
Bemius meminta para pengawal untuk membopong mayat Pram dan juga Kharon ke depan kerajaan Shaman. Bemius selalu yakin bahwa ia akan menang melawan Pram. Tapi ia sama sekali tak menyangka jika bisa mengalahkan anak purnama ketujuh itu dengan begitu mudah.
“Ternyata kemampuanmu masih sangat jauh di bawah kemampuanku. Kau tak sesakti mitos yang beredar. Ha.. ha.. ha..! ! !” kata Bemius yang tertawa lebar melihat dua musuhnya telah tewas tak berdaya.
Dan kebahagiaan Bemius semakin lengkap ketika panglima menemuinya sambil membopong Raja Ramadhana yang tak sadarkan diri.
“Apa ayahku pingsan?” tanya Bemius dengan senyum kemenangan.
“Tidak Paduka, Raja Ramadhana telah meninggal.” jawab panglima sambil menurunkan mayat Raja Ramadhana di depan Bemius.
“Apa kau yang telah membunuh ayahku?” tanya Bemius dengan tatapan tajam tanpa berkedip.
“Benar Paduka. Maafkan hamba telah melenyapkan nyawa Raja Ramadhana.”
“Ha... ha... ha... Bagus, bagus. Pengawal bawa mayat ayahku ke depan istana. Kumpulkan bersama mayat dua orang lemah itu. Kita akan berpesta malam ini.” ucap Bemius yang terbahak atas keberhasilan yang dicapai.
Rencananya Bemius akan meminta juru masak kerajaan untuk membuat sup dengan daging ketiga musuhnya itu. Namun sebelumnya, Bemius akan meminta jantung Pram untuk ia makan, sebab memakan jantung orang atau jin dengan kelahiran tepat di purnama ketujuh penanggalan Shaman akan membiat kemampuan seseorang meningkat sangat pesat. Bahkan hingga bisa menjadi yang terkuat dan tak terkalahkan. Sedangkan jantung Kharon akan diberikan kepada Panglima yang telah berhasil memunuh ayahnya. Jantung siluman harimau putih bisa untuk membuat orang menjadi lebih awet muda.
“Kalau untuk jantung ayah, sesuai dengan janjiku, aku akan terus mengingat ayah dengan mengabadikan jantungnya sebagai hiasan yang akan melengkapi lukisan wajah ayah di ruang kerjaku.” kata Bemius membuat para prajurit dan pengawal yang mendengarnya merasa ngeri.
Sepanjang yang mereka tahu, sejahat apapun jin dan siluman hitam di antara mereka, tetap saja ada perasaan sayang kepada anggota keluarga, terlebih pada orang tua atau anak. Mereka merinding karena berpikir jika Raja Bemius bisa demikian tega kepada sang ayah, tentu akan lebih tega lagi kepada yang bukan siapa siapanya. Maka para pasukan Bemius pun menelan ludah, menahan takut.
Sementara itu, Philemon kini telah kembali ke Shaman setelah memastikan semua orang yang ia ungsikan ke Pulau Amsleng Sufir Matdrakab mendapatkan perawatan dengan baik. Itu sebabnya Philemon agak terlambat untuk kembali ke Shaman sebab hanya ia seorang diri yang merawat para korban kekejian Bemius, termasuk menyiapkan tempat tinggal bagi mereka.
Philemon menjadi sangat was was saat tak kunjung menemukan Raja Ramadhana di penjara goa. Selain itu, penjagaan di sana juga tak ada.
Demikian pula dengan sang panglima yang semestinya ada di dalam penjara itu. Philemon menjadi tak tenang sebab para tawanan masih memenuhi penjara yang berisi air menjijikkan itu. Ia mulai berpikir bahwa ayahnya telah kalah dalam pertempuran dan tertangkap. Dan mungkin kini sedang ditahan oleh kakaknya, Bemius.
“Tuan, apa Tuan kemari untuk menyelamatkan kami?” ucap seorang tawanan yang melihat penampilan Philemon berbeda dari para lasukan Bemius, membuat Philemon menghentikan penyelidikannya.
“Ya, apa kau melihat seorang yang wajahnya mungkin mirip denganku namun sedikit lebih tua?” tanya Philemon menanyakan ayahnya.
“Apa maksud Tuan adalah Raja Ramadhana?” tanya lelaki setengah baya itu lagi.
“Benar. Apa kau melihatnya?” Philemon balik bertanya.
“Raja Ramadhana dibawa keluar setelah kalah dalam pertempuran. Paduka raja telah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan kami.” jawab lelaki itu dengan kesedihan yang terlihat jelas di wajahnya.
