan kekesalannya.


"Lupakanlah Pram. Lagipula yang memakan tadi bukanlah dirimu tapi roh dewi pencabut nyawa. Dia hanya menggunakan fisikmu untuk memakan ayam itu." kata Raja Ramadhana mencoba menenangkan Pram.


"Itu artinya ayam siluman itu sekarang ada di perutku? Weeek...weeek...weeek.." Pram langsung merasa mual. Tapi walau mau bagaimana pun ia berusaha memuntahkan jago mentah yang telah ia telan, tetap saja tak bisa.


 


"Sudahlah. Lebih baik sekarang kau dengarkan hal istimewa apa saja yang bisa kau lakukan karena telah menguasai jurus itu." kata sang raja mengiming-imingi.


"Katakanlah semua paman. Agar aku merasa kalau semua hal menjijikan yang telah aku lakukan tidak sia sia." kata Pram masih dengan kesal.


"Woooow..." Pram terkesima dengan jurus yang baru saja ia kuasai. Sesaat kemudian ia mulai berhenti menyesal telah memakan ayam jago putih mentah.


"Dan ada hal istimewa lainnya. Kau dalam keadaan tanpa roh dewi pencabut nyawa seperti saat ini, bisa menerawang hal di luar penglihatanmu, bahkan berbeda dimensi sekalipun. Itu karena kesaktian mata tajam roh dewi pencabut nyawa telah tertanam pula di matamu." kali ini sang raja tersenyum sumringah.


"Apa maksudnya paman?" Pram masih tak mengerti.


"Itu berarti, kau bisa membuat semacam cermin atau layar besar dan kemudian menampilkan peristiwa di luar keadaanmu saat ini. Juga peristiwa di masa lalu yang menimpa orang lain. Misalnya, kau bisa menerawang apa yang telah terjadi pada saudaramu Ghozie. Dan terawanganmu itu akan tampak di layar besar hingga kami pun bisa ikut melihatnya." ucap sang raja sambil menggerak-gerakkan tangan memberi ilustrasi.


"Benarkah, paman?" tanya Pram bersemangat. Ia sungguh ingin mengetahui keadaan keluarganya sekarang.


"Tentu saja Pram." Raja Ramadhana mengangguk penuh keyakinan.


"Aku sangat ingin menguasai jurus itu. Tapi jurus itu hanya bisa dipelajari oleh perempuan." kata sang raja melanjutkan.


"Itu artinya aku bisa melihat ibuku pula di penjara roh?" kata Pram penuh harap.


"Bisa, hanya jika Bemius tidak memberikan tabir perlindungan di sana. Ya, penglihatanmu memiliki sedikit kelemahan Pram. Jika hal yang kau lihat itu diselubungi oleh tabir perlindungan, maka kau tidak akan bisa melihat apapun. Juga semua kelebihan kelebihan yang tadi telah aku sebutkan. Memiliki catatan dan pengecualian. Intinya bergantung pada siapa yang kau hadapi. Jika ia seorang yang berilmu tinggi ya tentu akan tetap sulit dikalahkan meski roh dewi pencabut nyawa ada bersamamu." sang raja menjelaskan panjang lebar.


Pram terdiam. Kemampuan untuk bisa melihat seseorang di tempat lain membuat ingatannya menjadi bercampur aduk. Ia mengingat ibunya, kakak perempuannya yang malang, kakak laki-lakinya yang menyedihkan, ayahnya, dan semua. Ia tiba tiba merasa ingin menangis. Ya, Pram memang selalu menangis ketika mengingat nasib keluarganya yang malang.


"Pram, apa kau baik baik saja?" tanya Philemon dengan wajah gusar. Ia juga menyodorkan tisu pada Pram. Tapi Pram bergeming dan tak memungut tisu dari tangan Philemon. Pikiran gadis itu sungguh kacau.


Kharon hanya diam dan tak berkata apapun. Ia tahu kalau Pram tengah memikirkan keluarganya. Maka, ia pun mengambil tisu yang disodorkan Philemon lantas menggunakannya untuk mengelap air mata Pram. Ia melakukan semua tanpa senyum dan tanpa melihat ke arah siapa pun, hanya fokus pada Pram saja. Kharon tak peduli pada tatapan Philemon juga Raja Ramadhana.


"Berhentilah menangis dan lihatlah apa yang ingin kau lihat." kata Kharon kemudian setelah semua orang hening beberapa saat.


Pram semakin terisak dan memeluk erat Kharon. Raja Ramadhana lantas mengelus rambut gadis itu, turut ingin menenangkannya. Sedangkan Philemon, ia tersenyum haru melihat kasih sayang Kharon pada Pram. Kharon selalu lebih banyak bertindak daripada berkata-kata. Membuat Philemon semakin mengaguminya. Siluman harimau putih itu memberi ketenangan dalam kediamannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo readers... Numpang promosi ya... Saya lagi rilis novel baru, genre Adult Romance (hehe lagi nantang diri sendiri buat nulis di genre ini, setelah sebelumnya nantangin diri buat nulis di genre Kependekaran).


Judul novel baru saya: Menikah Karena Taruhan (dari judulnya saja sudah klise ya hehe)


Ini novel mau saya ikutkan ke lomba You are Writer 3 dari Noveltoon. Pengennya After Death yg maju tapi After Death sudah kontrak, Pendekar Pedang Naga juga sudah kontrak, jadi musti bikin novel baru buat ikut lomba.


Mohon kakak2 kalau ga keberatan bisa mampir ya, buat sekadar naruh like atau komen hehe... Makasih sebelumnya....