
Pram tak tahu harus merespons perkataan Raja Ramadhana dengan perkataan apa. Ia lantas melihat ke arah Kharon dan Philemon secara bergantian. Kemudian menelan ludah dan kembali melihat mata sang raja. Sebetulnya Pram sendiri ragu apakah ia cukup berani untuk membunuh raja iblis itu. Mengingat para kaki tangan Bemius saja sudah begitu sakti hingga sempat membuat Kharon hampir terbunuh di Perpustakaan Gyan Bhandar.
"Aku yakin kau akan bisa mengalahkannya." kata Raja Ramadhana seolah tahu isi hati Pram. Lelaki itu kemudian memeluk Pram erat.
"Mari ayah makan dulu. Kharon sudah membuatkan sop buntut istimewa untuk ayah." ajak Philemon dengan senyum lebar.
Kharon tersenyum. Dan semua orang berjalan masuk ke dalam rumah. Pram membantu Raja Ramadhana untuk berjalan. Membuat Philemon tersenyum senang. Kharon yang memerhatikan senyum Philemon hanya diam dan menghela nafas panjang. Itu adalah senyum yamg menyimpan banyak harapan, kata Kharon dalam hati.
Semua orang menikmati hidangan yang dimasak Kharon. Namun, tentu saja kecemasan terlihat jelas di wajah Philemon walaupun ia bersikeras ingin menyembunyikannya.
"Apa kau baik baik saja Phil?" tanya Pram setelah meneguk air minum.
"Ya, aku baik baik saja, Pram." jawab Philemon sambil tersenyum.
"Pram, apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" tanya Raja Ramadhana ragu ragu sambil menata sendok dan garpu di atas piring. Pertanyaan sang raja membuat Philemon semakin gelisah.
"Tentu saja Paman. Katakanlah apa yang Paman inginkan dan aku akan memenuhinya jika memang bisa." jawab Pram tanpa ragu.
"Terima kasih Pram. Kau tahu sesungguhnya aku sangat merindukan rakyatku, Pram. Aku ingin melihat keadaan mereka. Apakah mereka baik baik saja atau bagaimana. Apa kau bisa menggunakan mata dewi pencabut nyawa untuk melihatnya? Setidaknya, agar aku menjadi lebih tenang katena telah tahu keadaan mereka di sana." kata Raja Ramadhana dengan mata yang berkaca kaca.
Pram bingung harus menjawab apa. Ia lagi lagi secara bergantian melihat ke arah Kharon dan Philemon.
"Eeeem, soal itu...." Pram belum bisa melanjutkan kalimatnya sebab Philemon terus menggeleng.
"Apa kau mau melakukannya untukku, Pram?" tanya sang raja lagi sambil menggenggam kedua tangan Pram.
"Apa Paman yakin ingin aku melakukannya?" Pram menjawab pertanyaan Raja Ramadhana dengan pertanyaan juga. Sebenarnya ia sangat berharap akan mendapat suntikan jawaban dari Kharon ataupun Philemon. Tapi kedua lelaki yang ada di dekatnya itu tidak memberikan jawaban atau isyarat.
"Sangat yakin, Pram. Aku menyayangi rakyat rakyatku dengan sepenuh hati melebihi rasa sayangku pada diri sendiri. Aku merasa sangat bersalah karena tidak bisa melakukan apa apa atas kemalangan yang menimpa mereka.
Dan aku akan merasa semakin tak berguna jika keadaan mereka saja aku tak tahu. Paman mohon Pram, tolonglah Paman untuk melihat mereka." kini Raja Ramadhana menelangkupkan kedua tangannya di depan dada dan telah berderai air mata.
Melihat hal itu tentu saja Pram tak tega untuk melakukan penolakan yang diinginkan Philemon atas permintaan ayahnya. Pram menyetujui permintaan itu dengan perasaan tak karuan. Ia pun merapalkan mantra dan melakukan gerakan seperti sebelum sebelumnya. Lalu mengucapkan apa yang ingin ia lihat. Maka, sebuah sinar langsung tersorot dari tengah dahi Pram hingga cahayanya membentur tembok.
