After Death

After Death
Bab 129: Pengakuan Ghozie II



Malam terasa semakin kelam karena tangisan Ghozie. Ia terus terisak mengingat kejahatan yang ia lakukan pada adik yang sangat menyayanginya. Adik yang selalu menguatkannya. Adik yang selalu panik ketika ia sedang terluka. Pram yang tidak pernah gentar memarahi ayahnya demi dirinya.


"Ayah, aku mohon maafkanlah semua kesalahanku. Maafkan aku karena telah membuat putri kesayangan ayah tiada. Jika ayah ingin, aku akan mengakui semua kejahatanku pada polisi agar aku ditahan dan mempertanggungjawabkan perbuatanku. Aku sangat pantas dihukum mati karena pembunuhan berencana yang aku lakukan sungguh keji. Aku begitu menyesal untuk pembunuhan yang telah aku lakukan. Bahkan hukuman penjara pun tidak akan membuatku berhenti merasa bersalah. Pram tersayang. Pasti semua akan lebih baik jika dia ada bersama kita sekarang. Maafkan aku ayah." Ghozie menarik tangan ayahnya dan menciuminya berulangkali sambil mengingat wajah Pram.


Suwignyo tak berkata apapun. Ia hanya menangis sesenggukan, tak kalah lantang dengan tangisan Ghozie. Rumah mereka yang terpencil di pinggiran kota membuat mereka seperti tak memiliki tetangga karena jarak antarrumah yang sangat jauh. Dipisahkan oleh hamparan ladang dan lahan kosong.


"Ayah maafkan, nak." kata Suwignyo kemudian agar tangisan Ghozie bisa lekas berhenti. Ia sama sekali tidak marah pada putranya itu. Karena yang sebenarnya mesti disalahkan atas kematian Pram adalah dirinya sendiri.


"Setelah kematian Pram, hal buruk mulai menimpa keluarga kita. Ayah terkena stroke dan tidak bisa berjalan, dan Candy.... Candy...." Ghozie rasanya tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia sangat berduka untuk semua yang terjadi dan tidak kuat mengatakan soal adik pertamanya itu pada sang ayah. Ia sangat takut kalau ayahnya akan memburuk kesehatannya.


"Candy kenapa? Dimana dia sekarang? Ghozie cepat katakan pada ayah bahwa Candy baik-baik saja. Apa dia sedang pentas seni malam ini?" Suwignyo tampak begitu cemas. Dalam pembaringannya, ia terus mengeluarkan air mata.


"Tidak ayah. Candy sedang tidak baik-baik saja. Bersamaan dengan sakitnya ayah setelah kematian Pram, Candy juga sakit." Ghozie bercerita sambil mengelapi air mata dan ingus ayahnya dengan tisu, sambil sesekali mengelap miliknya sendiri.


"Candy sakit apa?" suara Suwignyo terdengar tersendat-sendat.


"Aku tidak tahu ayah. Candy sakit seperti orang yang hilang akal. Tapi bukan gila. Dia lebih mirip dengan orang yang kesurupan. Tapi tidak hanya satu atau dua makhluk astral yang merasukinya. Entah ada berapa banyak hantu yang ada di tubuh Candy, yang setiap hari keluar masuk tubuh Candy seenak mereka. Tanpa mengenal siang atau malam. Juga tak melihat hari libur. Candy bertingkah aneh dan bergonta-ganti. Kadang dia menangis, tertawa, menjerit, berteriak-teriak, marah-marah tidak jelas, kadang bertingkah seperti harimau meraung-raung, kadang melompat-lompat seperti monyet, kadang mendesis seperti ular, kadang ingin melukai diri sendiri, kadang seperti ingin membunuhku. Aku berusaha mengendalikannya dengan memeluknya erat. Namun jika sudah tak kuat, aku selalu memberikannya suntikan bius. Dia bisa menjadi sangat berbahaya saat kesurupan, ayah.'" Ghozie terisak kembali mengingat nasib adiknya yang malang.


