
Pram bergegas menuju gubuk meninggalkan Dante yang tengah berbaring santai. Sebelum Pram sampai di gubuk itu, Kharon telah menyembul keluar dan berjalan menghampiri Pram.
Selama dalam masa penjernihan pikiran di dalam gubuk, Kharon mengingat sesuatu. Jika memang Dante datang membawa misi membahayakan dari Bemius, maka membiarkan Pram bersama lelaki itu sendiri bukanlah hal yang bijak. Itu sebabnya Kharon bergegas kembali ke pinggir pantai.
“Ron, maafkan aku. Aku sama sekali tidak tahu kalau Dante tiba-tiba akan datang dan langsung memelukku dengan erat. Aku minta maaf jika telah membuatmu sakit hati. Maafkan aku, Ron.” Pram berkata sambil menahan tangis.
Sedangkan Kharon nyengir mendengar ucapan Pram yang ternyata masih menganggapnya melakukan semua karena cemburu. Benaknya, gadis di hadapannya itu memang terlalu lugu dan tidak terbiasa menaruh curiga pada orang lain.
“Hei, gadis konyol. Apa yang kau katakan?” Kharon menghapus air mata Pram yang telah terjatuh di pipi.
“Aku, aku tidak ingin membuatmu sakit hati.” Pram yang tadi menunduk kini telah mengangkat kepalanya.
“Kau ini, harus berapa kali aku katakan padamu, berhentilah untuk berpikir receh, melakukan hal receh, juga berkata-kata receh.” Ia memeluk Pram untuk mendatangkan damai pada gadis itu.
“Sekarang mana petugas kematian yang suka mengejutkanku itu? Aku ingin ngobrol dengannya sebagai sesama lelaki.” Kharon tampak celingukan, dan segera berjalan menghampiri Dante.
“Ron, aku mohon jangan melakukan hal konyol yang bisa melukai orang lain. Kumohon tahanlah amarahmu.” Pram mengekori Kharon sambil terus menarik tangan khodamnya itu. Ia berusaha menahan Kharon agar tidak mendatangi Dante untuk mencegah khodamnya itu melakukan hal yang tidak patut.
Kharon kemudian menghentikan langkahnya. Dan melepaskan tangan Pram yang mencengkeram tangannya hingga terasa sedikit perih. Perempuan itu suka membiarkan kukunya menjadi panjang dan sering mencakar tanpa sengaja.
“Pram, sudah kubilang aku hanya ingin ngobrol, bercakap-cakap. Bukankah itu hal yang wajar sebagai teman yang telah lama tidak bertemu?” Kharon memutuskan untuk lagi-lagi menyimpan prasangkanya dalam batin. Dan membiarkan Pram berpikir sesuai dengan anggapannya, menganggap Kharon sedang cemburu.
Mendengar penjelasan Kharon, Pram menjadi sedikit lega. Ia lalu hanya diam dan mengikuti khodamnya itu.
“Pram, apa yang kau lakukan? Tidakkah kau mendengar bahwa aku ingin berbicara pada Dante sebagai sesama lelaki? Apa kau sudah bosan menjadi perempuan?”
Pram menggeleng dan membiarkan Kharon berjalan sendiri. Ia hanya mengamati Kharon dan Dante dari kejauhan.
Kharon menepuk pundak Dante dan merebahkan diri di sampingnya. Membuat petugas kematian yang sedikit tertidur itu terkejut.
“Kau? Apa yang kau lakukan di sini? Mana Pram?”
“Oh, aku bisa ke sini karena ditugaskan kepala distrik Cato untuk menjemput Pram. Saldo rekening pahala yang dimiliki Pram sudah habis. Dia tidak bisa lagi membayar biaya meninggalkan Cato. Pram bahkan memiliki beberapa tunggakan yang harus dibayar. Kami para penduduk Cato tidak bisa datang dan pergi sesuka hati, semua ada hitungannya.” kata Dante menjelaskan panjang lebar, berusaha meyakinkan Kharon.
“O, begitu. Dari mana kau tahu keberadaan kami? Dan bagaimana bisa kau sampai di sini?”
“Petugas keamanan dan para intel Cato telah lama mencari Pram. Karena dia tidak ditemukan di negeri Shaman, mereka mencari Pram ke Bumi. Dan berkat bantuan dari seorang rekan, Pram bisa ditemukan. Aku berteleportasi ke sini atas bantuan petugas keamanan.”
“Apa yang kau maksud rekan itu Bemius?” petanyaan Kharon sontak membuat Dante menatap siluman harimau putih itu dengan keadaan mulut sedikit terbuka.
“Apa kau terkejut karena aku tahu semuanya?” kini Kharon menatap Dante dengan tatapan khas harimau yang menakutkan yang membuat mangsanya merasa terancam.
“Aku, aku...” Dante jelas-jelas tengah gugup.
“Aku apa?” Kharon kini memegang lengan Dante dengan sangat erat. Membuat lelaki itu sedikit meringis menahan sakit.
“Ron, apa yang kau lakukan?” suara Pram tiba-tiba terdengar.
Dante duduk masih dengan lengan yang dicengkeram Kharon. Pram lantas menyingkirkan tangan Kharon dari Dante.
“Kau bilang hanya mau ngobrol, mengapa kau melakukan hal receh begini?”
Kharon hanya diam menahan kedongkolannya pada Pram. Kharon yakin sedikit lagi lelaki itu merasa terdesak, pasti akan mengaku padanya. Bukankah Dante hanya anak-anak yang terjebak di tubuh orang dewasa. Dan anak-anak akan lebih mudah dipaksa untuk jujur.
“Apa kau baik-baik saja Dante?” Pram mengamati lengan Dante yang tampak memerah.
“Aku baik-baik saja, Pram. Kharon hanya sedang mengajakku beradu kekuatan. Dia sama sekali tidak berniat melukaiku.” kata-kata Dante hampir membuat Kharon muntah.
“Kau dengar, lelaki yang kau sakiti ini justru membelamu.” Pram memang merasa sangat kesal karena merasa Kharon telah mengingkari ucapannya. Ia lantas mengajak Dante masuk ke dalam gubuk untuk makan bersama.
Jika Dante berlalu dengan nafas lega. Kharon tetap tinggal dengan kedongkolan yang sangat besar. Ia lantas tengkurap dan melampiaskan kejengkelannya dengan cara memukuli pasir di bawah tangannya. Pram yang menoleh ke arah Kharon menggeleng-gelengkan kepala karena mendapati khodamnya demikian.