Pemandangan yang terlihat sangat mengerikan. Shaman yang dulunya merupakan kerajaan yang bergitu berwarna dan penuh kegembiraan, kini tampak sangat gelap dan kelabu.
Dari sisi luar kerajaan saja sudah tergambar bagaimana mengerikannya keadaan. Di luar kerajaan dipenuhi oleh para jin dan siluman hitam yang berkeliaran melakukan aktivitas sehari hari. Mereka tengah sibuk membicarakan sesuatu dan tergambar jelas kalau mereka selalu tertawa lebar berulang kali.
Sekejap saja Raja Ramadhana telah memegangi dadanya karena kesedihan yang mendalam membuatnya terasa sesak. Ia yakin bahwa jin dan siluman jahat itu sedang membicarakan nasib rakyatnya yang mengenaskan.
Pram memejamkan mata untuk melihat keadaan di dalam kerajaan. Tak kalah dengan di luar, di dalam kerajaan pun penuh dengan para jin dan siluman hitam.
"Apa itu Bemius, Paman?" tanya Pram menunjuk ke arah seseorang yang tengah duduk di atas singgasana memimpin pertemuan.
"Bukan, Nak. Tidak ada Bemius di sana. Aku yakin dia ada di singgasananya sendiri di Anathemus." jawab Raja Ramadhana mantap.
"Coba kau cari penjara tempat para tawanan berada Pram." kata Raja Ramadhana dengan kegusaran yang semakin lama semakin jelas di wajahnya.
Pram pun menuruti perkataan sang raja. Ia mencoba menemukan di mana para penduduk asli ditawan. Lantas, Pram berhenti mencari ketika di tembok telah tampak pemandangan sadis, yakni para tawanan yang dipenjarakan dalam kotak kecil dengan lubang melingkar yang juga kecil di tengah, yang memaksa orang di dalamnya harus menunduk jika ingin makan atau sekadar menghirup udara luar.
Raja Ramadhana menutup mulutnya tak percaya ketika melihat para petinggi kerajaan itu makan makanan yang sudah tak layak dikonsumsi langsung dengan kepala yang menyembul keluar dari dalam seperti seekor binatang.
"Kau lihat Pram. Hanya orang biadab yang tega melakukan hal itu pada sesamanya." kata sang raja sambil menahan isakannya. Philemon mengelus pundak ayahnya untuk menguatkan.
Pram tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia sungguh tak menyangkan jika Bemius memperlakukan rakyat Shaman dengan begitu buruk. Ia dan para pengikutnya bahkan membiarkan orang yang ada di dalam penjara terlihat sangat kurus tinggal tulang dengan bibir yang sangat kering tanda kehausan. Pram tidak bisa membayangkan betapa besarnya penderitaan yang dirasakan para tawanan itu. Mereka tidur dan buang kotoran di tempat yang sama.
Belum lagi pemandangan burung gagak yang menyerbu penjara kotak itu. Pram yakin burung burung itu datang sebab mencium aroma bangkai dari dalam kotak, yang itu artinya para tawanan yang telah mati dibiarkan begitu saja tanpa ada prosesi pengurusan jenazah. Pram semakin yakin bahwa Bemius memang individu keji yang tidak pantas untuk diampuni.
"Sudah, Pram. Tolong kau hentikan penerawangan ini." pinta Philemon dengan nada memelas.
"Jangan! Tolong. Biarkan aku menyelesaikan apa yang semestinya aku ketahui." sergap Raja Ramadhana membuat Pram mengabaikan permintaan Philemon.