Suwignyo pun menangis sejadi-jadinya hingga sedikit sesak. Lantas Ghozie mengambilkan segelas air putih untuknya. Suwignyo begitu nelangsa karena mengingat segala tingkah buruknya pada Ghozie, sedangkan di saat yang sama anak laki-lakinya itu sangat kerepotan menjaga adiknya. Juga mengurus dirinya yang tidak berguna. Suwignyo tidak bisa membayangkan betapa sulit dan melelahkannya hari-hari yang dilalui Ghozie. Merawat dirinya, Candy, masih harus bekerja, membersihkan rumah, dan melakukan tugas-tugas lainnya yang biasa dikerjakan asisten rumah tangga. Dan untuk semua jirih payahnya itu bukan penghargaan atau pujian yang Ghozie dapatkan, justru sebaliknya, umpatan, hinaan, cacian, bentakan, bahkan pukulan darinya.


Suwignyo selalu marah saat menjumpai Ghozie tertidur di sofa ruang tengah masih dengan baju kerja lengkap dengan dasi di pagi hari. Bukan hanya marah, ia juga kerap melemparkan seember air pada putranya itu hingga Ghozie kuyup dan terbangun dengan nafas tersengal. Padahal mungkin saat itu Ghozie baru saja bisa memejamkan mata, baru saja mulai beristirahat, baru saja membaringkan tubuhnya. Namun, anak itu tak pernah berkata apapun selain maaf.


Yang membuat Suwignyo semakin terharu adalah, Ghozie selalu menunjukkan padanya bahwa Candy sedang baik-baik saja. Suwignyo selalu mendapati Candy sedang tertidur pulas atau sedang duduk serius menghadap meja belajar. Ia sama sekali tak tahu bahwa putrinya itu sedang tidak baik-baik saja. Dan Suwignyo menemukan jawaban atas tingkah Ghozie yang terkadang begitu aneh karena menghalang-halanginya untuk menemui Candy. Mungkin saat itu Candy sedang kesurupan dan tidak terkendali. Dan yang ia lakukan, lagi-lagi menempeleng kepala Ghozie. Suwignyo sama sekali tak mengira bahwa rasa cinta kasih Ghozie begitu besar kepadanya, hingga anaknya itu lebih memilih sakit dan terluka ketimbang melihat ayahnya sedih.


"Di hari yang sama dengan ayah muntah darah, waktu masih pagi sebelum aku berangkat ke kantor, aku begitu bahagia karena setelah sekian lama Candy memanggilku ayah. Dia menyebut namaku. Aku merasa begitu senang dan optimis bahwa suatu saat Candy akan sembuh. Tapi, aku tak menyangka sore setiba aku dari kantor, Candy sudah tiada. Ia pergi meninggalkan kita selamanya ayah. Itu sebabnya dia tidak pernah menjenguk ayah di rumah sakit, tidak merayakan kepulangan kita, dan juga tidak ada di antara kita saat ini." Ghozie mencoba mengontrol emosinya dan menyibukkan diri untuk membersihkan wajah ayahnya.


Suwignyo begitu terpukul hingga dadanya terasa sesak. Ia sama sekali tak mengira bahwa kedua putrinya akan meninggal dunia mendahului kematiannya.


"Iya ayah, kita besok nyekar ke makam Candy sekaligus ke makam Pram." Ghozie mencoba tersenyum. Ia kembali membantu ayahnya untuk minum.


"Ghozie, bukankah itu artinya pemakaman Candy dilakukan saat kita masih berada di rumah sakit? Lalu siapa yang melaksanakan prosesi pemakaman Candy?" kata Suwignyo heran.


"Dokter Hermawan, ayah. Beliau dengan baik hati mau membantuku. Saat itu ayah dalam kondisi sadar namun kritis. Dokter Hermawan memintaku untuk segera membawa ayah ke rumah sakit. Lalu aku sangat bingung karena di saat yang sama mayat Candy juga harus segera dikebumikan. Mayat Candy sungguh mengenaskan ayah. Kondisinya sudah membusuk dan dimakan belatung. Baru sehari ia meninggal tapi sudah seperti mayat usia seminggu lebih. Baunya sungguh menyengat. Aku bersyukur karena Dokter Hermawan bersedia membantu dan juga bersedia merahasiakan kondisi mayat Candy. Kemarin saat aku ke rumah beliau untuk mengucapkan terima kasih secara langsung, dokter Hermawan begitu senang sebab tahu bahwa ayah sudah membaik dan akan segera diizinkan pulang." Ghozie tersenyum manis. Ingatannya menerawang jauh mengingat wajah dokter Hermawan yang selalu tersenyum.