“Semua akan baik baik saja. Kalian semua dengarkan aku. Bertahanlah. Kami akan kembali untuk menyelamatkan kalian.” kata Philemon lantang memberi semangat dan harapan kepada para tawanan yang masih hidup di antara mayat mayat yang mengapung dan membusuk.
Philemon bergegas pergi keluar penjara goa. Lalu menjelma menjadi seekor burung gagak. Ia juga menggunakan jurus Tabir Jasad agar tak ada jin dan siluman hitam yang mengetahui penyamarannya, walau ia tak yakin jurus itu akan mampu mengelabui mata Bemius. Maka, Philemon membuka lebar lebar matanya, waspada agar bisa langsung menjauh ketika melihat sosok Bemius.
Meskipun Bemius telah memenangkan pertarungan, dan keinginannya untuk mendapatkan jantung Raja Ramadhana telah di depan mata, ia meminta pasukannya untuk kembali bersiaga di tempat masing masing sebab Philemon belum tertangkap. Bemius tersenyum tipis mengingat adik satu satunya itu yang menghabiskan lebih dari separuh umurnya untuk bersembunyi dari Bemius.
“Sampai kapanpun pecundang tetap akan menjadi pecundang. Cepat atau lambat, kau pasti akan menampakkan diri.” kata Bemius dalam batinnya.
Bemius pun memilih untuk beristirahat di kamarnya dan tak mau pusing mencari Philemon. Bemius juga tak meminta pasukannya untuk menemukan Philemon, hanya meminta mereka untuk tetap diam berjaga di tempatnya sambil terus mengawasi sekitar kalau kalau ada sesuatu yang mencurigakan.
"Tetap siaga karena adikku pasti masih bersembunyi di sini. Tangkap dia hidup atau mati jika kalian melihatnya." kata Bemius sebelum pergi memasuki istana.
Hal itu jelas menguntungkan Philemon. Sebab orang yang paling berisiko akan mengenalinya yaitu Bemius, sedang berada di dalam istana. Philemon yang kini masih menyusuri sekeliling istana untuk mencari Raja Ramadhana pun akhirnya berhenti di depan istana ketika melihat tiga mayat berjejer di atas kain hitam.
Philemon mengernyitkan dahi dengan cemas yang semakin besar karena melihat di samping mayat ayahnya, Pram, dan Kharon terdapat seorang laki laki dengan seragam koki istana yang tengah mengasah pisau besar. Beberapa kali Philemon melihat kilauan cahaya yang muncul dari pisau ketika lelaki itu mengacungkannya untuk melihat ketajaman pisau.
"Sempurna." ucap sang koki sambil mengelus mata pisau.
Philemon semakin gelisah saat lelaki itu kini beranjak dan berjalan mendekati ketiga mayat tersebut. Laki laki itu memegang leher Kharon. Ia membuat wajah Kharon menghadap ke kiri. Dan ia mengangkat tinggi pisau besarnya yang sangat tajam. Saat pisau itu tinggal lima senti di atas leher Kharon, Philemon menyerang juru masak itu dengan mencakarinya.
“Gagak s*alan! Ini bukan makananmu. Ayo cepat pergi sana, atau aku akan memasakmu juga!” kata lelaki itu sambil mengerak gerakkan pisaunya untuk menyasar burung gagak yang mengganggunya.
Melihat tingkah juru masak tersebut, para prajurit dan pengawal yang berada di sekitar tempat kejadian tertawa terpingkal pingkal. Dan juru masak tersebut semakin geram ketika burung gagak itu membuang kotorannya di dahi sang koki.
“Kurang aj*r! Aku benar benar akan membunuhmu!” kata juru masak istana dengan kedongkolan yang tidak terbendung lagi.
Tentu saja kejadian itu membuat suara gelak tawa pasukan Bemius semakin terdengar. Mereka sangat terhibur oleh aksi Philemon yang mengganggu sang koki dan juga membuat wajah sang koki mengeluarkan darah di beberapa bagian akibat kuku pada cakar gagak.
Philemon sengaja mengulur ulur waktu supaya Pram, Kharon, dan juga Raja Ramadhana segera bangun hidup kembali sebelum jasadnya terpotong potong hendak dibuat sup.
Dan semua jin serta siluman hitam yang semula tertawa terbahak bahak langsung diam tercekat melihat Pram, Kharon, dan Raja Ramadhana hidup kembali. Mereka bahkan melongo dan setengah takut mendapati mayat bisa duduk sendiri.
Kesempatan itu dimanfaatkan Philemon untuk mengubah wujudnya kembali menjadi wujud aslinya dengan segera dan memberikan serangan jurus Sapuan Angin untuk menyerang mereka yang masih terpaku karena kaget.