Kharon keluar dari dalam ruangan, berjalan menuju ke teras. Ia tidak sanggup lagi melihat penderitaan rakyat Shaman. Lagi lagi untuk kesekian kalinya Kharon merasa sangat tidak nyaman dengan kemampuan Pram dalam menguasai jurus pemanggil toh dewi pencabut nyawa. Ia menarik nafas panjang beberapa kali dan mencoba memejamkan matanya. Berharap bisa terlelap dan melupakan pemandangan mengerikan yang baru saja ia saksikan.
Sementara itu di dalam ruangan, tangisan Raja Ramadhana semakin keras ketika melihat rakyatnya yang dipenjara di dalam goa. Kondisinya tak kalah tragis. Hanya ada beberapa orang saja yang masih berhasil bertahan hidup dengan tubuh yang tampak sangat lemas.
Sementara itu, ada banyak sekali mayat rakyat Shaman yang mengambang di atas air. Dari warna air itu jelas bahwa itu bukan air bersih. Raja Ramadhana mulai berpikir bahwa keruhnya air sebab telah banyak rakyatnya yang meninggal di goa itu dan jasat mereka telah remuk redam dan menyatu dengan air. Seandainya ia tahu bahwa sebelum para rakyatnya meninggal air itu telah keruh sebab itu bukan air biasa, melainkan air beraroma nanah dan anyir, tentu ia akan semakin meratapi nasib rakyatnya.
Isakan keras belum terhenti, Raja Ramadhana dikejutkan dengan cara anak buah Bemius dalam memberikan makanan. Makanan itu dilempar begitu saja, bahkan terkesan sengaja agar para penduduk Shaman tak mampu menangkapnya, sehingga jatuh di atas air. Tapi rakyatnya yang masih inigin bertahan hidup itu pada akhirnya toh tetap memungut makanan itu dari dalam air.
Philemon berulang kali tampak memejamkan mata erat karena tak kuat dengan tayangan keadaan masyarakat Shaman. Ia sendiri belum mengetahui kondisi para tawanan di dalam tahanan karena dulu ia mendapat informasi penahanan penduduk Shaman hanya dari dialog para pengikut Bemius.
Pram juga turut menangis. Ia bahkan merasa bersalah karena telah memakan hidangan yang sangat nikmat juga beristirahat di tempat yang sangat nyaman selama ini.
Kemudian penerawangan terakhir Pram terhadap negeri Shaman adalah para generasi penerus Shaman yang berada di penjara lapang. Raja Ramadhana berulang kali mengepalkan tangan dan memukul meja di hadapannya, melihat anak anak Shaman dengan lihai mempraktikan jurus atau ilmu hitam. Ia sungguh mengutuk anaknya sendiri agar cepat mati karena telah merusak anak anak Shaman dengan membimbing mereka menjadi jin jin jahat.
"Pram, kau sudah melihat sendiri betapa pantasnya Bemius untuk dibunuh. Aku mohon padamu, jika kau tak keberatan suatu saat nanti bila sudah terjadi perang, penggallah kepalanya dan berikan padaku sebagai hadiah. Aku akan sangat berbahagia menerimanya." kata Raja Ramadhana kesal dan tersengal.
"Ayah, sudahlah." kata Phemon meminta ayahnya untuk lebih tenang.
"Maafkan aku Paman, karena aku, Paman dan kau juga Phil, telah menyaksikan kekejian yang tak beradab." Pram sungguh menyesal menambah memori ingatan dua lelaki itu dengan peristiwa kekerasan dan penyiksaan yang tidak terukur kekejamannya.
"Tak apa, Nak. Sekarang cobalah kau lihat kerajaan Anathemus. Akan aku tunjukkan padamu wajah orang yang menjadi dalang dari semua penderitaan penduduk Shaman." kata sang raja setelah meneguk beberapa air minum.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo pembaca yang budiman,,, maaf ya sedikit jarang update. Masih mayan sibuk promosi untuk novel baru saya dengan judul "Menikah karena Taruhan", mangga ya mampir sekalian ke sono, sekadar buat selingan 🥰🥰🥰