"Beliau memang orang yang baik dan tulus." Suwignyo berusaha keras menyembunyikan kepedihannya saat tahu mayat Candy telah membusuk dan dimakan belatung. Semua ini karena salahku,benar Suwignyo


"Apa ayah masih kuat mendengar ceritaku,?" kata Ghozie sambil mengelus rambut ayahnya.


"Iya, nak. Lanjutkan. Ceritakan semuanya pada ayah. Semua beban yang selama ini kau pikul sendiri." kata Suwignyo masih dengan air mata yang terus merembes.


"Ayah, entah bagaimana kesialan menimpa keluarga kita secara bertubi-tubi. Di hari pertama saat ayah masuk IGD rumah sakit, aku mendapat kabar bahwa terjadi penjarahan besar-besaran di kantor. Tidak menyisakan sesuatu apapun yang berharga. Semua telah diambil. Sedangkan barang yang tidak diambil juga dirusak. Aku tak mengerti mengapa ada pencuri yang demikian. Mengapa mereka merasa perlu untuk merusak barang-barang yang tidak mereka ambil? Bukankah itu sungguh ganjil dan tidak masuk akal. Itu akan membuang waktu mereka.. Dan lagi mereka juga mencelakai dua satpam kita. Lebih aneh lagi karena polisi mengabarkan bahwa tidak ada satu pun sosok yang tertangkap oleh kamera CCTV. Ketika malam itu terjadi, rekaman CCTV tampak tidak menunjukkan adanya penjarahan. CCTV yang tiba-tiba mati setelah diperiksa polisi juga tidak mengalami kerusakan. Tapi menurut keterangan Satpam yang masih ingat benar pukul berapa terjadi pencurian, pada jam yang sama di CCTV kantor tidak terjadi apa-apa. Kantor sepi seperti biasanya. Aku menduga kita mendapatkan serangan gaib dari seseorang. Mungkin dari pesaing usaha."


Leher Suwignyo seperti tercekik. Detak jantungnya begitu cepat. Namun, ia berusaha menutupi semuanya. Suwignyo yakin bahwa semua yang menimpa keluarganya adalah karena ulah Bemius, yang sebetulnya disebabkan oleh ulahnya sendiri sebagai seorang ayah yang tidak bejus menjaga keluarga. Dirinya yang begitu gegabah dan egois.


"Ayah, rumah dan segala aset yang kita miliki telah amblas untuk membayar ini itu terkait kantor. Juga untuk biaya perawatan kita selama di rumah sakit. Tapi aku senang, di balik semua peristiwa yang menimpa kita, kita masih punya cukup uang untuk membeli rumah ini dan masih ada tabungan setidaknya cukup sampai aku mendapatkan pekerjaan lagi. Maafkan aku ayah, aku tidak bisa menjaga perusahaan kita. Aku tidak dapat mempertahankan hasil perjuangan ayah membangun perusahaan." Ghozie tertunduk malu dan penuh rasa bersalah.


"Tidak apa-apa Ghozie. Ayah tahu kau telah berusaha sekuat yang kau bisa. Tapi memang keadaannya begitu sulit sehingga tidak mungkin mempertahankan perusahaan. Itu adalah langkah bijak, nak. Kau tidak egois." Suwignyo tersenyum.


Dalam pengujung malam itu Ghozie memeluk ayahnya erat sambil mengucapkan terima kasih pada ayahnya untuk semuanya, juga terima kasih karena masih bertahan di sampingnya dan dengan lapang dada memaafkan semua kesalahnnya.


Namun, Suwignyo, berbeda dengan Ghozie yang merasa lebih lega setelah bercerita, yang dirasakan lelaki bertubuh kekar itu justru sebaliknya. Kini batinnya sedang sangat tertekan oleh perasaan bersalah yang mendalam. Rasa-rasanya ia juga ingin menyampaikan pengakuan atas apa yang telah terjadi.


Tapi Suwignyo belum memiliki cukup keberanian. Ia takut anak lelakinya itu akan pergi meninggalkan dirinya saat tahu apa yang sebenarnya terjadi.